20.5.15

[23] Lilith's Bible by Hendri Yulius





“Rangkaian kata-kata yang dituturkan Hendri mengaburkan batasan antara kenyataan dan cerita fiksi. Karya ini merangkum kejadian yang mungkin saja terjadi dan sudah terjadi, dan mengingatkan saya tentang ketidakadilan yang terus terulang. Sembari membaca, ada kepedihan dan kemarahan yang menjilati emosi saya, dan setiap ada darah pembalasan yang menetes, saya dirasuki rasa puas. Seakan Lilith membisiki telinga saya.”
- Sunny Soon, aktor "Cin(T)a dan "Demi Ucok"

Kitab ini membisikkan sebuah rahasia terbesar dalam sejarah manusia: Setelah menciptakan Adam, Tuhan tidak menciptakan Hawa. Melainkan seorang perempuan cantik bernama Lilith. Hanya saja, kedatangan Hawa tak lama setelah penciptaan mereka membuat Adam lebih memilih Hawa. Kemarahan Lilith membuatnya menjalin kasih dengan Lucifer—sang iblis—dan berkelana dari satu zaman ke zaman lain menuliskan dendam dan pembalasan para perempuan.

Pada tiap lembar kitab ini, ruap aroma darah dan semerbak wangi perempuan akan menyihir tiap-tiap mata yang menjelajahinya. Tiap-tiap kisahnya pun akan membawamu pada kegelapan pekat yang tak pernah kamu kunjungi sebelumnya. Apakah kamu sudah siap ditelanjangi dan disiksa oleh Lilith—ibu  kaum perempuan yang sesungguhnya?

“Lilith’s Bible tells us dark tales about women and their tabooed passions. A macabre series of feminist stories. Brilliant.”
- Amahl S. Azwar, The Jakarta Post

Lilith’s Bible, Hendri Yulius
Elex Media Komputindo, 212 halaman

***

Pertama, saya memang udah tertarik ketika buku ini seliweran di news feed Facebook. Judulnya juga menarik. Pas dilihat di Goodreads, baca sinopsisnya, makin penasaran. Akhirnya beberapa minggu yang lalu saya pun membelinya dengan ekspektasi sedemikian rupa.

Dan, saya sama sekali tidak kecewa. Pertama, mungkin saya bukan kuliah di sastra Indonesia (teman saya yang jurusan itu selalu bilang ada buku-buku wajib untuk masuk kelas feminisme, tapi mungkin saja kalau ada perubahan buku kanon, buku ini juga masuk), jadi tidak terlalu bisa mengerti letaknya bagaimana. Tapi, kesan akan pengarang buku ini terhadap feminisme cukup lekat. Saya sotoy sih. Tapi mungkin begitu.

Kedua, saya tertipu. Karena ditulis di sampul belakang kalau ini adalah novel, ternyata adalah kumpulan cerpen. Iya, kumpulan cerpen yang dibuat sedemikian rupa sehingga kita seolah menjadi Ayla yang membaca Lilith's Bible.

Ketiga, sebenarnya napas dari cerita-ceritanya sama. Menyerempet gotik, juga thriller yang buat ngilu. Mungkin juga akan membuat bosan karena terkesan "sama saja". Tapi, saya tetap suka. Dari awal saja saya sudah tersentak di cerita pertama, merasa tercekik dan tersekat! It's a good material for thriller!

Keempat, saya suka dengan pemilihan kata yang dibuat oleh pengarang. Rasanya pas. Kadang ditulis tetek, kadang payudara, mungkin untuk menyesuaikan cerita. Dan, bagi saya itu tepat. Tapi, agak bosan dengan kata "sintal". Karena mungkin tokoh-tokoh perempuan di sini dibuat sama rupanya.

Kelima, ada yang aneh di halaman 58.

"Lantas, kugunakan itu untuk mengikatkan sepasang kaki dan tanganmu dengan terali besi panjang. Usai itu, kutelanjangi tubuhnya hingga polos."

Abis diborgol, terus ditelanjangi. Kalo memang ditelanjanginya dengan ngerobek-robek, baru masuk akal sih. Hehehe.

Keenam, pemilihan judul di beberapa cerpen. Aduh, amat disayangkan, judulnya kadang justru menjadi spoiler twist apa yang digunakan oleh pengarang. Padahal kalau judulnya tidak seperti itu, pasti lebih nendang. Tapi, tergantung selera pembaca ya. Ini cuma masalah selera.

Ah, di luar itu semua... saya suka banget sama buku ini. Buku yang menutup tahun dengan apik.

Empat bintang bulat untuk "novel dewasa" ini! :)



Catatan: resensi dibuat pada 9 November 2013.

18.5.15

[22] Kota Lama & Sepotong Cerita Cinta by Herdiana Hakim








Di sebuah kota lama bernama Jepara, aku belajar makna cinta yang sesungguhnya. Juga bahwa manusia tidak sempurna, dan cinta selalu memilih jalannya.


Jika hidup mengecewakanmu, apa yang akan kau lakukan? Jenny Ayu Maharani memilih melarikan diri. Sejauh mungkin. Ternyata, semesta berkata lain. Ia tidak hanya melintasi jarak, tetapi juga waktu, ke sebuah kota lama bernama Jepara.

Kala puncak karier dan kebahagiaan sudah di depan mata, Jenny mendapati dirinya terpuruk ke lubang terdalam. Segala harapannya padam.

Di tengah kekalutan itu, ia bertemu Diana Danika, pengagum Raden Ajeng Kartini yang seolah bisa membaca pikirannya. Bersama Diana, ia melarikan diri dari realitas rumit yang membelit. Namun, entah bagaimana, alunan suara ganjil melemparkan Jenny melintasi tempat dan waktu—bertemu sang Putri Jepara.

Dua perempuan berbeda masa pun seakan ditakdirkan bertemu, berbagi kisah yang tak pernah usang, tentang hidup, cinta, dan impian. Ketika masa lalu lebih indah daripada masa kini, haruskah Jenny kembali?

Kota Lama & Sepotong Cerita Cinta, Herdiana Hakim
Gagas Media, 312 halaman

***


Pertama, sebelum meresensinya, saya mau mengatakan bahwa ini pertama kalinya saya menang giveaway di Goodreads! Yeay! Rasanya senang sekali. Terima kasih juga untuk pengarangnya, Herdiana Hakim, yang mengirimnya langsung dan saya mendapat autograph copy-nya. Thank you.

Oke, kembali ke novel ini. Novel ini menceritakan tentang Jenny yang begitu dingin. Yang merasa kalah telak karena tidak bisa menjadi kepala IT di kantornya. Lalu ia bertemu dengan Diana Danika yang mengatakan bahwa sifat Jenny keras seperti Kartini. Oh, right. Kartini yang saya maksud adalah R.A. Kartini. Diana begitu mengidolakan R.A. Kartini, dan berkata bahwa sudah sepatutnya Jenny mengetahui siapa sosok tersebut.

Sebenarnya saya cukup tersindir, karena saya hanya tahu sosok beliau—Kartini—dengan lagu yang kerap dinyanyikan di SD saat itu. Pokoknya sekadar tahu bahwa ada sosok emansipasi wanita. Dan dengan membaca novel ini, saya cukup sadar bahwa seharusnya saya tidak “Jas Merah”.

Menariknya novel ini, Jenny akhirnya mengikuti sebuah tur Kartini yang pada akhirnya berujung pada perjalanan menembus waktu dan terdampar di Jepara pada tahun di mana Kartini sedang berjuang.

Awal cerita novel ini memang cenderung membosankan, tapi mulai seru ketika Jenny melintasi waktu. Tapi meskipun saya menikmati novel ini—apalagi bahasanya cukup mengalir, saya rasa ada yang kurang sreg. Ada sesuatu yang rasanya miss. Tapi tetap saja, saya menikmati novel ini dan suka bagaimana penulis menuliskan kembali sejarah Kartini sehingga saya yang awam dan tidak begitu mengenal sosok beliau jadi cukup “tercerahkan”.


Saya juga suka unsur romance di novel ini yang tidak terlalu kental. Rasanya manis. Dan saya juga suka bagaimana tiap pertanyaan di kisah ini dijawab di ending cerita. Dan untuk novel debut, it’s good. Menantikan novel-novel Herdiana Hakim selanjutnya. Dan terima kasih banyak sudah mengirimkan saya novel ini… J

14.5.15

[21] The Lunch Reunion by Tria Barmawi







Banyak yang telah berubah. Mereka sekarang telah berkeluarga dan bekerja di tempat berlainan, tetapi Xixi, Keisha, Tia, dan Arimbi tetap menjadi sahabat setia. Sayangnya, Vinka menghilang entah ke mana.

Banyak yang tak terduga dalam kehidupan mereka. Yang paling ingin memiliki anak tak kunjung hamil, yang bertekad tidak mau hamil malah hamil. Xixi stres dengan peran barunya di rumah, Keisha stres dengan perubahan hormonnya, Tia cuek dengan penampilannya, dan Arimbi yang banyak diam akhirnya meledak juga. Lalu muncul Kasih Kinanti, membawa berita yang membuat Keisha semakin uring-uringan.

Persahabatan mereka kembali terancam. Setelah Vinka, akankah Keisha menjadi yang berikutnya yang meninggalkan sahabat-sahabatnya?

The Lunch Reunion, Tria Barmawi
Gramedia Pustaka Utama, 272 halaman


***


Ya, ini adalah novel lanjutan The Lunch Gossip. Masih menceritakan tentang persahabatan mereka. Jika novel sebelumnya begitu sarat dengan dunia karier yang penuh intrik, novel ini menyuguhkan cerita tentang perempuan-perempuan hebat yang mengalami kehidupan rumah tangga.

Well, novel ini menceritakan bagaimana mereka berperan sebagai istri. Juga peran mereka sebagai sahabat, peran mereka sebagai ibu rumah tangga, juga peran mereka sebagai ibu! Dan jangan lupa, peran mereka sebagai sahabat!

Meskipun novel ini lebih “ibu-ibu” banget dengan problematika yang dihadapinya, saya lebih suka novel ini. Mungkin karena novel ini ditulis dengan PoV 1 bergantian sehingga feel-nya lebih terasa.

Xixi dam Arven sedang menantikan kelahiran anak keduanya, bahkan Xixi sedang berpikir untuk mengorbankan sesuatu yang berharga demi menjadi ibu yang baik untuk anak-anaknya. Ada juga Tia yang menikah dengan Rimba dan sedang mengandung buah cinta mereka. Sedangkan Keisha yang meledak-ledak akhirnya menjadi istri seorang Paul yang menurutnya adalah Xixi versi cowok. Lalu Arimbi yang menikah dengan pria bernama Fariz. Bahkan, “sahabat mereka yang lama” juga turut meriahkan novel ini.

Banyak hal-hal tak terduga dalam kehidupan mereka. Yang paling ingin memiliki anak tak kunjung hamil, yang bertekad tidak mau hamil malah hamil. Intinya, titik berat konflik novel ini sebenarnya ada pada diri mereka masing-masing—yang nantinya juga bersinggungan. Novel ini juga menggambarkan bahwa menjadi seorang ibu adalah hal yang tidak mudah.

Novel yang bagus buat saya pribadi.


Jadi, kesimpulannya sama dengan novel The Lunch Gossip: saya penasaran dengan novel-novel Tria Barmawi.

12.5.15

[20] The Lunch Gossip by Tria Barmawi






Mereka mencari bitch... dan menemukannya dalam diri mereka masing-masing.

Xylana, Kynthia, Keisha, Vinka, dan Arimbi. Si jutek yang perfeksionis, si cantik yang lembut hati, si serampangan berlidah tajam, si ibu peri yang ramah dan ceria, dan si mungil yang rapuh. Lima orang dengan karakter berbeda terdampar di kantor yang sama. Dari makan siang bersama, mereka menjadi sahabat sejati. Ada yang menyukai mereka, ada yang membenci mereka. Satu demi satu mereka ditimpa masalah besar. Apakah ini perbuatan Kasih Kinanti, si superbitch, musuh besar mereka bersama? Atau apakah ada orang lain yang sebenarnya jadi serigala berbulu domba, musuh mereka yang sebenarnya?

The Lunch Gossip, Tria Barmawi
Gramedia Pustaka Utama, 264 halaman

***

Novel Metropop ini menceritakan lima orang yang bersahabat di kantor, dan mereka berlima memiliki karakter yang begitu berbeda.

Yeah, yeah. Rasanya udah lama tidak membaca Metropop yang menggigit seperti ini. Dalam artian, terasa banget dalam building the characters dan juga dunia karier yang memang benar-benar seperti itu—eat or be eaten.

Di awal cerita, saya tertarik dengan artikel bitch yang dibaca Keisha—dan karakternya yang paling saya suka meski keras kepala disusul oleh Xylana. Mereka mempertanyakan apakah mereka semua masuk dalam kategori bitch. Kalau Keisha sih memang dengan entengnya bilang dia bitch, tapi yang lain… kayaknya mereka harus pikir-pikir. Tapi toh akhirnya mereka berlima setuju kalau ada si superbitch: Kasih Kinanti yang bawaannya cari ribut terus sama mereka berlima. Tapi, ternyata ada yang lebih bitch daripada si superbitch itu.

Oke, cukup spoiler ceritanya. Bagi saya pribadi, kelebihan yang ada di novel The Lunch Gossip adalah karakter-karakternya yang bisa dibilang manusiawi. Jadi enak saja menikmati interaksi mereka. Oh, juga dengan karier mereka di perusahaan IT yang membuka mata saya dalam dunia pekerjaan. Hal itu terasa sekali atmosfernya. Menjadi reminder juga kalau di dunia pekerjaan mungkin masih ada orang-orang “tega” seperti itu, tapi juga ada orang yang “tulus”. Alur ceritanya sih sebenarnya tidak terlalu istimewa, bahkan mudah ditebak, tapi pengemasan cerita yang ditulis oleh Tria Barmawi termasuk apik. Dan saya menikmatinya.

Kekurangan novel ini… apa, ya? Mungkin judulnya. Jujur deh, kalau saya tidak direkomendasikan oleh teman saya untuk baca ini, saya tidak akan membacanya. Karena rasanya… “Hah? Gosip pas makan siang? Ceritanya karakternya suka gosip di makan siang doang?” Memang benar sih, tapi tidak seperti itu juga sentral ceritanya. Lebih cocok ada “bitch”-nya biar langsung menarik atensi. Soal typo, masih ada tapi saya tidak mencatatnya saking serunya novel ini. Novel ini jadi salah satu Metropop realistis yang saya favoritkan. Omong-omong, saya juga sudah baca lanjutan novel ini, The Reunion. Dan membaca dua novel Tria Barmawi ini, saya penasaran untuk membaca novel-novel beliau sebelumnya.