18.5.15

[22] Kota Lama & Sepotong Cerita Cinta by Herdiana Hakim








Di sebuah kota lama bernama Jepara, aku belajar makna cinta yang sesungguhnya. Juga bahwa manusia tidak sempurna, dan cinta selalu memilih jalannya.


Jika hidup mengecewakanmu, apa yang akan kau lakukan? Jenny Ayu Maharani memilih melarikan diri. Sejauh mungkin. Ternyata, semesta berkata lain. Ia tidak hanya melintasi jarak, tetapi juga waktu, ke sebuah kota lama bernama Jepara.

Kala puncak karier dan kebahagiaan sudah di depan mata, Jenny mendapati dirinya terpuruk ke lubang terdalam. Segala harapannya padam.

Di tengah kekalutan itu, ia bertemu Diana Danika, pengagum Raden Ajeng Kartini yang seolah bisa membaca pikirannya. Bersama Diana, ia melarikan diri dari realitas rumit yang membelit. Namun, entah bagaimana, alunan suara ganjil melemparkan Jenny melintasi tempat dan waktu—bertemu sang Putri Jepara.

Dua perempuan berbeda masa pun seakan ditakdirkan bertemu, berbagi kisah yang tak pernah usang, tentang hidup, cinta, dan impian. Ketika masa lalu lebih indah daripada masa kini, haruskah Jenny kembali?

Kota Lama & Sepotong Cerita Cinta, Herdiana Hakim
Gagas Media, 312 halaman

***


Pertama, sebelum meresensinya, saya mau mengatakan bahwa ini pertama kalinya saya menang giveaway di Goodreads! Yeay! Rasanya senang sekali. Terima kasih juga untuk pengarangnya, Herdiana Hakim, yang mengirimnya langsung dan saya mendapat autograph copy-nya. Thank you.

Oke, kembali ke novel ini. Novel ini menceritakan tentang Jenny yang begitu dingin. Yang merasa kalah telak karena tidak bisa menjadi kepala IT di kantornya. Lalu ia bertemu dengan Diana Danika yang mengatakan bahwa sifat Jenny keras seperti Kartini. Oh, right. Kartini yang saya maksud adalah R.A. Kartini. Diana begitu mengidolakan R.A. Kartini, dan berkata bahwa sudah sepatutnya Jenny mengetahui siapa sosok tersebut.

Sebenarnya saya cukup tersindir, karena saya hanya tahu sosok beliau—Kartini—dengan lagu yang kerap dinyanyikan di SD saat itu. Pokoknya sekadar tahu bahwa ada sosok emansipasi wanita. Dan dengan membaca novel ini, saya cukup sadar bahwa seharusnya saya tidak “Jas Merah”.

Menariknya novel ini, Jenny akhirnya mengikuti sebuah tur Kartini yang pada akhirnya berujung pada perjalanan menembus waktu dan terdampar di Jepara pada tahun di mana Kartini sedang berjuang.

Awal cerita novel ini memang cenderung membosankan, tapi mulai seru ketika Jenny melintasi waktu. Tapi meskipun saya menikmati novel ini—apalagi bahasanya cukup mengalir, saya rasa ada yang kurang sreg. Ada sesuatu yang rasanya miss. Tapi tetap saja, saya menikmati novel ini dan suka bagaimana penulis menuliskan kembali sejarah Kartini sehingga saya yang awam dan tidak begitu mengenal sosok beliau jadi cukup “tercerahkan”.


Saya juga suka unsur romance di novel ini yang tidak terlalu kental. Rasanya manis. Dan saya juga suka bagaimana tiap pertanyaan di kisah ini dijawab di ending cerita. Dan untuk novel debut, it’s good. Menantikan novel-novel Herdiana Hakim selanjutnya. Dan terima kasih banyak sudah mengirimkan saya novel ini… J

2 komentar:

  1. kesasar di sini, salam kenal mba :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam kenal, Mbak Wiwik. Omong-omong, saya laki-laki... :))

      Hapus