16.3.15

[15] In a Blue Moon by Ilana Tan




“Apakah kau masih membenciku?”

“Aku heran kau merasa perlu bertanya.”

Lucas Ford pertama kali bertemu dengan Sophie Wilson di bulan Desember pada tahun terakhir SMA-nya. Gadis itu membencinya. Lucas kembali bertemu dengan Sophie di bulan Desember sepuluh tahun kemudian di kota New York. Gadis itu masih membencinya. Masalah utamanya bukan itu—oh, bukan!—melainkan kenyataan bahwa gadis yang membencinya itu kini ditetapkan sebagai tunangan Lucas oleh kakeknya yang suka ikut campur.

Lucas mendekati Sophie bukan karena perintah kakeknya. Ia mendekati Sophie karena ingin mengubah pendapat Sophie tentang dirinya. Juga karena ia ingin Sophie menyukainya sebesar ia menyukai gadis itu. Dan, kadang-kadang—ini sangat jarang terjadi, tentu saja—kakeknya bisa mengambil keputusan yang sangat tepat.

In A Blue Moon, Ilana Tan
Gramedia Pustaka Utama, 320 halaman


***


Membaca novel kelima Ilana Tan—dan saya sudah membaca empat sebelumnya, saya cukup penasaran. Apalagi dengan booming-nya promosi apron cantik dan titel mega best seller. Kali ini apa yang ingin dikisahkan oleh Ilana Tan? Cerita sedih seperti Sunshine Becomes You, novel MetroPop sebelumnya? Tapi ternyata tidak. Novel ini akan membuat pembaca tersenyum, giggling, geleng-geleng. Terkesan sakit jiwa? Ah, tidak juga. Karena sebenarnya hal itu disebabkan tingkah karakter utamanya yang mau-tapi-malu, juga love-hate relationship antara dua tokoh utamanya.

Novel ini bercerita tentang Sophie Wilson yang pandai membuat kue, yang punya masa lalu buruk dengan Lucas Ford. Sialnya, kakek mereka setuju untuk menjodohkan mereka.

Tentu saja Sophie tidak terima. Sampai mati, ia tidak akan pernah menyukai Lucas Ford. Sejak awal melihat Lucas Ford, ingin sekali Sophie berteriak bahwa laki-laki itu layak dibenci—terlebih dengan pengalamannya waktu sekolah dulu. Yang buat Sophie Wilson makin membenci Lucas Ford adalah setiap orang tidak melihat cacat dari pria itu, justru menurut mereka, Lucas Ford layak dicintai.

Dan Lucas Ford tidak tinggal diam. Dia selalu melakukan aksi pendekatan kepada Sophie Wilson, meski sahabatnya yang menyukainya, Miranda, selalu menempel di sisinya.

Dan jika ditanya apakah ada ending sedih, saya akan menjawab tidak.

Cerita ini manis…

Rasanya saya tidak perlu menjabarkan isi novel ini lebih jauh, karena jatuhnya spoiler. Dan yang membuat saya suka novel ini adalah cara eksekusi Ilana Tan meramu sesuatu yang manis tanpa membuatmu diabetes. Kalian membacanya tahu aksi manis Lucas Ford atau menyeringai geli membayangkan kelakuan Sophie Wilson yang malu-tapi-mau. Ilana Tan menyajikannya secara showing, bukannya telling.

Adegan favorit saya adalah saat Sophie Wilson dan Lucas Ford bercakap melalui seluler di mana pria itu mengatakan bahwa secara fisik Sophie tidak menarik. Sophie tentu jengkel, tapi perempuan itu langsung bungkam setelah Lucas Ford bilang, “Kau memang tidak sempurna, tapi kau sempurna untukku.”

Oh iya, ada lagi. Saat Sophie Wilson mengecek apakah kue buatannya apakah sampai di tangan Lucas Ford atau tidak. Menurut saya, itu lucu. Sophie galak dan selalu bilang dia membenci pria itu. Tapi dari aksinya, astaga, lucu sekali membayangkannya…

Poin utamanya lagi, rasanya saya punya karakter di mana secara fisik menurut bayangan saya sendiri. Karena apa? Karena Ilana Tan tidak mendikte karakter yang dibuatnya pada pembaca—saya terutama. Entahlah, tapi rasanya saya terlalu banyak membaca novel yang selalu mendeskripsikan tokoh-tokohnya secara gamblang di naskah mereka. Untuk poin ini, Ilana Tan juara dengan memasukkan minimnya informasi fisik pengarang, tapi entah bagaimana caranya, membuat saya punya tokoh tersendiri di benak dengan detail yang saya simpan di otak.

Typo? Saya tidak terlalu memperhatikannya karena terlalu asyik dengan cerita In A Blue Moon. Tapi yang saya ingat, ada kalimat yang tidak selesai… entah di halaman 85 atau 89, ya. Thank God, saya jadi salah satu pembaca pertama yang menikmati novel ini. Saya kira, novel ini memang layak untuk dikoleksi.

Dan saya begitu menanti-nantikan novel Ilana Tan ber-setting Indonesia.

4/5 bintang!


12.3.15

[14] Falling by Rina Suryakusuma





Carly merasa hidupnya berjalan normal. Ia punya orangtua yang menyayanginya, calon tunangan yang tampan dan perhatian, serta sahabat-sahabat yang peduli padanya. Namun, Carly selalu merasahidupnya belum utuh, ada kehampaan dalam hatinya. Sampai satu titik ia bertemu Maggie, dan ia tahu hidupnya takkan pernah sama lagi. Maggie memiliki karier sukses dan tahu bahwa dia tidak seperti perempuan kebanyakan. Dan, Maggie tidak pernah ragu dengan apa yang dia inginkan dalam hidup.

Sampai ia bertemu dengan Carly dan menjalin hubungan kerja. Hubungan yang berlanjut pada sesuatu yang berbeda, sesuatu yang dalam, dan mengubah pandangan serta perasaan mereka selamanya. Hingga akhirnya Carly pun menyadari bahwa dia perlu jatuh cinta pada orang yang salah untuk menemukan dirinya yang sesungguhnya...

Falling, Rina Suryakusuma, 320 halaman
Gramedia Pustaka Utama, Maret 2015

***

Rina Suryakusuma terkenal dengan karya-karyanya yang berlabel Amore. Biasanya, kisah yang ditawarkan oleh Rina selalu manis, dan tentu saja happy ending sesuai label tersebut. Lalu, terbitlah Falling dengan label MetroPop. Saya pun penasaran dengan cerita MetroPop ala Rina. Dan sampulnya itu lho, cantik banget! Simpel tapi mewah! Saya pun senang bisa jadi salah satu first reader novel ini.

Novel ini menceritakan tentang Carly, yang memiliki bos bernama Maggie. Maggie cenderung dingin dan perfeksionis. Tiap kesalahan harus dibayar, menurut Maggie. Celakanya, Carly pernah dengan bodohnya terlambat kembali ke kantor—yang letaknya di mal—setelah makan siang, dan banyak keterlambatannya yang menurut Maggie sangat fatal. Bahkan Carly sempat berpikir untuk segera resign dari kantornya. Belum lagi, tunangan Carly yang tidak sabarmembicarakan pernikahan mereka nantinya. Kesibukan Carly membuat tunangannya menduga bahwa Carly terlalu sibuk dan terlalu mengejar karier barunya.

Sampai suatu ketika, perasaan Carly berubah saat tidak sengaja menguping pembicaraan Maggie di telepon… yang membuat Carly tahu bahwa sebenarnya Maggie yang tampak superior itu tetaplah seorang manusia. Lalu, sampai pada tawaran bodoh Carly untuk mengerok Maggie yang tampak masuk angin. Carly kira Maggie akan dengan basa-basi menolak karena Carly sendiri juga berbasa-basi. Tapi ternyata Maggie mengiakan ajakan Carly.

Dan dari sana, cerita mereka dimulai.

Menyelesaikan novel ini dalam sekali duduk. Seperti biasa, Rina Suryakusuma hadir dengan gaya menulisnya yang tenang—ciri khasnya yang saya suka. Kehidupan kariernya sangat terasa sekali. Saya sendiri sudah menduga apa yang akan penulis angkat di novel ini. Dan… tetap saja saya syok. Iya, saya benar-benar terkejut tatkala mengetahui Rina Suryakusuma akan mengambil topik ini.

Yang saya suka dari tulisan Rina Suryakusuma—selain auranya yang tenang—adalah cara bertuturnya sopan. Dan terdapat beberapa sentuhan baru di tulisannya (well, saya belum membaca semua karyanya Rina Suryakusuma sih) ini. Ada bagian-bagian yang menurut saya sangat gelap, mencekam, dan tetap ditulis dengan tenang. Kesannya dingin.

Konflik batin Carly pun terasa, tidak cheesy menurut saya. Karena biasanya penulis yang mengusung tema yang sama dengan tema yang penulis ambil biasanya tipikal, pun dengan ending yang tipikal. Tapi tidak dengan Falling.

Saya turut sedih dengan perasaan salah yang mendera Carly. Bagaimana jika terjadi pada saya? Ah, semoga tidak, sih! J


Dan, bravo untuk novel debut MetroPop dari Rina Suryakusuma ini.

Saya berikan rating 3.5 dari 5 bintang... karena saya berada antara suka dan suka banget sama novel Rina Suryakusuma ini...