21.7.15

[30] Sunset Holiday by Nina Ardianti & Mahir Pradana

Sunset Holiday
(Nina Ardianti & Mahir Pradana)



We are all strangers until we meet.”

Jatuh cinta dan bertemu denganmu tidak ada dalam rencana perjalananku. Namun, di perjalanan sejauh ini, kamulah hal terbaik yang terjadi kepadaku. Aku menebak-nebak di mana akhir senyum manismu yang menghangatkan.

Hal paling menyakitkan dari jatuh cinta adalah kehilangan setelah memilikinya. Karena itulah, aku tidak berani berharap banyak. Kita hanyalah dua orang asing di tempat asing. Akan lebih banyak risikonya jika aku memutuskan untuk jatuh cinta.

Jika aku tidak akan menjadi bagian dalam sisa perjalanan hidupmu, bisakah kamu mengingatku sebagai bagian terbaiknya? Aku tidak berani menanyakannya karena diam-diam kutahu tujuan terakhir kita ternyata tak sama.

Kita kemudian bukan lagi dua orang asing di negeri asing. Namun, mengapa sakit ketika mengingat ternyata rasa ini terasa lebih asing daripada sebelumnya?

***

Audy dan Ibi bertemu di Paris, kota yang menyimpan banyak pesona cinta. Karena impulsif, Ibi mengikuti Audy melakukan perjalanan keliling Eropa. Entah di Praha, Roma, atau Venezia, mungkin di sanalah cinta menyapa. Namun, apakah kebersamaan singkat itu berarti banyak jika sejak awal tujuan akhir mereka ternyata tak sama?

Sunset Holiday 
Nina Ardianti dan Mahir Pradana
480 halaman, Gagas Media
Cetakan Pertama, Juli 2015 
ISBN 9797808181



******


Pertama kali saya tahu novel ini bakalan terbit adalah dari salah satu teman penulis yang bilang, "Eh, Nina sama Mahir jadian lho. Terus mereka mau buat novel bareng." Saya pun tertarik. Bukan tertarik dengan kisah asmara mereka, tapi dengan novel seperti apa yang akan mereka buat. Catat, saya suka gaya witty dan ceplas-ceplos Nina Ardianti di Restart, juga suka banget dengan tulisan Mahir Pradana di Rhapsody. Mereka adalah pengarang yang kalau menulis novel, harus dibeli! By the way, novel Restart dan Rhapsody saya ditandatangani oleh mereka saat... (oke, saya lupa. Saat apa ya? Kayaknya sedang launching novel apa di TM Bookstore Depok dan yang saya ingat cuma perkataan Mbak Nina yang waktu itu menyangka saya adalah peresensi kejam di Goodreads dan dia salah orang).

Berbuah iseng menelusuri blog milik Mbak Nina, saya menemukan penggalan kisah Sunset Holiday. Langsung saya baca. Tapi saya tidak terlalu jatuh cinta karena rasanya flat. Ah, mungkin karena baru diawal. 

Dan novel ini menceritakan seorang Ibi yang merupakan jurnalis freelance yang asyiknya berada di Eropa, yang out of blue bertemu dengan Audy si impulsif yang mencoba untuk liburan sendirian. Pertemuan mereka berdua membuat saya ikut jalan-jalan di Eropa. Ah! Jadi pengin juga! Detail setting-nya menurut saya pas. Tidak berlebihan, tidak juga kurang.

Di novel ini, "rasa tulisan" dari Nina dan Mahir tidak terlalu tampak. Mungkin memang karena menyatukan dua kepala menjadi satu tulisan. Meskipun dengan PoV 1 dan masing-masing memiliki porsi, saya rasa memang tidak mudah. Saya kurang mendapat sentuhan yang "Nina banget" atau "Mahir banget", walaupun di awal ada khas gaya menulis Mahir. Eh, omong-omong, di akhir cerita, khususnya bagian Jakarta, bagi saya pribadi, kekhasan tulisan mereka muncul. Tapi disayangkan muncul di akhir saja.

Poin lebih dari novel ini, seperti yang saya utarakan sebelumnya, adalah detail yang pas. Kalau membacanya, pasti pengin ikutan Eurotrip bareng Ibi dan Audy. Dan cukup surprised dengan munculnya Syiana dan Ian! Rasanya karakter di Restart itu masih ada di kepala. Tapi ya begitu, plotnya terasa flat, tapi hal itu terobati dengan setting yang menyenangkan.

Dari segi teknis, saya tidak mau banyak omong karena tiap penerbit punya gaya selingkung yang berbeda. Tapi yang membuat saya gatal (bukan hanya di novel ini) hanya padanan kata "memicing" yang tidak tepat. Saya copy-paste dari KBBI online (artinya edisi ketiga), tapi di KBBI IV, masih sama kok artinya.


picing/pi·cing/ Mk v pejam;
berpicing/ber·pi·cing/ v memejam(kan) mata;
memicing/me·mi·cing/ v 1 memejam(kan) (mata); 2 tidur: semalam-malaman aku tidak dapat ~ mata sedikit pun;
memicingkan/me·mi·cing·kan/ v memicing;
terpicing/ter·pi·cing/ v 1 terpejam (matanya): krn lelahnya, mataku ~; 2 tertidur;
sepicing/se·pi·cing/ n terpejam sebentar; sekejap: belum tertidur ~ pun, tidak tidur sekejap pun


Secara keseluruhan, saya cukup menikmati novel ini. Segeralah menerbitkan novel solo, Mbak Nina dan Mas Mahir! :)


"Distance makes your heart grow fonder." (halaman 32)

19.7.15

[29] Above The Stars by D. Wijaya






“Kau tidak takut jatuh?” tanya Mia.

Danny menggeleng.

“Aku takut jatuh,” aku Mia dengan polos. “Kalau kau takut apa?”

Danny tidak langsung menjawab. Ia juga tidak menolakkan kaki ke tanah lagi untuk menambah kecepatan ayunan. Senyuman di wajahnya perlahan-lahan memudar. “Aku takut tidak bisa melihat selamanya.”

Menurut Danny Jameson, hidupnya tidak pernah mudah. Ia punya orangtua yang protektif, mesin tik Braille yang tidak dimiliki teman-temannya, dan semacam magnet yang menarik John Schueller untuk terus mengganggunya. Namun, yang paling buruk adalah ia punya sepasang mata biru yang tidak bisa melihat. Ketika Danny berpikir Mia Berry akan menjadi satu-satunya teman yang ia punya, Will Anderson datang dan mengubah hidupnya. Will memperlihatkan kepadanya dunia yang ingin ia lihat. Will juga membuat Danny mempertanyakan sesuatu tentang dirinya. Tapi, sebelum Danny sempat menemukan jawabannya, Will menghilang.

248 halaman
Published June 2015 by Ice Cube
ISBN: 139789799108845



***



Awal novel ini ada di Goodreads, saya penasaran. Iya, penasaran. Soalnya seri YARN bagus-bagus. Jadi, tunggu apa lagi? Lalu, beruntungnya, penulis memberikan buntelan dan saya dapat! Yeay!

Tapi dalam jangka waktu menunggu buntelan datang, saya iseng membaca resensi novel ini di Goodreads.

Iya, banyak yang bilang kalau novel ini dibilang mirip dengan film pendek berjudul The Way He Looks. Bodohnya, saya langsung cari di YouTube dan menontonnya. Dan beberapa hari kemudian, buku ini datang di rumah...

Bahkan, setelah meneliti kembali, judul asli novel ini sebelumnya The World He Looks... hem... (saya dapat dari resensi  ini) Kalau selanjutnya diedit atau dihapus, entah deh.

Nah, soal mirip-miripannya nanti dulu ya. Bahas soal novel ini dulu.

Jadi, novel ini menceritakan tentang Daniel yang tidak bisa melihat yang akhirnya bertemu dengan Will. Bagaimana Will akhirnya mengubah kehidupan Daniel yang "kalem-kalem aja" menjadi lebih "berani", in a good way.

Sampai akhirnya ada pada tiga permintaan Daniel yang berusaha wujudkan, termasuk permintaan ketiganya, yang membuat hidup mereka lebih pelik.

Yang saya suka dari novel ini adalah gaya bahasa yang digunakan penulis. Mengalir, dan memang seperti novel terjemahan. Smooth. Membacanya juga enak. 

Selain itu, karakter yang diciptakan pun kuat. Dan hal-hal itu yang membuat saya nyaman membacanya dalam sekali duduk. Eh tapi, rasanya penulis suka sekali dengan kata bokong.

Untuk minusnya sendiri, tampaknya penulis agak luput dalam melakukan riset. Soal seragam, pendidikan yang ada di setting novel ini rasanya bukan-terjemahan-banget (padahal gaya menulisnya sudah baik), ya seperti seragam. Saya belum sempat googling sih, tapi ya... begitulah.

Sedikit catatan, cerita ini bakal mudah ditebak karena pilihan lagu yang dimainkan oleh Daniel. Kenapa lagu? Cewek banget nggak sih... Eh, tapi itu pendapat pribadi saya aja. ._.

Soal typo, cukup bersih. Tapi masih ada. Tapi lupa catat. Seingat saya ada dua doang.

Sebenarnya, kalau beberapa peresensi bilang novel ini mirip dengan film pendek itu, ya memang mirip. Mesin tik, murid baru, Will yang pindahan... Tapi rasanya agak berlebihan kalau dibilang novel ini plagiat, karena dari tengah sampai akhir berbeda.

Terus, selanjutnya, saya memakai asumsi pribadi. Boleh dibantah juga. Tapi yang jelas, bagi saya agak disayangkan adalah proses "mencuri" penulis yang masih kasar. Toh memang tema dan ide itu tidak pernah baru. Dan disayangkan lagi soal perkataan Daniel pada mom-nya soal planet Pluto yang nyaris sama dengan film pendek tersebut. Saya mengatakan ini karena tahu potensi penulis *ih sotoynya mulai* Dan saya ingin menulis resensi yang jujur, D.

Dan saya agak pusing menentukan bintang yang saya harus berikan. Pada akhirnya, saya menganggap novel ini adalah novel fan fiction dari film pendek tersebut. Ya, seperti saya baca Fifty Shades of Grey yang merupakan FF dari Twilight

Semoga novel selanjutnya lebih oke lagi, D.!

12.7.15

[28] Critical Eleven by Ika Natassa


Critical Eleven
Ika Natassa
Gramedia Pustaka Utama, 344 halaman
Limited Edition, Juli 2015


Dalam dunia penerbangan, dikenal istilah critical eleven, sebelas menit paling kritis di dalam pesawat—tiga menit setelah take off dan delapan menit sebelum landing—
karena secara statistik delapan puluh persen kecelakaan pesawat umumnya 
terjadi dalam rentang waktu sebelas menit itu.
It's when the aircraft is most vulnerable to any danger.

In a way, it's kinda the same with meeting people. Tiga menit pertama kritis sifatnya karena saat itulah kesan pertama terbentuk, lalu ada delapan menit sebelum berpisah—delapan menit ketika senyum, tindak tanduk, dan ekspresi wajah orang tersebut jelas bercerita apakah itu akan jadi awal sesuatu ataukah justru menjadi perpisahan.

Ale dan Anya pertama kali bertemu dalam penerbangan Jakarta-Sydney. 
Tiga menit pertama Anya terpikat, tujuh jam berikutnya mereka duduk bersebelahan dan saling mengenal lewat percakapan serta tawa, 
dan delapan menit sebelum berpisah Ale yakin dia menginginkan Anya.

Kini, lima tahun setelah perkenalan itu, Ale dan Anya dihadapkan pada satu tragedi besar yang membuat mereka mempertanyakan pilihan-pilihan yang mereka ambil, termasuk keputusan pada sebelas menit paling penting dalam pertemuan pertama mereka.

Diceritakan bergantian dari sudut pandang Ale dan Anya, 
setiap babnya merupakan kepingan puzzle yang membuat kita jatuh cinta atau benci kepada karakter-karakternya, atau justru keduanya.



***


Mungkin resensi ini menampilkan blurb untuk menelaah kisah apa yang disajikan oleh Critical Eleven ini. Tapi, saya sendiri tidak membaca sinopsis sama sekali. Hanya berbekal ingatan akan cerita pendek berjudul sama pada Autumn Once More saja.

Awalnya, saya juga tidak terlalu berharap mendapatkan limited edition novel ini. Iseng aja, teman juga titip. Konfirmasinya juga sehari sebelum novel ini sampai di rumah. Dan sekadar peringatan, resensi ini mungkin saja berisikan spoiler.

Lalu saya pun mulai membuka halaman kisah seorang manager consultant bernama Tanya Laetitia Baskoro ini… Cantik dan cerdas. Kenapa saya bisa mengatakan Anya—panggilan Tanya—ini cerdas? Tentu dari bagaimana ia bertutur. Bagaimana cara Anya menceritakan kehidupannya, penganalogiannya… tidak bisa dimungkiri kalau Anya memang cerdas. Dan si cantik cerdas ini bertemu dengan seorang potreleum engineer bernama Aldebaran Risjad—Ale. Pertemuan sejenak di pesawat terbang yang membuahkan percakapan hangat yang berujung pada frekuensi pertemuan yang menjadi semilir bagi mereka berdua.

Hal yang saya syukuri karena tidak membaca sinopsis adalah… saya tidak berekspektasi apa-apa. Memang, saya sudah membaca novel-novel Ika Natassa sebelumnya (kecuali Twivortiare 2), dan saya memang suka. Dan di novel ini, saya bisa katakan adalah karya terbaiknya—tentu menurut selera pribadi saja. Saya diberikan hal-hal tak terduga, yang bisa dikatakan sebagai twist kecil. Menyenangkan sekali membacanya. Selain itu, novel ini juga sangat “padat”, tidak bertele-tele.

Rumah tangga. Bagaimanapun juga, pasti ada saja percikan api, kan? Ada saja kendala yang membuat sepasang suami-istri bertengkar. Mungkin alasan Anya dan Ale bertengkar bisa dibilang biasa—dalam artian biasa ditemukan dalam banyak rumah tangga.

Bahkan awalnya saya menyayangkan sikap Anya yang begitu egois. Begitu kekanakan. Tetapi pada akhirnya saya mengerti, saya paham. Bahwa kata-kata adalah pedang yang begitu tajam, yang bisa membuat luka di hati. Saya tahu bahwa bagaimanapun juga, Anya juga manusia. Yeah, yeah. Saya tahu itu.

Awalnya saya bersimpati pada Ale. Rasanya begitu besar yang ia berikan untuk Anya meskipun istinya tak pernah merespons. Tapi… saya juga menyalahkan mulut bodohnya itu. Tapi perjuangan yang dilakukannya membuat saya paham bahwa untuk membenahi suatu masalah memang haruslah dengan tindakan.

Critical Eleven adalah novel padat nan cerdas yang juga bisa membuat perasaanmu sesak dan hangat dalam waktu bersamaan. Rasanya saya mengikuti kisah Anya dan Ale saat pendekatan, saat memulai pernikahan, bagaimana Anya memanggil Ale dickhead, bagaimana mereka suka “berperang” dengan memo “nakal” di setiap sudut, dan semuanya. Meskipun sarat flashback, Ika Natassa mampu meramunya dengan sangat baik. Eksekusinya jempolan. Satu hal lagi, banyak sekali kalimat quotable di novel ini.

Selain itu, hebatnya—untuk saya pribadi—Ika Natassa bisa menampilkan sudut pandang Ale sebagai laki-laki utuh. Well, saya rasa Ale begitu maskulin meskipun menurut beberapa orang tokohnya begitu TGTBT. Tapi rasanya tidak juga. Toh ada kelemahan yang juga dimiliknya.

Lulusan teknik dan manajemen. Mungkin itu yang membuat beberapa orang bilang novel ini “menjual mimpi”. Opini saya berkata lain. Novel ini justru menceritakan bahwa di setiap kehidupan yang “tampak” bahagia, selalu ada lubang hitam. Tergantung bagaimana menampilkannya pada dunia luar.

Dan saya baru sadar bahwa tidak ada label “Metropop” di sampul novel ini. Tapi saya tetap memasukkannya sebagai kategori tersebut…


Secara keseluruhan saya suka sekali dengan novel ini. Critical Eleven deserves more than four stars. Mungkin 4.5 bintang. Tapi saya bulatkan ke atas saja. Dan dengan ini saya menanti-nantikan novel Ika Natassa selanjutnya.

5.7.15

[27] Finding Audrey by Sophie Kinsella




Audrey menderita gangguan kecemasan.
Masalah psikologis ini sampai mengganggu kehidupan sehari-hari gadis berusia 14 tahun itu. Kemajuan konsultasinya dengan Dr. Sarah pun berjalan perlahan.

Namun, ketika bertemu Linus, teman abangnya, Audrey jadi bersemangat.
Ia merasa nyambung dengan cowok itu,
bisa bercerita tentang berbagai ketakutan yang dirasakannya.

Saat persahabatan mereka semakin erat dan kesembuhannya semakin nyata, hubungan romantis yang manis terjalin di antara mereka.
Hubungan yang bukan cuma menolong Audrey tapi juga seluruh keluarganya.


Aku, Audrey (Finding Audrey), Sophie Kinsella
Juli 2015, 360 halaman


***


Seperti yang dipaparkan blurb novel ini, Audrey mengalami gangguan kecemasan yang merupakan efek bullying di sekolahnya. Alasannya selalu memakai kacamata hitam tentu bukan tanpa alasan. Audrey takut akan suatu kontak dengan seseorang.

Narasi lincah yang digunakan Sophie Kinsella membuat saya betah novel ini. Di awal cerita, dengan cepat disuguhi pertanyaan-pertanyaan yang membuat ingin lekas membalik halaman. Awalnya, saya kira penulis menggunakan PoV 1 dan bakal memfokuskan pada masalah gangguan psikologis Audrey. Tapi ternyata… di awal cerita—bahkan nyaris setengah cerita, bakal disodorkan mengenai semacam ketergantungan terhadap game yang dialami Frank, kakak laki-laki Audrey. Bagaimana Frank kecanduan game yang membuat Mum waspada.

Selanjutnya, barulah kisah Audrey dipaparkan. Di mana sebelumnya ia bertemu dengan Linus—teman main game abangnya—dan melakukan “kontak sepatu”. Dan tentu saja awal pertemuan mereka tidak semulus itu. Awalnya Audrey cemas, lari, dan bersembunyi saat bertemu Linus. Dari “kontak sepatu”, kisah mereka berujung pada romance yang cukup manis. Bagaimana Linus membantu Audrey menghadapi beberapa tantangan yang diajukan oleh Dr. Sarah. Oh, dan yang termasuk bagian favorit itu adalah tantangan Starbucks.

Yang saya suka dari novel ini, tentu saja tema yang diangkat dan bagaimana eksekusinya. Kisah keluarga, masalah psikologis, romance, dirangkum menjadi cerita yang bagus! Dan tentu saja dengan terjemahan yang enak dibaca. Salut buat penerjemah dan editornya…

Meskipun begitu, saya lebih suka kalau novel ini berfokus pada Audrey! Rasanya porsi cerita Audrey kurang, bahkan antara sub-plot “kecanduan Frank akan game yang selalu diomeli Mum” membuat plot utama novel ini agak blur. Meskipun demikian, tetap saja saya menyematkan empat bintang untuk novel ini karena memang “very liked it”. Yap, still, four solid stars.

Terus suka banget sama desain sampul novelnya. Lebih keren dari versi aslinya nggak sih? :)


By the way, suka deh GPU gerak cepat menerjemahkan novel bagus seperti ini… :D