9.1.16

[35] In The Bag by Kate Klise





Dua orangtua tunggal mengira mereka terlalu sibuk untuk kencan. Dua remaja tidak berhenti bertukar email rahasia.




WEBB
Aku mengambil tas yang keliru di bandara. Dad tidak akan berhenti mengomeliku.



ANDREW

Aku tidak bisa berhenti memikirkan perempuan yang duduk di 6B pada penerbangan ke Paris.



COCO

Kenapa sih Mom menyuruhku membawa pakaian dalamku yang paling jelek? Dan sekarang tasku hilang!



DAISY

Aku tidak punya waktu untuk memikirkan si 13C yang menyelipkan pesan ke tasku. Lebih baik kuatasi soal hilangnya tas anakku sebelum liburan kami berantakan.



Jatuh cinta, kadang kala, memang begitu mudah dan penuh risiko seperti tertukar bagasi pada penerbangan internasional.



In The Bag, Kate Klise

376 halaman, Gramedia Pustaka Utama
Cetakan Pertama, Oktober 2013
ISBN 9789792299731


* * * *


In The Bag menceritakan tentang dua orang yang tertukar tas, Webb dan Coco, dan mengakibatkan liburan mereka berantakan. Oh, bukan liburan. Webb diajak ayahnya ke Madrid yang mana ada suatu pekerjaan menanti. Coco diajak ibunya yang harus bersantai karena media yang memborbardir kariernya sebagai chef.

Novel ini dikemas dengan gaya penulisan yang begitu santai, tak melupakan detail. Saya suka gaya penulisan seperti ini. Dengan sudut pandang orang pertama dengan empat karakter. Ya, bagaimana karakter Webb, Coco, Andrew, dan Daisy.

Apa yang saya sukai dari novel ini?

Pertama, sekali lagi, gaya bahasanya. Ringan, buat rileks saat membaca. Terjemahannya pun bagus, padanan yang diterjemahkan pun pas dipakai dalam bahasa Indonesia. 

Kedua, penggunaan sudut pandang orang pertama yang lincah. Penggunaan sudut pandang ini membantu saya, sebagai pembaca, memahami tiap karakter yang ada. Dengan penggunaan ini, keempat karakter yang ada memang terlihat berbeda. Mereka memiliki gaya dan pemikiran masing-masing. Lucunya, ada kesalahpahaman pemikiran dari tiap karakter yang membuat saya terkekeh. Love it!

Ketiga, detail lanskap yang tidak terlalu diperhatikan. Kenapa saya menyukainya? Karena penulis memang tidak terlalu fokus kepada detail deskripsi tempat. Jadi, entah mengapa, pemaparan deskripsinya berkelindan dengan sendirinya di otak saya dengan membaca tingkah empat karakter ini. Pembaca diberikan ruang untuk berimajinasi sendiri.

Keempat, saya suka apa yang penulis tulis di akhir. Juga, pesan yang ingin disampaikan penulis. We have to speak up. Jangan suka memendam perasaan terlalu sering... Dan lewat In The Bag, pesan itu tersampaikan dengan baik.

Lalu, bagaimana dengan kekurangannya?

Saya rasa, saya membaca In The Bag seperti mendengarkan musik jaz. Santai dan buat rileks. Kecuali, mungkin teknisnya yang sebenarnya banyak typo samar. Misalnya, penulisan "email" yang seharusnya "e-mail" (tanpa digarisbawahi); penulisan "lagipula" seharusnya "lagi pula", dan sebagainya. Atau mungkin karena ini dicetak tahun 2013? Entahlah. Yang jelas meski banyak, tidak terlalu mengganggu keasyikan saya membaca.

Sungguh, saya merekomendasikan novel ini untuk dibaca saat santai. 


No comments:

Post a Comment