August 16, 2019

[69] Mencari Simetri: Kegamangan Seorang Wanita Saat Hendak Memasuki Usia Tiga Puluh

Judul
Mencari Simetri

Pengarang
Annisa Ihsani


Penyunting: Mery Riansyah
Penyelaras aksara: Yuliono
Desain sampul: Sukutangan
Gramedia Pustaka Utama, 240 halaman
Cetakan pertama, Agustus 2019
ISBN13 9786020629360





Menjelang usia kepala tiga, April merasa gamang dan kehilangan arah. Ia memiliki karier yang nyaman, tapi tidak bisa dibanggakan. Punya banyak teman, tapi mereka sibuk dengan keluarga masing-masing. Dekat dengan Armin, tapi tak pernah ada kejelasan. Belum lagi menghadapi keanehan Papa yang terus menerus melupakan hal sepele.

Enam tahun April terjebak dalam hubungan yang rumit dengan Armin. Entah salah satu dari mereka punya pacar, atau memang sudah terlalu nyaman berteman. April tetap tak mampu melepaskan Armin sebagai sosok pria ideal.

Saat menemani Papa melalui serangkaian tes medis, Lukman hadir. Pria itu menawarkan kehidupan yang mapan dan hubungan serius.

April berusaha mencari cara untuk menyeimbangkan hidupnya kembali. Dan cara untuk menemukan simetri hatinya. Memilih hidup bersama Lukman, atau menunggu Armin entah sampai kapan.


* * *


Pertama kali tahu Annisa Ihsani menulis novel, tentu gue ngerasa nggak sabar untuk baca. Tiga novel yang pernah terbit sebelumnya, merupakan novel remaja dan coming of age yang menyenangkan untuk dibaca. Kalo yang lain suka banget sama Teka-Teki Terakhir, gue amat suka dengan A untuk Amanda karena alasan personal.

Gue pun tambah penasaran saat Annisa Ihsani mencoba genre chicklit dengan label Metropop di Gramedia Pustaka Utama. Seperti yang kita tahu, label Metropop merupakan versi chicklit lokal dengan masalah urban yang seru dan sering terjadi pada keseharian masyarakat kota. Sebenarnya, penasaran sekaligus cemas, karena dalam tiga novel sebelumnya, Annisa Ihsani menulis dengan gaya baku. Meski demikian, gue tetap asyik aja ngebaca naskahnya dalam novel A untuk Amanda karena latar kota dibikin fiktif, jadi tetap nyambung dengan gaya penyebutan "aku" dan "kau".

Lalu... gimana tentang Mencari Simetri?


Mencari Simetri menceritakan tentang perempuan yang umurnya menjelang tiga puluh bernama April, yang ngerasa makin tersisih dengan dunianya sendiri karena teman-temannya udah sibuk dengan urusan keluarga masing-masing: suami dan juga anak. Sementara itu, April masih aja ngarepin hubungan yang berlanjut temen kantornya yang nggak peka bernama Armin.

Singkat kata, April adalah contoh bucin sejati yang bikin geleng-geleng.

Sejak pertama kali ketemu Armin, April udah suka. Sentuhan kecil dari Armin bikin gelenyar di tubuh April terbit. Dan itu udah terjadi selama enam tahun. Bahkan dalam kurun waktu tersebut, mereka udah pernah berpacaran dengan orang lain, putus, lalu sampai akhirnya masing-masing berstatus single lagi. Ada percikan-percikan dalam hubungan mereka? Hanya dari sisi April karena dia memang benar-benar bucin sejati, sementara Armin digambarkan sebagai laki-laki brengsek sejati.


Baca juga:


Plot utama dalam novel ini sebenarnya tertuju pada konflik batin April. Dia masih single. Dia masih bucin tanpa ada keinginan untuk berumah tangga kalaupun si dambaan hati nawarin. Dia punya papa yang mulai sakit-sakitan. Dia punya karier yang biasa-biasa aja padahal teman-temannya mulai menaiki tingkat karier yang lebih menanjak.

Dan sejujurnya, gue pas baca cuma sekadar berdeham dan ber-oooh aja. Dari plot, sebenarnya bisa aja eksekusinya enak ya, tapi sensasi ngebaca novel ini kayak ngedengerin cerita dari orang yang kita nggak suka soal kepahitan hidupnya. Meski terasa related dengan keseharian, karena nggak suka, jadi nggak bisa berempati.

Selain itu, yang paling gue takutin sebelum baca novel ini pun terjadi, yaitu penulis yang terbiasa menulis fiksi dengan bahasa baku. Metropop dan bahasa baku memangnya salah? Nggak sih, tapi salah sama selera gue aja. Rasanya aneh kalau berlatar kota besar Indonesia dan gue asumsikan sebagai Jakarta, ada sekelompok masyarakat yang bicaranya amat sangat baku bahkan ber-"aku dan kau". Again, jadinya kalo di bayangan gue ini kayak golongan tertentu yang bicara. Tapi ngomongin soal itu, April terkesan keturunan Jawa deh kayaknya. Fufufufu... jadi aneh ya. Belum lagi ada hint adegan April dan Armin beli rak di IKEA, Alam Sutra. Kalaupun memang bukan Jakarta dan dibikin fiktif, pasti kotanya dekat dengan Jakarta, kan? Bukan kota fiktif sub-urban kayak di novel A untuk Amanda. Tambah makin nyureng-nyureng karena pace-nya terlalu tenang. Karena biasanya novel Metropop yang gue sukai itu lincah banget dengan gaya menulis yang pace-nya cepat. Sementara dalam Mencari Simetri, gue ngerasa pace-nya lamban banget padahal nggak tebal alias cuma 240 halaman.

Dan... terasa nanggung. Kalau pengin bikin novel yang baku, kenapa masih pakai kata: gimana, donk (beneran pake K lho haha), tuh, cabe (kenapa nggak cabai sekalian?), dan sebagainya. Untuk teknis, ada kata yang sebenarnya serapan tapi kenapa masih dikursif (kayak laptop dan start, dan atau penggunaan hoaks alih-alih hoax). Terus gue penasaran... di sini apakah ada bapak yang panggilannya namanya "De"? Karena disebut "Pak De". Atau sebenarnya ala-ala bikin selingkung dari pakde?" Sejak kapan tapi?

Penyelesaian novel juga terasa antiklimaks. Sosok Lukman yang mestinya bikin cerita seru, justru keberadaannya jadi begitu aja. Kegamangan April pun bikin meh. Mungkin ini salah satu novel yang paling susat dapet empati dari gue. Rasanya pengin teriak ke April dan bilang, "Suka-suka lo!" Entahlah. Memang jenis Metropop yang nggak gue sukai. Jadi kalaupun nanti ada yang suka, nggak masalah karena selera orang beda-beda, kan?

Sebenarnya banyak yang bisa dikutip dari narasi di dalam novel ini. Tapi... yang paling nyantol adalah bagian ini:


"Di masa sekolah, kami bertemu setiap hari, jadi pertemanan kami berjalan begitu saja. Namun, pertemanan di usia dewasa itu beda lagi; seperti hubungan lain, kau harus terus membuat usaha ekstra untuk mempertahankannya." - halaman 226


Terakhir, untuk karakter... nggak ada yang gue sukai. Nggak ada yang bikin gue simpati. Yang ada bikin gue memutar bola mata dengan segala tindak tanduknya. Benar. Satu pun nggak ada. Bahkan gue nggak bisa bersimpati dengan karakter orangtua April.

Tapi seenggaknya, ada beberapa hal yang gue dapet setelah membaca novel ini:
  1. Kalau kalian masih bingung soal rumah tangga, takut menikah, atau apa pun hal yang ada nantinya padahal umur kalian udah menjelang tiga puluh, kalian nggak sendirian. Hal lumrah. Dan sosok April ditampilkan sebagai perwakilan buat kalian yang merasa begitu
  2. Jangan bucin, wahai saudaraku. Mendingan kalian deklarasiin deh perasaan kalian. Keringin tuh hati kalian setelahnya biar bisa move on. Kayak cerita di sini. Mencintai seseorang nggak salah, tapi kalo bisa cintai diri sendiri ya. Kata bucin sendiri buat gue pribadi terlalu negatif, apalagi dengan kata "budak". Jangan pernah jadi budak orang lain, baik itu tetap mengatasnamakan cinta. Gue sendiri pernah ya dalam teritori ini, tapi untungnya tersadarkan karena tiap hubungan itu mesti give and take
  3. Gue jadi cukup sadar dengan tanda-tanda penyakit Alzheimer, termasuk mengenai demensia atau pikun pada orang tua.
  4. Ternyata paus pembunuh itu nggak mau ngegedein anaknya, cuy. Janganlah kita nanti jadi orangtua yang nggak bertanggung jawab kayak mereka.

Tambahan sedikit, gue nggak suka sama kovernya... padahal yang bikin Sukutangan. Menurut gue, kelihatan jauh dari kata "pop". Saat ngeliat pertama kali, gue kira ini novel sastra. Dulu pernah terbit novel Metropop berjudul Alkisah Kasih yang secara garis besar memang "batik", tapi eksekusinya masih berasa chicklit.

Jadi, dua bintang aja buat novel keempat Annisa Ihsani ini. Gue bakalan tetap baca novel beliau selanjutnya yang bergenre remaja! Uhuy!


Baca juga:

4 comments

  1. Replies
    1. Haha sama-sama ya. Semoga reviewnya berfaedah! :))

      Delete
  2. Still penasaran sih sama novel barunya. Annisa Ihsani gitu, loh xD

    Poin yang kupelajari di sini, bikin karakter yg lovable sangat penting biar pembaca mau berempati pada masalah si karakter.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hmm... sebenarnya tokoh dalam novel ini relateable banget buat kaum urban yang "mid". Tapi udah keburu nggak nyaman dengan dialog para tokoh.

      Delete

© Omnivore Reader
Maira Gall