13.4.16

Pengumuman Pemenang "Time to Giveaway!"

Saya benar-benar nggak menyangka yang ikut kuis bisa mencapai 41 orang. Benar-benar melebihi ekspektasi saya! Terlebih lagi, banyak banget yang komentarnya mengenai perenungan menjadi favorit saya. Dan yang teratas, ada enam orang. Lalu karena saya cuma punya dua paket novel, maka harus ada dua saja... Saat memilih lagi, akhirnya memutuskan dua orang ini yang paling membuat saya ikut berpikir ulang akan tahun-tahun yang sudah saya lewati.




Pemenang Paket Buku I 
(Cinta Akhir Pekan, Pojok Lavender, dan Just The Three of Us)
Hana Fathimah (@hanafathimah)

"Apa yang selalu kurenungkan saat bertambah usia?"


Sejujurnya, bakal lebih mudah menjawabu pertanyaan berupa, "Apa yang selalu kamu sesali?" atau "Apa yang selalu kamu takuti?'



Karena bagiku, merenungkan bertambahnya usia membawaku pada ketakutan dan penyesalan.


Aku merenungkan apa yang telah kulakukan, apa yang telah orang-orang lakukan padaku, apa yang terjadi selama bertahun-tahun lalu. Man, I was so happy. Aku masih ingat pernah mendapat kado waktu SD atau waktu aku mentraktir teman-temanku waktu SMA. Those were happy moments for me and my friends. Lalu aku merenungkan kenapa happy times itu rasa-rasanya kian kemari kian menurun?



Apa yang salah? Apa yang sudah dan belum kulakukan?

Merenungkan soal apa yang kulakukan.. Ah, lagi-lagi itu bukan renungan yang menyenangkan. Aku harus jujur pada diriku sendiri bahwa banyak yang belum kulakukan, banyak yang seharusnya tidak kulakukan tapi kulakukan. Berapa kali aku mengecewakan orang lain dan diriku sendiri. Beberapa kali target-target yang ditulis dan ditempel di dinding kamar itu terlupa begitu saja. 



See? Merenungkan usia yang sudah berlalu sangat membuatku... menyesal.

Dan itu tidak berhenti di situ. Aku juga akan dipaksa merenungkan masa datang. Seketika aku dihinggapi ketakutan. Mulai dari ketakutan-ketakutan kecil semacam, "Bagaimana kalau keponakanku, fans-ku satu-satunya, mulai sadar bahwa tante kebanggaannya ini ternyata tak sekeren yang ia kira?", "Bagaimana kalau aku harus meninggalkan dunia ini tanpa pernah benar-benar membuat orang lain bangga?", "Bagaimana kalau selamanya aku akan terus mengecewakan orangtuaku?", dan masih banyak bagaimana yang lain.



Tak ada habisnya. 



Aku tentu harus tetap menyingsingkan lengan baju dan menghadapi apa pun yang bakal datang padaku nanti. Dan biarlah renungan-renungan itu, meski semuanya terkesan negatif, menjadi panduanku untuk tidak kembali salah mengambil langkah.

Karena dari yang aku tahu, tak jarang badai hidup itu datang begitu saja memorak-porandakan rencana hidup bahagia yang kau damba. 



Pemenang Paket Buku II 
(Persona, Circa, dan Early)
Eni Lestari (@dust_pain)



"Apa yang selalu kamu renungkan saat bertambah usia?"


Yang kurenungkan adalah… apa aku sudah bahagia? Apa yang sudah kuperbuat selama setahun belakangan? Apa aku terlalu keras pada diri sendiri? 



Ya, itu yang kurenungkan tiap bertambah usia. Kadang karena situasi, kebahagiaan yang kurasakan itu sekadar pura-pura semata, hanya agar orang lain nggak merasa cemas denganku. Semacam kebahagiaan semu, biar terlihat “sama” seperti orang lain. Nah, aku nggak mau seperti itu. Aku pengin kebahagiaan yang kurasakan bener-bener bahagia yang tulus dari dalam hati.

Aku juga mengevaluasi apa saja yang kulakukan selama setahun belakangan. Apa sudah sesuai ekspetasi, ada penurunan atau peningkatan? Bertambah usia berarti umurku makin pendek. Karena itu, aku harus memotivasi diri sendiri untuk maju ke depan. Nggak ada yang tahu sampai kapan aku hidup, jadi aku nggak mau menyesal sebelum melakukan hal-hal yang kusukai.

Terlalu keras pada diri sendiri. Yah, mungkin karena aku punya trauma yang nggak bisa kuceritakan di sini, ada beberapa hal yang sukar kuterima. Kadang aku memaksa diri sendiri untuk menerimanya, yang hasilnya membuatku nggak nyaman dan merasa seperti tercekik. Padahal bukan begitu caranya. Seharusnya aku berdamai dengan traumaku itu. Dan syukurlah, aku sudah cukup dewasa untuk bisa mengatasinya. Itu tahun-tahun yang sulit bagiku, tapi sekarang nggak lagi. Saat aku berulang tahun, aku bisa ngomong sama diri sendiri kalau aku sudah seutuhnya menjadi manusia, tanpa perlu merasa rendah dengan orang lain.


Selamat untuk yang beruntung. Dan yang belum beruntung, masih bisa ikutan giveaway novel "A untuk Amanda". Untuk dua pemenang, harap kirimkan e-mail berisi nama lengkap, alamat lengkap (dengan kode pos), juga nomor ponsel ke tsaki.daruchi@gmail.com! :)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar