19.4.15

[18] Rust in Pieces by Nel Falisha







“Pantas belakangan ini pernak-pernikku hilang satu-satu. Ternyata dia pelakunya!” Sarah menunjuk-nunjuk ke arah Tiana.

Yunita memicingkan mata dan melipat lengan di depan dada. Pom-pom merah jambu tergeletak di kakinya. “Baru kemarin ikat rambut favoritku hilang.”

“Bukan gitu, aku cuma mau pin—”

Nonsense!” cetus Sarah.

Yunita menyeringai puas. “Kamu klepto, Ti.”

Usaha Tiana mempertahankan popularitas di SMP sia-sia setelah aksi mengutilnya dipergoki teman-teman di klub pemandu sorak. Tak hanya didepak dari klub, ia juga harus menerima julukan Miss K alias Miss Klepto hingga lulus sekolah. Namun Tiana tidak bisa berhenti mengutil. Ia frustrasi dan memutuskan untuk menghindar dari teman-teman lamanya dengan memilih SMA yang berbeda. Sayangnya, prediksi Tiana meleset. Masih ada Dinda yang di SMP dulu ikut memusuhinya setelah aib Tiana terbongkar. Ada Stefan yang terkenal kepo dan tahu ada yang tak beres dengan Tiana. Ada Sherry yang sering memperhatikan Tiana dari jauh. Ada Ardhan yang cuek tapi berani bicara frontal. Semua orang tampaknya mencurigai tindak-tanduk Tiana. Tiana pun sadar ada yang salah dengan dirinya. Namun Tiana tetap tak mampu mengendalikan jari-jarinya.

Rust in Pieces, Nel Falisha
Ice Cube Publisher, 2015

***

Once again I said that… I love the blurbs of YARN. Tidak menipu karena benar-benar mencerminkan isi novelnya. Dan, memang, novel ini menceritakan tentang Tiana yang klepto. Selain blurb yang bagus, saya sebenarnya mau komentar soal desain sampulnya yang kurang oke—buat selera pribadi saya—karena terkesan novel horor. Tangan-tangan di sampulnya terkesan kayak tangan hantu… hehehe.

Yang membuat saya suka dengan novel ini adalah alur cerita dan premis yang baru. Ini kayaknya pertama kalinya saya baca novel tentang tokoh utama yang punya penyakit kleptomania. In case, harus dibedakan lho klepto seperti apa dan pencuri seperti apa. Karena hal tersebut memang berbeda.

Plot dan alur ceritanya juga terjaga. Pace-nya nggak terlalu cepat, nggak terlalu lambat juga. Pas. Karakter-karakter di novel ini juga manusiawi, meski saya nggak menangkap chemistry yang solid.  And I’ll clap my hands to author karena risetnya yang oke soal mental disorder seperti ini.

Selain itu, gaya bertuturnya juga cukup enak. Tapi saya tidak terlalu “sreg” dengan karakter Tiana sendiri. Kayaknya nanggung. Tapi bisa jadi karena pengarangnya mengambil tokoh yang masih remaja, kan.

Penyelesaian novel ini juga sebenarnya oke—agak sedikit main aman. I love this novel, tapi nggak terlalu membekas. Ketika membaca ini pun ingatnya cuma novel tentang Tiana yang punya penyakit kleptomania. Just need a bit feeling, sebenarnya. Mungkin saya bisa menaikkan bintang di Goodreads karena secara plot dan karakter sudah masuk kategori yang saya suka. Tapi namanya juga novel, tidak semuanya dapat memuaskan pembaca.


Dan terus menulis, Nel Falisha! Saya tunggu novel anak kuliahannya… (Lagi pengin baca novel anak kuliahan.)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar