12.7.15

[28] Critical Eleven by Ika Natassa


Critical Eleven
Ika Natassa
Gramedia Pustaka Utama, 344 halaman
Limited Edition, Juli 2015


Dalam dunia penerbangan, dikenal istilah critical eleven, sebelas menit paling kritis di dalam pesawat—tiga menit setelah take off dan delapan menit sebelum landing—
karena secara statistik delapan puluh persen kecelakaan pesawat umumnya 
terjadi dalam rentang waktu sebelas menit itu.
It's when the aircraft is most vulnerable to any danger.

In a way, it's kinda the same with meeting people. Tiga menit pertama kritis sifatnya karena saat itulah kesan pertama terbentuk, lalu ada delapan menit sebelum berpisah—delapan menit ketika senyum, tindak tanduk, dan ekspresi wajah orang tersebut jelas bercerita apakah itu akan jadi awal sesuatu ataukah justru menjadi perpisahan.

Ale dan Anya pertama kali bertemu dalam penerbangan Jakarta-Sydney. 
Tiga menit pertama Anya terpikat, tujuh jam berikutnya mereka duduk bersebelahan dan saling mengenal lewat percakapan serta tawa, 
dan delapan menit sebelum berpisah Ale yakin dia menginginkan Anya.

Kini, lima tahun setelah perkenalan itu, Ale dan Anya dihadapkan pada satu tragedi besar yang membuat mereka mempertanyakan pilihan-pilihan yang mereka ambil, termasuk keputusan pada sebelas menit paling penting dalam pertemuan pertama mereka.

Diceritakan bergantian dari sudut pandang Ale dan Anya, 
setiap babnya merupakan kepingan puzzle yang membuat kita jatuh cinta atau benci kepada karakter-karakternya, atau justru keduanya.



***


Mungkin resensi ini menampilkan blurb untuk menelaah kisah apa yang disajikan oleh Critical Eleven ini. Tapi, saya sendiri tidak membaca sinopsis sama sekali. Hanya berbekal ingatan akan cerita pendek berjudul sama pada Autumn Once More saja.

Awalnya, saya juga tidak terlalu berharap mendapatkan limited edition novel ini. Iseng aja, teman juga titip. Konfirmasinya juga sehari sebelum novel ini sampai di rumah. Dan sekadar peringatan, resensi ini mungkin saja berisikan spoiler.

Lalu saya pun mulai membuka halaman kisah seorang manager consultant bernama Tanya Laetitia Baskoro ini… Cantik dan cerdas. Kenapa saya bisa mengatakan Anya—panggilan Tanya—ini cerdas? Tentu dari bagaimana ia bertutur. Bagaimana cara Anya menceritakan kehidupannya, penganalogiannya… tidak bisa dimungkiri kalau Anya memang cerdas. Dan si cantik cerdas ini bertemu dengan seorang potreleum engineer bernama Aldebaran Risjad—Ale. Pertemuan sejenak di pesawat terbang yang membuahkan percakapan hangat yang berujung pada frekuensi pertemuan yang menjadi semilir bagi mereka berdua.

Hal yang saya syukuri karena tidak membaca sinopsis adalah… saya tidak berekspektasi apa-apa. Memang, saya sudah membaca novel-novel Ika Natassa sebelumnya (kecuali Twivortiare 2), dan saya memang suka. Dan di novel ini, saya bisa katakan adalah karya terbaiknya—tentu menurut selera pribadi saja. Saya diberikan hal-hal tak terduga, yang bisa dikatakan sebagai twist kecil. Menyenangkan sekali membacanya. Selain itu, novel ini juga sangat “padat”, tidak bertele-tele.

Rumah tangga. Bagaimanapun juga, pasti ada saja percikan api, kan? Ada saja kendala yang membuat sepasang suami-istri bertengkar. Mungkin alasan Anya dan Ale bertengkar bisa dibilang biasa—dalam artian biasa ditemukan dalam banyak rumah tangga.

Bahkan awalnya saya menyayangkan sikap Anya yang begitu egois. Begitu kekanakan. Tetapi pada akhirnya saya mengerti, saya paham. Bahwa kata-kata adalah pedang yang begitu tajam, yang bisa membuat luka di hati. Saya tahu bahwa bagaimanapun juga, Anya juga manusia. Yeah, yeah. Saya tahu itu.

Awalnya saya bersimpati pada Ale. Rasanya begitu besar yang ia berikan untuk Anya meskipun istinya tak pernah merespons. Tapi… saya juga menyalahkan mulut bodohnya itu. Tapi perjuangan yang dilakukannya membuat saya paham bahwa untuk membenahi suatu masalah memang haruslah dengan tindakan.

Critical Eleven adalah novel padat nan cerdas yang juga bisa membuat perasaanmu sesak dan hangat dalam waktu bersamaan. Rasanya saya mengikuti kisah Anya dan Ale saat pendekatan, saat memulai pernikahan, bagaimana Anya memanggil Ale dickhead, bagaimana mereka suka “berperang” dengan memo “nakal” di setiap sudut, dan semuanya. Meskipun sarat flashback, Ika Natassa mampu meramunya dengan sangat baik. Eksekusinya jempolan. Satu hal lagi, banyak sekali kalimat quotable di novel ini.

Selain itu, hebatnya—untuk saya pribadi—Ika Natassa bisa menampilkan sudut pandang Ale sebagai laki-laki utuh. Well, saya rasa Ale begitu maskulin meskipun menurut beberapa orang tokohnya begitu TGTBT. Tapi rasanya tidak juga. Toh ada kelemahan yang juga dimiliknya.

Lulusan teknik dan manajemen. Mungkin itu yang membuat beberapa orang bilang novel ini “menjual mimpi”. Opini saya berkata lain. Novel ini justru menceritakan bahwa di setiap kehidupan yang “tampak” bahagia, selalu ada lubang hitam. Tergantung bagaimana menampilkannya pada dunia luar.

Dan saya baru sadar bahwa tidak ada label “Metropop” di sampul novel ini. Tapi saya tetap memasukkannya sebagai kategori tersebut…


Secara keseluruhan saya suka sekali dengan novel ini. Critical Eleven deserves more than four stars. Mungkin 4.5 bintang. Tapi saya bulatkan ke atas saja. Dan dengan ini saya menanti-nantikan novel Ika Natassa selanjutnya.

No comments:

Post a Comment