15.6.15

[26] Dilan by Pidi Baiq








"Milea, kamu cantik, tapi aku belum mencintaimu. Enggak tahu kalau sore. Tunggu aja" (Dilan 1990)

"Milea, jangan pernah bilang ke aku ada yang menyakitimu, nanti, besoknya, orang itu akan hilang." (Dilan 1990)

"Cinta sejati adalah kenyamanan, kepercayaan, dan dukungan. Kalau kamu tidak setuju, aku tidak peduli." (Milea 1990)


Dilan, Pidi Baiq
DAR! Mizan, 323 halaman


***


Novel ini membuat saya penasaran sejak lama. Saya selalu urung membelinya karena rasanya ingin meminjam saja. Tapi minggu lalu akhirnya saya tergoda untuk membelinya.

Apa yang membuat saya penasaran? Tentu saja review dan rating Goodreads yang mengapresiasi novel ini. Juga melihat betapa novel ini laris manis di pasaran.

Dengan setting 1990, saya dibawa ke masa SMA yang ceria. Tentang Milea yang menceritakan keunikan-keunikan Dilan. Sebenarnya tingkah Dilan ini bisa digolongkan manis, bahkan saya sempat meringis geli di awal novel. Tapi lama-kelamaan… saya tidak menemukan di mana lucunya. Yeah, masalah selera aja. Lama-kelamaan, saya terganggu dengan dialog yang terlalu banyak.

Di awal juga sempat gregetan dengan mantan pacar Milea. Juga sempat tertarik dengan keadaan Milea yang masih berstatus mantan. Lalu akhirnya… ya… begitu. Saya mungkin tidak memiliki rasa humor yang baik. Payah banget saya memang. Bahkan banyak adegan yang saya skip. Saya juga merasa banyak yang “kasar” tulisannya.


Ada yang berkomentar, katanya novel ini “Bandung” banget candaannya. Jadi, apakah itu sebabnya saya tidak bisa relate dengan novel ini, ya? Tapi bagaimanapun juga, saya tetap akan membeli novel keduanya sih. Semoga aja di novel kedua saya bisa menikmatinya ya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar