1.7.16

[41] The Architecture of Love by Ika Natassa


New York mungkin berada di urutan teratas daftar kota yang paling banyak dijadikan setting cerita atau film. Di beberapa film Hollywood, mulai dari Nora Ephron's You've Got Mail hingga Martin Scorsese's Taxi Driver, New York bahkan bukan sekadar setting namun tampil sebagai "karakter" yang menghidupkan cerita.


Ke kota itulah Raia, seorang penulis, mengejar inspirasi setelah sekian lama tidak mampu menggoreskan satu kalimat pun.


17.4.16

Pemenang Giveaway "A untuk Amanda"



Lagi-lagi jawaban yang diberikan peserta giveaway "A untuk Amanda" melebihi ekspektasi saya. Dari 36 peserta yang ikut, akhirnya saya memilih satu pemenang (padahal saya kepinginnya ada enam pemenang). Saya memilih jawaban dari pemenang ini karena ringkas, padat, dan jelas.

Jadi, selamat untuk...

15.4.16

[40] We Were Liars - E. Lockhart





Keluarga yang menawan dan disegani. 
Pulau pribadi. 
Gadis cerdas yang risau; pemuda politis yang penuh semangat. 
Empat sahabat—Para Pembohong—dengan pertemanan 
yang kemudian menjadi destruktif. 
Kecelakaan. Rahasia. 
Kebohongan demi kebohongan. 
Cinta sejati. 

Kebenaran.



Para Pembohong merupakan novel suspense modern 

Dan jika ada yang bertanya bagaimana akhir cerita ini, 


karya E. Lockhart, finalis National Book Award dan 
penerima Printz Award. 
Bacalah.
JANGAN BERITAHUKAN.




We Were Liars (Para Pembohong), E. Lockhart
Gramedia Pustaka Utama, 296 halaman
Cetakan I, April 2016



* * * *


Sebenarnya saya sudah membaca versi bahasa Inggrisnya, tapi kepincut dengan kover terjemahan yang jauh lebih bagus! Benar, kan? Kover terjemahannya ini memikat banget. Salut buat ilustratornya!

Maka dari itu, saya akhirnya dihadiahi novel ini. Dan saya dengan senang hati membaca ulang. Sama sekali nggak menyesal kok karena terjemahannya bagus!

13.4.16

Pengumuman Pemenang "Time to Giveaway!"

Saya benar-benar nggak menyangka yang ikut kuis bisa mencapai 41 orang. Benar-benar melebihi ekspektasi saya! Terlebih lagi, banyak banget yang komentarnya mengenai perenungan menjadi favorit saya. Dan yang teratas, ada enam orang. Lalu karena saya cuma punya dua paket novel, maka harus ada dua saja... Saat memilih lagi, akhirnya memutuskan dua orang ini yang paling membuat saya ikut berpikir ulang akan tahun-tahun yang sudah saya lewati.


10.4.16

[39] A untuk Amanda by Annisa Ihsani (Blog Tour and Giveaway)




Amanda punya satu masalah kecil: dia yakin bahwa dia tidak sepandai kesan yang ditampilkannya. Rapor yang semua berisi nilai A, dia yakini karena keberuntungan berpihak padanya. Tampaknya para guru hanya menanyakan pertanyaan yang kebetulan dia tahu jawabannya.

Namun tentunya, tidak mungkin ada orang yang bisa beruntung setiap saat, kan?


Setelah dipikir-pikir, sepertinya itu bukan masalah kecil. Apalagi mengingat hidupnya diisi dengan serangkaian perjanjian psikoterapi. Ketika pulang dengan resep antidepresan, Amanda tahu masalahnya lebih pelik daripada yang siap diakuinya.


Di tengah kerumitan dengan pacar, keluarga, dan sekolahnya, Amanda harus menerima bahwa dia tidak bisa mendapatkan nilai A untuk segalanya.



A untuk Amanda, Annisa Ihsani
Gramedia Pustaka Utama, 264 halaman
ISBN 9786020326313
Cetakan Pertama, Maret 2016


* * *


Saat editor novel ini menanyakan saya untuk menjadi salah satu host blog tour novel A untuk Amanda, saya tak perlu berpikir panjang lagi... Saya langsung mengiakan karena memang sudah tergoda dengan tulisan Annisa Ihsani sejak novel debutnya, Teka Teki Terakhir.

Dari judul dan sinopsis di kover belakang, tentu bisa menyimpulkan premis novel ini. Tentang Amanda yang tidak memercayai kesempurnaan akan nilai yang selalu dia dapatkan. Ya, berawal dari

9.4.16

Time to Giveaway!

Halo!


Dalam rangka mau tambah tua, saya mengadakan giveaway secara cuma-cuma lho! Hadiah giveaway berupa dua paket novel untuk dua pemenang!





6.2.16

[38] Kepada Gema by Diego Christian



Di tengah menghadapi jam kerja tak berperasaan dan menjalani hubungan jarak jauh dengan Jesse, kekasihnya yang kuliah di Belanda, Atisha harus mencari jalan keluar dari mimpi-mimpi buruk yang selalu membuatnya terbangun di tengah malam. Mimpi buruk yang terus membawanya pulang ke kenangan-kenangan pahit.

Seolah semuanya itu belum cukup, Gema, pemuda yang pernah Atisha cintai, tiba-tiba muncul di kantornya sebagai pembawa acara baru. Kehadiran Gema mengingatkannya pada kebahagiaan sekaligus patah hati yang hingga kini masih terasa pahit, juga pada masa lalu yang dulu menjadi penyebab Gema meninggalkannya. 

Gema berusaha memasuki kehidupannya kembali. Tapi Atisha berjanji takkan mengkhianati Jesse, juga takkan mengizinkan Gema menyakiti hatinya lagi. 

Namun, bagaimana ketika hubungannya dengan Jesse mulai mengalami masalah? Bagaimana jika Gema membukakan sebuah fakta menyakitkan tentang kekasihnya itu? Dan bagaimana jika… berdamai dengan masa lalu adalah satu-satunya jalan keluar untuk Atisha?



Kepada Gema, Diego Christian
Gramedia Pustaka Utama, 250 halaman
ISBN 9786020325231
Cetakan Pertama, Februari 2016



* * *


Saya termasuk orang yang mengikuti perkembangan tulisan Diego Christian. Mulai dari Percaya, Travel in Love, Thy Will be Done, dan ini adalah karya terbarunya yang berjudul Kepada Gema. Sebelumnya, saya sempat tahu bahwa karya ini sempat memiliki judul The Saddest Book on Earth dan Kepada Gema-Gema di Udara. Judul Kepada Gema rasanya memang lebih cocok, jadi selamat untuk judul novel yang tepat ini.

Novel ini menceritakan tentang Atisha yang memiliki kekasih bernama Jesse yang sedang berkuliah S2 di Belanda. Tokoh Atisha sempat muncul di novel Thy Will be Done. Dengan latar dunia pertelevisian, latar karier Atisha dan teman-temannya terasa begitu pekat sehingga mudah memahami apa saja pekerjaan Atisha. Setidaknya, saya yang awam dalam dunia tersebut tahu bagaimana ruwetnya dunia itu. Dan Diego pandai melakukan sisipan karier tersebut tanpa berlebihan. Rasanya pas.

Untuk cerita, sebenarnya novel Kepada Gema memiliki alur cerita yang cepat. Penggalan-penggalan babnya juga termasuk pendek dan mudah dibaca. Bahasa yang Diego gunakan juga enak dibaca karena, seperti yang Diego pernah katakan, menggunakan bahasa WAYS. Tetapi, entah kenapa saya lebih menyukai Thy Will be Done daripada novel ini.

Kepada Gema ditulis dengan baik, memang. Tapi saya merasakan penulis "kedodoran" dengan premis yang digunakan. Banyak sekali subkonflik yang dihadirkan tapi hanya sekadar ditulis. Saya agak menyayangkan karena sebenarnya novel ini berpotensi lebih. Penyakit yang diderita perempuan penggila Pocky itu pun kurang digali, jadi saya hanya merasa konflik tersebut hanya tempelan. Apalagi masa lalu Atisha yang diceritakan hanya sambil lalu. Yang paling disayangkan, dan semoga hanya saya pribadi yang merasakannya, saya tidak bisa attach dengan Atisha. Bagaimana ia menunggu dan tergila-gila pada Jesse. Bagaimana ia merasa dilematis terhadap hadirnya seorang Gema. Dan, yah, saya harus mengakui bahwa saya merasa karakternya sangat kurang gimmick.

Secara keseluruhan, Kepada Gema memiliki plot baik, dengan gaya bercerita yang cukup baik. Hanya disayangkan penulis kurang mengeksplorasi perasaan dan rasanya (bagi saya pribadi) kurang melakukan riset dalam mental illness. Jadi, berbeda dengan Thy Will be Done yang saya berikan bintang 3.5 (dan dibulatkan menjadi empat), novel ini mengalami penurunan. Semoga Diego tetap semangat untuk belajar menulis lebih baik lagi.

Ditunggu novel kelimanya, Diego.

19.1.16

[37] Mission D'Amour by Francisca Todi





Kehidupan Tara Asten sebagai asisten pribadi Putri Viola—Putri Mahkota Kerajaan Alerva yang supersibuk—selalu penuh tantangan. Namun, Tara tidak pernah menyangka Badan Intelijen Alerva (BIA) akan menjadikannya tersangka utama dalam rencana penyerangan keluarga kerajaan. Dia dimasukkan ke masa percobaan tiga bulan, pekerjaannya terancam tamat!


BIA menugaskan salah satu agen rahasianya, Bastian von Staudt, alias Sebastian Marschall, untuk menyamar menjadi calon pengganti Tara dan menyelidiki wanita itu. Tapi di tengah perjalanan misinya, dia malah jatuh hati pada kepribadian lugu Tara. Bukannya mencari kesalahan Tara, Sebastian malah beberapa kali menolongnya.


Tara yang awalnya membenci pria itu, mulai bimbang dengan perasaannya. Sebastian pun mulai kesulitan mempertahankan penyamarannya.

Tapi, itu sebelum Sebastian mendengar percakapan mencurigakan Tara di telepon. Yang membawa Sebastian pada dua pilihan sulit: misi atau hatinya.

Mission D'Amour, Francisca Todi
368 halaman, Gramedia Pustaka Utama
Cetakan Pertama, Januari 2016
ISBN 9786020324876


* * * *


Tara merupakan wanita yang gemar membuat kue. Tapi karena suatu hal, ia harus menjadi asisten pribadi Putri Viola. Bukannya tidak menyenangkan, Putri Viola begitu menyukai Tara karena wanita itu begitu cekatan dalam bekerja.

Karena suatu hal, sahabatnya datang saat Tara sedang menata pesta untuk Kerajaan Alerva. Sahabatnya membawa kue untuk merayakan hari ulang tahun Tara, meski perayaan itu sebenarnya telat. Tara yang jarang mendapat perhatian, tentu saja terharu karena sahabatnya begitu perhatian. Tapi saat menyalakan lilin, sesuatu meledak! Hal itu pula yang menyebabkan Tara harus menjadi tersangka utama peristiwa itu. Meskipun Putri Viola tidak percaya kalau Tara sengaja melakukannya, tetap saja pihak kerajaan merasa waswas dengan kehadiran Tara.

Pekerjaan Tara Asten sebagai asisten pribadi pun terancam. Akhirnya, akan ada seorang yang menggantikan posisinya, yaitu Bastian. Pertemuannya dengan Bastian sebenarnya bukan pada saat di kerajaan, melainkan saat ia menghadiri pasar malam.

Mission D'Amor merupakan novel pertama Francisca Todi yang saya baca. Meskipun termasuk tebal, gaya bahasa yang mengalir membuat saya betah berlama-lama membaca novel ini. Sungguh kejutan, karena saya cukup menyukai novel ini. Dan sudut pandang Tara dan Bastian, saya dapat merasakan perasaan mereka. Pengarangnya juga cukup mahir mengisahkan love-hate relationship antara Tara dan Bastian. Meski begitu, saya agak menyayangkan penceritaan dari sisi Bastian yang agak kurang maskulin.

Latar novel ini merupakan kerajaan fiktif, yaitu Kerajaan Alerva. Tapi, saya tidak dibuat bingung dengan deskripsinya. Gaya bahasa lancar membuat saya benar-benar menikmati novel ini.

Meskipun di sampul tertera lini Metropop, saya merasa Mission D'Amor seharusnya berada di lini Amore Gramedia Pustaka Utama. Bukan karena ada "amor" di judul, tetapi memang gaya bahasa yang lebih mendayu dan lebih cocok di sana. Tapi, mungkin editornya punya pertimbangan lain.

Saya sangat menantikan novel Francisca Todi selanjutnya. Good work!

10.1.16

[36] Hujan by Tere Liye



Tentang persahabatan
Tentang cinta
Tentang melupakan
Tentang perpisahan
Tentang hujan

Hujan, Tere Liye
320 halaman, Gramedia Pustaka Utama
Cetakan Pertama, Januari 2016
ISBN 9786020324784


* * * *


Siapa yang tak tahu siapa Tere Liye? Penulis berbakat yang karyanya selalu ditunggu banyak pembaca. Atau marilah kita lihat sinopsis di belakang buku. Begitu ringkas. Persahabatan, cinta, melupakan, perpisahan, dan... hujan.

Ada apa gerangan tentang hujan?

Novel ini sebenarnya novel romansa dengan balutan science fiction. Hujan pun dibuka oleh keinginan Lail menghapus memorinya tentang seseorang, yang mana ia meminta bantuan Elijah. Kemudian Lail mengingat alasan kenapa ia harus menghapus memorinya tersebut, dan ia pun menceritakannya kepada Elijah.

Cerita dimulai saat Lail ingin berangkat sekolah, di tahun 2042, saat breaking news tentang krisis air begitu mengkhawatirkan penduduk bumi. Lail, yang kala itu masih kecil, belum mengerti. Sampai akhirnya bencana itu terjadi. Bencana yang membuatnya jadi anak yatim piatu.

Dan saat itulah ia bertemu Esok, pemuda baik yang menjadi sosok kakak untuk Lail. Lail dan Esok adalah anak-anak berbakat yang memiliki keterampilan.

Tere Liye mengisahkan kisah ini dengan begitu menyenangkan. Saya diajak berimajinasi tentang bumi di masa depan. Saya diajak bertualang bersama Lail dan Maryam, sahabat Lail dengan rambut kribo, dalam melewati tes. Saya ikut khawatir dengan hujan yang berbahaya. Saya ikut cemas memikirkan nasib Lail dan Esok. Saya ikut waswas dengan akhir cerita pasangan ini.

Ya, novel ini amat sangat saya rekomendasikan. Di sini, menurut saya, Tere Liye begitu menjelaskan perbedaan antara laki-laki dan perempuan dalam menata hati. Dan yang paling membuat saya ikut tenggelam dalam cerita ini adalah saat menuju akhir cerita. Syukurlah, saya begitu lega saat menamatkan novel ini.

Hujan sangat layak dibaca. Novel ini mengajarkan kita bagaimana harus berjuang. Bagaimana seharusnya manusia bersikap untuk terus melangkah, menghargai persahabatan, menghargai cinta, dan yang paling penting... bagaimana manusia seharusnya memiliki keikhlasan.

Mungkin sama seperti Lail, hujan memiliki melankoli atau kenangan tersendiri bagi kita.

9.1.16

[35] In The Bag by Kate Klise





Dua orangtua tunggal mengira mereka terlalu sibuk untuk kencan. Dua remaja tidak berhenti bertukar email rahasia.




WEBB
Aku mengambil tas yang keliru di bandara. Dad tidak akan berhenti mengomeliku.



ANDREW

Aku tidak bisa berhenti memikirkan perempuan yang duduk di 6B pada penerbangan ke Paris.



COCO

Kenapa sih Mom menyuruhku membawa pakaian dalamku yang paling jelek? Dan sekarang tasku hilang!



DAISY

Aku tidak punya waktu untuk memikirkan si 13C yang menyelipkan pesan ke tasku. Lebih baik kuatasi soal hilangnya tas anakku sebelum liburan kami berantakan.



Jatuh cinta, kadang kala, memang begitu mudah dan penuh risiko seperti tertukar bagasi pada penerbangan internasional.



In The Bag, Kate Klise

376 halaman, Gramedia Pustaka Utama
Cetakan Pertama, Oktober 2013
ISBN 9789792299731


* * * *


In The Bag menceritakan tentang dua orang yang tertukar tas, Webb dan Coco, dan mengakibatkan liburan mereka berantakan. Oh, bukan liburan. Webb diajak ayahnya ke Madrid yang mana ada suatu pekerjaan menanti. Coco diajak ibunya yang harus bersantai karena media yang memborbardir kariernya sebagai chef.

Novel ini dikemas dengan gaya penulisan yang begitu santai, tak melupakan detail. Saya suka gaya penulisan seperti ini. Dengan sudut pandang orang pertama dengan empat karakter. Ya, bagaimana karakter Webb, Coco, Andrew, dan Daisy.

Apa yang saya sukai dari novel ini?

Pertama, sekali lagi, gaya bahasanya. Ringan, buat rileks saat membaca. Terjemahannya pun bagus, padanan yang diterjemahkan pun pas dipakai dalam bahasa Indonesia. 

Kedua, penggunaan sudut pandang orang pertama yang lincah. Penggunaan sudut pandang ini membantu saya, sebagai pembaca, memahami tiap karakter yang ada. Dengan penggunaan ini, keempat karakter yang ada memang terlihat berbeda. Mereka memiliki gaya dan pemikiran masing-masing. Lucunya, ada kesalahpahaman pemikiran dari tiap karakter yang membuat saya terkekeh. Love it!

Ketiga, detail lanskap yang tidak terlalu diperhatikan. Kenapa saya menyukainya? Karena penulis memang tidak terlalu fokus kepada detail deskripsi tempat. Jadi, entah mengapa, pemaparan deskripsinya berkelindan dengan sendirinya di otak saya dengan membaca tingkah empat karakter ini. Pembaca diberikan ruang untuk berimajinasi sendiri.

Keempat, saya suka apa yang penulis tulis di akhir. Juga, pesan yang ingin disampaikan penulis. We have to speak up. Jangan suka memendam perasaan terlalu sering... Dan lewat In The Bag, pesan itu tersampaikan dengan baik.

Lalu, bagaimana dengan kekurangannya?

Saya rasa, saya membaca In The Bag seperti mendengarkan musik jaz. Santai dan buat rileks. Kecuali, mungkin teknisnya yang sebenarnya banyak typo samar. Misalnya, penulisan "email" yang seharusnya "e-mail" (tanpa digarisbawahi); penulisan "lagipula" seharusnya "lagi pula", dan sebagainya. Atau mungkin karena ini dicetak tahun 2013? Entahlah. Yang jelas meski banyak, tidak terlalu mengganggu keasyikan saya membaca.

Sungguh, saya merekomendasikan novel ini untuk dibaca saat santai. 


4.1.16

[34] Stuck in Love by Stephanie Zen





Enzo
Aku senang melihatnya tertawa, atau merengut kesal ketika kugoda. Aku senang mendengarnya bercerita. She's the best friend ever!

Alleira
Aku senang menghabiskan waktu bersamanya. Akan selalu kuingat setiap detik jika dia ada.

Ben
Bagiku, yang terpenting Alleira bahagia. Selama dia bahagia, aku akan baik-baik saja. 

-----------

Terancam kehilangan pekerjaan telah membawa Alleira Barata bertemu Benjamin Chua. Alleira tidak pernah tahu, bahwa saat pekerjaan di kantor barunya itu dimulai, babak baru dalam kehidupannya juga dimulai.

Terjepit di antara cinta – yang kemungkinan besar bertepuk sebelah tangan – pada sahabatnya sendiri dan perhatian-perhatian kecil yang perlahan ditawarkan Ben, membuat hidup Alleira sungguh kompleks.

Alleira jarang memikirkan, manakah hal-hal dalam di dalam hidupnya yang sungguh berarti, sampai suatu ketika ia dihadapkan pada sebuah keputusan besar yang harus diambil: memilih untuk mencintai, atau dicintai.

Stuck in Love, Stephanie Zen
312 halaman, Gramedia Pustaka Utama
Cetakan Pertama, Desember 2015
ISBN 9786020323503


* * * *


Alleira tidak ingin meninggalkan Enzo, sahabat yang sudah mencuri hatinya. Tetapi, Visa S Pass yang Alleira miliki akan hangus karena ia dihadapi kenyataan bahwa perusahaan tempat ia bekerja memberikan opsi: memecatnya atau membiarkan Alleira mengundurkan diri. Dua opsi tersebut tentu saja berakibat sama: Alleira tidak punya pekerjaan. Meski dalam hati kecilnya, gadis itu memang tahu pekerjaan accounting bukanlah passion-nya.

Alleira sempat galau karena S Pass yang dimilikinya akan benar-benar hangus. Tapi ternyata gadis itu beruntung. Ia ditawari pekerjaan di We Connect. Ternyata, direktur perusahaan itu, Benjamin Chua, memang sudah lama ingin merekrut Alleira. 

Di We Connect, Alleira benar-benar merasa beruntung. Selain pekerjaan yang sesuai dengan passion, bosnya terkenal genius dan cakap bekerja. Ben selalu ada saat Alleira butuh bantuan. Perhatian-perhatian kecil dari Ben seperti perpanjangan tangan Tuhan untuk Alleira. Namun, meski karier Alleira bagus, tetap saja ia tidak bisa memastikan hubungannya dengan Enzo.

Enzo tidak pernah memberikan klu hubungan mereka, akankah dibawa ke ikatan resmi? Alleira tahu, Enzo memiliki magnet bagi para gadis. Tetapi, dari sikapnya yang baik kepada Alleira, bukankah lumrah Alleira ingin memastikan eksistensinya terhadap pemuda itu? Lalu, bagaimana jadinya jika ternyata, direktur We Connect sekaligus bos Alleira menaruh hati kepada gadis itu?

Stuck in Love ditulis dengan begitu mengalir. Mengedepankan premis "lebih baik dicintai atau mencintai?", novel ini diramu dengan apik dengan latar pekerjaan yang begitu terasa. 

Gaya penulisan Stephanie Zen di novel ini begitu lincah, seperti biasa. Percakapannya terkadang dicampur bahasa Inggris, tetapi tidak terkesan dipaksakan, mengingat Singapura menggunakan bahasa Inggris (atau singlish?). Karakter-karakter yang ada dalam novel ini juga membumi, terasa dekat dengan keseharian kita. Omong-omong, karakter favorit saya di novel ini adalah Alleira.

Dan yang paling menonjol dari novel ini adalah bagaimana Stephanie Zen menjabarkan detail tentang karier di Singapura. Setidaknya, saya yang cukup awam bisa mengerti. Pemaparan tersebut ditulis dengan baik dan tidak berlebihan.

Untuk teknis, sebenarnya saya menemukan beberapa inkonsistensi, seperti penulisan mug yang dimiringkan dan yang tidak. Kenapa tidak sekalian ditulis "mok" saja? Dan ada beberapa hal teknis yang saya catat. Meski demikian, sama sekali tidak menganggu saat saya membaca karena alur ceritanya bagus.

Meskipun Stuck in Love merupakan kisah "to good to be true", saya rasa novel ini sangat layak dibaca. 








2.1.16

[33] Love in Prague by Riheam





Yudith adalah seorang quiz hunter yang sering memenangkan hadiah, mulai dari merchandises, sampai nonton konser musik gratis di luar negeri. Pada liburan semester, ia memenangkan kuis yang menawarkan kesempatan untuk menghabiskan seminggu waktunya di kota indah yang romantis, Prague. Sayangnya ia harus pergi bersama seorang pemenang lain bernama Kiandra yang sangat dibencinya. Bagaimana jadinya liburan itu? Apakah akan seburuk yang dibayangkannya? Lalu bagaimana dengan cinta yang ditemukannya di sana? Dan bagaimana janjinya untuk tidak berpacaran sampai ia keliling ke sepuluh negara di dunia?

Riheam lahir oada tahun 1985 di Jakarta. Selain sebagai seorang novelis, Riheam adalah seorang script writer.

Love in Prague, Riheam
376 halaman, Terrant Books
Cetakan Pertama, 2004
ISBN 9799780616


* * * *


Love in Prague menceritakan tentang Yudith yang memiliki keberuntungan besar. Awalnya, ia iseng mengikuti kuis berhadiah payung, tapi selanjutnya, ia memenangkan beberapa hadiah yang lebih besar lagi seperti marchendises, bahkan sempat memenangkan kulkas. Ia sering kali mendapat hadiah nonton konser di berbagai negara. Sebenarnya, bukan konsernya yang ia ingin datangi, melainkan negara tujuan konser tersebut. Sebut saja Tokyo dan Singapura. Ia lebih tertarik dengan uang saku dan jalan-jalan!

Sampai suatu ketika ia mengikuti kuis berhadiah jalan-jalan ke Praha! Seperti dugaannya sebagai quiz hunter, ia sudah ditelepon lebih dulu oleh pihak penyelenggara kuis bahwa ia pemenangnya. Tapi yang tak disangka, Kiandra juga ikut turut serta dalam jalan-jalan ke Praha. Lalu, bagaimana acara jalan-jalan Yudith di Praha? Akankah menyenangkan meski ada Kiandra?

Membaca novel ini, mengingatkan saya pada cerita-cerita teenlit ketika booming. Renyah, segar, dan seru! Sinopsis di belakang buku benar-benar mengecoh saya. Awalnya saya kira Kiandra adalah teman perempuan Yudith, tapi ternyata itu nama lengkap Arkie, cowok yang dibilang cool oleh teman-teman kampus Yudith.

Dan seperti yang saya tuliskan tadi, gaya menulis Riheam memang renyah, segar, dan seru. Meski begitu, banyak sekali bagian-bagian yang terlalu panjang dan tidak penting. Seharusnya naskah Love in Prague ini bisa lebih ramping lagi, tidak setebal ini.

Karakter-karakter yang ada, mulai dari Yudith, Arkie, Mya, Sitta, Demas, dan yang lainnya, cukup seru. Tapi rasanya agak kurang pas ketika saya baca sekarang karena terlalu kekanakan. Mungkin lebih cocok jika usia karakter-karakter ini di-downgrade sedikit. Lebih cocok jadi anak SMA, apalagi dengan kisah cinta Yudith-Arkie yang love-hate relationship. 

Selain itu, deskripsi di novel ini juga cukup baik, meski seharusnya dibuat lebih smooth lagi. Bacaan ringan yang cocok dibaca di waktu senggang.

1.1.16

[32] Cinta Akhir Pekan by Dadan Erlangga




Arlin yakin ia telah diperkosa!

Setelah menginvestigasi dan menginterogasi keempat teman prianya yang menginap dan berpesta di suatu akhir pekan, semua punya alibi yang meyakinkan bahwa mereka bukan pelakunya. Lalu, siapa?

Dunia dan masa depan Arlin runtuh dalam semalam. Ia bahkan sempat memutuskan akan mengakhiri hidupnya karena tak sanggup menanggung aib dan malu.

Ketika akhirnya salah seorang mengaku sebagai pelakunya dan bersedia bertanggung jawab, Arlin tak serta-merta percaya. Arlin mengenal pria itu sejak di bangku SMP, dan dia terlalu baik untuk melakukan hal sebejat itu.

Ironisnya, Arlin harus menerima pernikahannya agar benih yang ia kandung tidak dicap sebagai anak haram. Arlin bertekad melampiaskan kemarahannya dan menjadikan pernikahan mereka sebagai neraka bagi pria itu. Hingga sebuah rahasia tersibak, membuat Arlin percaya bahwa cinta yang tulus benar-benar ada...

Cinta Akhir Pekan, Dadan Erlangga
344 halaman, Gramedia Pustaka Utama
Cetakan Pertama, November 2015
ISBN 9786020322988


* * * *


Sebuah debut yang cukup baik dari Dadan Erlangga. Awal tahu nama Dadan adalah dari Wattpad, meskipun saya tidak membaca tulisan-tulisannya. Sampai akhirnya penulis lolos dalam seleksi Gramedia Writing Project Batch 2. Selanjutnya, terbit Cinta Akhir Pekan dengan label Amore dari Gramedia Pustaka Utama.

Novel ini mengisahkan tentang Arlin yang begitu yakin dirinya diperkosa. Liburan akhir pekan yang tadinya hendak dijadikan untuk bersenang-senang bersama Dita dan empat teman prianya, berubah petaka. Ia begitu yakin karena saat terjaga, ia sudah berbeda, apalagi bagian bawah tubuhnya begitu tidak nyaman. Ia hanya bisa terdiam, sampai Dita datang menanyakan keadaannya. Awalnya, tentu Arlin malu berterus terang, tapi akhirnya ia bercerita pada sahabatnya, Dita.  Arlin yakin, salah satu dari empat teman prianya-lah yang memerkosanya. Tetapi, keempat teman pria Arlin memiliki alibi masing-masing, sehingga Arlin sulit mengetahui siapa pelaku pemerkosaan tersebut.

Belum sampai di situ, Arlin harus mendapati dirinya hamil! Lambat laun hal ini terendus oleh ibunya, membuat Arlin terpojok dengan desakan siapa yang berbuat hal itu pada Arlin. Tetapi, sekonyong-konyong, seseorang mengaku sebagai pelakunya. Lantas, benarkah pria itu memang pelaku pemerkosaan Arlin? Baca langsung untuk tahu sendiri kisah Arlin!

Novel ini adalah novel debut dari Dadan Erlangga. Salut! Debut yang begitu menjanjikan, apalagi dengan desain sampul yang begitu cantik (beberapa teman bilang sampul novel Cinta Akhir Pekan begitu comot-able).

Cinta Akhir Pekan ditulis dengan begitu rapi oleh Dadan Erlangga. Satu demi satu kepingan cerita dijalin dengan baik. Satu per satu fakta terkuak, dengan twist yang tak henti-hentinya disodorkan. Kausalitas cerita pemerkosaan Arlin pun ditulis dengan baik dan dapat dipahami dengan baik. Beberapa pesan moral juga mengindikasikan bahwa novel ini bukan sekadar novel romansa yang dangkal.

Untuk teknis, banyak sekali typo. Tapi rasanya hal itu mengindikasikan agar novel ini segera dicetak ulang... (amiiin)

Sungguh debut yang baik! Ditunggu novel selanjutnya, Dadun!


[31] Me Before You by Jojo Moyes




Lou Clark tahu banyak hal. Dia tahu berapa langkah jarak antara halte bus dan rumahnya. Dia tahu dia suka sekali bekerja di kedai kopi The Buttered Bun, dan dia tahu mungkin dia tidak begitu mencintai pacarnya, Patrick.

Tetapi Lou tidak tahu bahwa dia akan kehilangan pekerjaannya, dan peristiwa apa saja yang akan menyusul kemudian.


Setelah mengalami kecelakaan, Will Traynor tahu dia sudah tidak berminat lagi untuk melanjutkan hidupnya. Dunianya kini menyusut dan tak ada lagi suka cita. Dan dia tahu betul, bagaimana mesti menghentikannya.

Namun Will tidak tahu bahwa sebantar lagi Lou akan masuk ke dunianya dengan membawa warna-warni ceria. Mereka berdua sama-sama tidak menyadari, betapa mereka akan membawa perubahan besar ke dalam kehidupan satu sama lain.

Me Before You - Sebelum Mengenalmu
Jojo Moyes
656 halaman, Gramedia Pustaka Utama
Cetakan Pertama, Mei 2013
ISBN 9789792295771


* * * * *


Novel dengan desain sampul biru ini benar-benar menyenangkan sekali dibaca. Diawali oleh tutupnya kedai kopi The Buttered Bun, tempat Louisa Clark bekerja. Tidak punya alternatif lain dan didesak kebutuhan keuangan keluarganya, Lou mencoba melamar menjadi perawat. Awalnya Lou mengira akan merawat orang tua, bahkan ia sempat mengolok-olok pekerjaan untuk "mengelap bokong" orang tua. Tapi ternyata ia salah. Ia harus menemui Will yang mengidap quadriplegia C5/6. Yah, awalnya memang amat sangat menakutkan menjadi perawat Will karena pria itu sama sekali tidak menginginkan keberadaannya. Tapi saat satu momen, mereka akhirnya saling mengisi.

Cerita yang sungguh indah. Saya begitu menikmati jalinan cerita yang ditulis Jojo Moyes dengan perlahan. Detail perasaan yang digambarkan juga cukup apik, membuat saya ikut merasakan perasaan Lou. Dan sebenarnya, saya, mungkin juga para pembaca lain, sudah dengan mudah akan dibawa ke mana cerita Me Before You ini. Tetapi gaya menulis Jojo Moyes membuat saya betah berlama-lama menyaksikan interaksi Lou dan Will.

Lantas, bagaimana dengan karakternya?

Saya suka dengan karakter Lou. Bagaimana lingkungan kehidupannya yang kecil membuatnya terkungkung. Bayangkan saja, ia sudah cukup bahagia hanya sekadar bekerja di kedai kopi The Buttered Bun. Orangtuanya juga hanya mengandalkan pesangon Lou yang tak seberapa darinya, saat ia masih bekerja di kedai kopi tersebut. Dalam lingkungan keluarga seperti itu, tentu saja Lou tidak bisa menatap sesuatu yang "lebih tinggi lagi". Saya, terus terang, kagum dengan karakter Lou, yang untungnya di akhir cerita lebih "bebas".

Saya juga suka karakter Will. Awalnya memang diceritakan begitu dingin dan sinis. Tapi lama-kelamaan, toh cair juga dengan sikap Lou. Saya sendiri tidak membayangkan, bagaimana rasanya di umur 33 tahun, ketika semua seolah berjalan baik-baik saja, ia ditabrak motor, sehingga menderita cedera quadriplegia C5/6. Karakter Will lambat laun menjadi sangat manis.

Selebihnya, saya juga suka karakter seperti Nathan, Camillia Traynor... pokoknya semuanya. Karakter yang ada di sini bukan sekadar tempelan belaka. Semuanya memiliki porsi. Yah, pemakaian PoV 1 memang dari sudut pandang Louisa. Tapi, sesekali, ada sisipan dari sudut pandang orang lain seperti Camillia Traynor, Steven Traynor, Nathan, dan Katrina. Penambahan sudut pandang (meski sedikit) ini tidak menganggu, malah membantu saya memahami perasaan mereka yang dekat dengan Will (kecuali Katrina, adik Lou).

Dua jempol untuk penerjemah dan editornya, karena "rasa" novel ini tetap dapat menggelitik benak saya, merasakan kehangatan keluarga Lou, juga love-hate relationship dari Lou dan Will. Juara!

Secara teknis, terdapat beberapa typo, seperti tulisan mug yang tidak dimiringkan (atau jika mengambil padanan Indonesia-nya, ditulis "mok"). Kalau mau disamaratakan tidak dimiringkan, sayangnya di awal ada yang dimiringkan. Tapi tentu saja masalah teknis seperti ini tidak terlalu mengganggu saya saat membaca. Karena apa? Karena memang terjemahannya bagus sekali.

Empat bintang utuh untuk cerita menakjubkan seperti ini.