26.5.18

[48] Absolute Justice by Akiyoshi Rikako



Seharusnya monster itu sudah mati ....


Absolute Justice, Akiyoshi Rikako
Penerbit Haru, 268 halaman
ISBN 9786025186011


* * *



Dulu, waktu gue kuliah, gue sempat mendengar celetukan pengamen: "Jadi orang baik itu gampang, yang susah itu jadi orang benar." Sampai saat ini, gue ngerasa perkataan itu benar. Menjadi baik belum tentu benar, dan jadi benar memang belum tentu baik. Derajat "benar" juga di atas "baik". 

Ajaibnya, saat membaca novel ini, gue ngerasa harus meredefinisi "baik" dan "benar" lagi. Dari judulnya, sebenarnya kita bisa menebak-nebak tentang apa novel Akiyoshi Rikako ini yang mana sinopsisnya cuma kalimat itu doang.

Novel ini sih menceritakan tentang geng cewek waktu SMA yang terdiri atas Kazuki si bongsor yang tomboi, Yumiko si kalem, Riho si pandai, dan Reika si cantik. Tadinya mereka hanya berempat, sampai tiba-tiba ada anak baru bernama Noriko datang. Mereka berempat pun mengajak Noriko untuk bergabung dengan kelompok mereka. 

Dan ternyata Noriko ini justice-freak. Dia sempat menolong Kazuki yang dilecehkan secara seksual di bus, melapor siswa sekolah yang ketahuan ngerokok, bahkan ngaduin temen yang main surat-suratan di kelas. Mungkin terdengar wajar dan lumrah, tapi aksi Noriko ini lebih daripada itu. Empat cewek tadi pun berasumsi kalau Noriko ini pun normal-normal aja dan patut ditiru. Dari empat cewek itu, yang ngerasa paling aneh dengan Noriko sebenarnya Kazuki.

Sampai akhirnya mereka lulus SMA dan nggak pernah saling kontak lagi. Lalu beberapa tahun kemudian mereka ikut reunian. Mereka yang udah pada punya karier dan kisah masing-masing pun harus bertemu dengan Noriko. Dan semuanya makin pelik.

Dari semua karya Akiyoshi Rikako, gue paling suka sama Girls in the Dark (tapi gue belum baca Holy Mother sih yang katanya lebih cetar, nunggu mood  aja deh haha). Dan Absolute Justice ini juga jadi novel favorit gue. Meski lebih predictable, gue suka sesuatu yang berusaha penulis tuangkan dalam novel ini.

Terus, kenapa gue harus meredefinisi antara baik dan benar? Punchline-nya sih ada di kutipan ini:

Riho baru menyadari bahwa 'seratus persen benar', tanpa ada rasa toleransi dan kemanusiaan, ternyata bukanlah hal baik.

Sebaiknya kebenaran dan kebaikan memang dipakai dengan kadar yang tepat. Tapi untuk memutuskan tepat atau nggaknya, mungkin bukan kuasa kita yang bisa menentukan!

Untuk novel ini, 4 bintang! 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar