17.2.15

[11] Haru no Sora by Laili Muttaminah




“Aku berharap musim dingin dapat membekukan rasa sakitku,” ujarku lirih.

“Begitu?” tanya laki-laki itu, asap putih yang hangat keluar dari mulutnya. “Kau pikir, ketika rasa sakit itu membeku, kau tidak akan merasakan sakit lagi?”

“Mungkin begitu.”

“Kurasa kau tidak akan bisa membekukan rasa sakitmu.”

“Kenapa?”

“Karena rasa sakitmu akan mencair ketika musim semi tiba.”

Tiap tahun, Miyazaki Sora selalu menantikan kedatangan musim dingin. Titik-titik putih yang jatuh dari langit berarti tiba waktunya untuk bermain di halaman bersama sang ayah, sementara si ibu akan menyiapkan hidangan lezat di meja makan. Di balik gunungan salju yang menumpuk di halaman, Sora menemukan kehangatan kasih sayang kedua orangtuanya. Namun itu dulu. Sebelum suatu rahasia yang terbongkar di musim dingin tiga tahun lalu merenggut nyawa ibunya. Sebelum judi dan alkohol menjerat perhatian ayahnya. Sebelum Sora memilih melanjutkan hidupnya dengan menapaki jalan yang salah.

Haru no Sora, Laili Muttamimah
Ice Cube Publishers

***

Kisah tentang Sora yang harus menanggung kehidupan keluarganya—kehidupan dirinya sendiri dan ayahnya—dengan menjadi wanita penghibur. Sora masih duduk di bangku SMA, tapi beban di pundaknya tidak seringan teman-temannya yang hanya terpaku dengan ujian dan roman. Ia harus tetap bekerja, tanpa ada yang tahu pekerjaannya.

Sora memiliki dua sahabat yang selalu ada di sisinya. Tapi, bukan berarti dua sahabatnya itu tahu bagaimana Sora ketika tidak di sekolah. Mereka hanya tahu Sora adalah gadis tujuh belas tahun yang cantik yang gemar mengganggu Ai—teman sekelasnya yang gemuk.


Sampai akhirnya Sora bertemu dengan Haru, dan membuatnya sadar bahwa hidupnya berharga. Dan bahwa sebenarnya ia adalah remaja SMA yang bisa jatuh cinta.


Sora, bagaimanapun ia membenci ayahnya, ia hanya kesepian. Mungkin bisa saja Sora meninggalkan ayahnya yang hanya mabuk-mabukan dan membawa perempuan ke rumahnya… tapi Sora selalu berharap bahwa sosok ayahnya akan kembali seperti dulu yang selalu disayanginya.

Pertama kalinya membaca novel Laili Muttamimah, dan saya cukup suka dengan gayanya bercerita. Meskipun demikian, saya selalu tahu arah twist dari cerita ini… mungkin karena saya bercita-cita menjadi cenayang—nggak nyambung sih. Saya juga sebenarnya skeptis dengan novel penulis lokal yang mengambil setting Jepang. Well, untung jalan cerita dan gaya menulisnya menarik.

Karakter yang ada di novel Haru no Sora ini kuat dan masing-masing memiliki peran dalam pergerakan cerita, tidak mubazir. Omong-omong, saya paling suka karakter Ai—jadi ingat novel The Princess in Me karya Donna Rosamayna yang saya baca bertahun-tahun yang lalu deh!

Ceritanya juga fleksibel, lincah, dan asyik diikuti. Meski terus terang, saya banyak skip saat Haru dan Sora kencan. Saya suka dengan konflik yang disajikan dalam novel ini. Banyak pula pesan moralnya—bukan sekadar novel remaja cinta-cintaan yang FTV-ish!

Untuk setting, tidak perlu dijelaskan terlalu detail karena saya tidak terlalu paham dengan Jepang. Tapi saya bisa memvisualisasikannya dengan baik lewat tulisan Laili. Good job.

Untuk teknisnya sendiri, sebenarnya saya—lagi-lagi—menyayangkan cover-nya yang begitu pucat (yang ada di blog ini versi pink mentereng, anyway). Padahal ini cerita baik, kenapa harus dengan sampul buku yang tidak menarik seperti itu? Soal typo, saya rasanya kurang yakin menyebutnya typo, karena gaya penggunaan angka—saya pernah membahasnya di novel Remedy—oleh Ice Cube Publisher. Saya juga menemukan saputangan ditulis terpisah: “sapu tangan”. Dan yang paling cukup mengganggu sebenarnya adalah kata “kali lain”, “kali kedua”, “kali pertama”, dan seterusnya. Oh, itu kali yang keberapa? Kali yang mana? Kali Ciliwung? (oke, saya mulai ngaco).


Secara keseluruhan, saya menyukai novel ini. Yeah, saya rasa novel ini berada di atas Remedy, kalau boleh jujur. Oh iya, Haru no Sora ternyata juga judul sebuah manga dan anime.



3.5 bintang—antara I liked it dan very liked it!

1 komentar: