05 Februari 2019

[57] Mariposa: Kisah SMA yang Cinta Melulu


Untuk mencintai kamu, aku hanya butuh waktu satu detik.
Untuk mendapatkan cinta kamu? Aku butuh berapa juta detik?

Ini kisah tentang Acha, memiliki nama panjang Natasha Kay Loovi. Gadis ajaib berparas cantik seperti bidadari. Ini juga kisah tentang Iqbal. Jangan tanya nama panjangnya siapa, nanti kalian jatuh cinta. Pria berhati dingin dengan hidup monotonnya.

Bercerita tentang perjuangan Acha untuk mendapatkan cinta seorang Iqbal. Acha tak pernah gentar meruntuhkan dingin dan kokohnya tembok pertahanan hati Iqbal yang belum pernah disinggahi perempuan mana pun.

Sikap dingin dan penolakan Iqbal berkali-kali tak membuat Acha menyerah. Bagi Acha selama Iqbal masih berwujud manusia, selama Iqbal tidak berubah menjadi sapi terbang, Acha akan terus berjuang.

Siapkan hati yang mandiri untuk membaca cerita ini. Hati-hati jantung Anda, mohon selalu dijaga. Serangan baper akan terus menyerang tanpa henti. 

Kisah romantis komedi remaja yang siap memanjakan hari indah Anda semua. Jangan lupa selalu bahagia.

Dari Mariposa untuk semua pembaca tercinta. 

Mariposa, Luluk HF
Coconut Books, 496 halaman
ISBN13 9786025508615

* * *


Sebelum mulai nge-review novel ini, gue mau bilang kalo yang ada di sini adalah pendapat pribadi, hahaha. Kalo udah oke sip sama pernyataan itu, ya silakan dibaca review ala kadarnya ini.

Mariposa nyeritain tentang Acha yang tergila-gila sama Iqbal. Mau dibilang apa juga, Acha terus-terusan ngejar-ngejar Iqbal. Semua Acha lakuin buat Iqbal. Kalo kata anak zaman sekarang, tipikal bucin alias budak cinta. Gue penasaran karena beberapa orang suka banget sama novel ini, jadi nggak ada salahnya dong kepo-kepo dikit. Apalagi labelnya cetar membahana: "REKOR NOVEL DENGAN JUMLAH PEMBACA TERBANYAK" (yang tentunya di Wattpad). Eh tapi memang laku juga, soalnya sering masuk jajaran top ten  dalam kategori fiksi di berbagai toko buku.

Awal beli, gue dibuat mengernyit sama paragraf kedua novelnya yang zzz menurut gue. Segala ngomongin reseptor segala. Biar kelihatan cerdas kali, ya? Soalnya karakter di novel ini ditulis cerdas. Tapi gara-gara itu gue malah nganggurin novel ini selama dua minggu di rak.

Yak, sampai akhirnya gue baca novel ini weekend kemarin.


Buat gue, cerita novel ini muter-muter nggak ada juntrungannya. Maksudnya, arah dari cerita memang kayaknya mempertemukan ”cinta” Acha dan Iqbal. Tapi banyaaaaaak bagian nggak penting yang dituangkan. Bukan cuma banyak bagian yang menurut gue nggak penting dan nggak buat plot maju, banyak juga hal teknis yang buat mengernyit saking nggak efisiennya.

Buat karakter Acha, sebenernya bisa banget jadi tokoh yang berbeda daripada yang lain. Tipikal karakter Aru di Nagra & Aru. Bedanya, karakter di sini nggak punya kausalitas gitu, terkesan maksa memang udah dilahirin agresif. Udah gitu, si Acha ini sok imut banget. Dari awal udah ilfil karena nyebut diri sendiri pake nama. Ya nggak tahu ya kalo memang si cewek itu cantik banget (mungkin dimaafkan?), haha. Udah gitu, dia kan dibilangnya pinter... tapi kok... ya paham sih kadang cinta memang buat bego, tapi kayaknya nggak segitunya. 

Karakter Iqbal juga buat gue tepok jidat. Penulis kayaknya berusaha keras menampilkan sosok nggak peduli dia ke Acha, tapi maksssshhaaaa. Atau sebenernya gue nggak cocok sama karakter-karakter di sini karena perbedaan generasi? Hhh...

Terus sahabatnya Acha (aduh gue lupa namanya karena nggak memorable juga), yang sok-sokan nasihatin Iqbal untuk nggak nyia-nyiain Acha dengan nerima cowok yang belum "dia kenal". Itu lawaque bangetque. Sedih nggak sih lo mesti jadian cuma biar gebetan temen sadar sama tindakannya? Wakwakwak.

Selain itu, gue nggak nyaman sama narasi dan deksripsi novelnya. (Halah, bilang aja emang nggak cocok sama novel ini, oyyy...) Apalagi ada tambahan kutipan yang dikursif di akhir subbab. Niatnya biar galau kali ya. Tapi jatuhnya (@%^!&*^@#). Tapi kayaknya banyak yang suka tuh sama kutipan-kutipan manis manja ini.

Udah gitu, yakali Acha sehat terus sakit parah terus sehat bugar. Ini mau nambah kesan dramatis kayak film-film gitu? Tapi logikanya weeeey. Nggak dicek dulu? Atau memang kisah Acha dan Iqbal ini ada di dalam dunia paralel.

Terus kata sebutannya dong... pria dan gadis. Aduduh... ngerasa gimana gitu saat anak SMA dipanggil pria. Ahahaha.

Meski begitu, kalo dieksekusi dengan baik, kayaknya bisa banget novel ini jadi "menyegarkan" dan "sehat". Apalagi dengan lawak-lawak receh yang kekinian (yang anehnya gue nggak berasa lucunya hiks padahal gue tipe receh juga sama lawakan). Terus jadi inget sebuah review novel (bukan novel ini) yang nulis: Selamat ya, X, bukunya nggak ada typo. X itu nama editor. Lah, emang tugas editor ngecekin typo, ya? Secetek itu? Lol. Terus nggak nyambung sama review novel ini. Ahaha. Biarin ya lagi nggak jelas.

Menurut gue, novel ini mubazir banget. Bayangin aja, nyaris lima ratus halaman dengan cerita yang hhh... untung juga gue bacanya skimming. Spoiler dikit, udah 200-an halaman tapi antarkarakternya nggak ada kemajuan. Kalo mau baca dan suka disiksa sama cinta bertepuk sebelah tangan, memang oke bangets.

Tapi, selamat buat mbak penulisnya. Kayaknya udah nerbitin lebih dari satu buku dan laris manis tanjung kimpul. Mau difilmin juga. Semoga filmnya nggak saklek-saklek amat kayak bukunya. Terakhir, ulasan begini nggak bakal buat surut penjualan lho. Ehe ehe. Terbukti bats. ;-)



6 komentar:

  1. Lucu pak reviewnya. Saya ngakak pas bacanya :)

    BalasHapus
  2. Hmmmm baca reviewnya bikin ingat sama yang sudah mereview novel DN dulu, katanya banyak hal-hal yang mubazir yang disajikan dalam novel itu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. DN itu Dear Nathan, ya? Gue DNF sih pas baca. Tapi pengarangnya keliatan mau belajar sih (atau tergantung penerbitan?). Pas gue baca Serendipity udah waaaay betteeeerrr dibandingkan DN itu. :D

      Hapus