22.2.15

[13] A Week Long Journey by Altami N.D.



Lina Budiawan baru saja lulus SMA dan dihadapkan pada kenyataan bahwa dia harus masuk ke fakultas yang tidak sesuai dengan minatnya karena orangtuanya menganggap jurusan itu memiliki masa depan yang cerah dibandingkan passion-nya, menulis.

Namun, Lina tetap tidak rela melepaskan genggaman pada mimpinya. Ketika dia dikelilingi orang-orang yang terus- menerus bicara mengenai bidang yang tidak sedikit pun Lina minati, justru semakin erat dia mencengkeram obsesi menulisnya. Meski harus mengesampingkan keluarganya.

Hingga liburan selama seminggu di Hong Kong menguak semua rahasia dan cerita lama yang tidak pernah Lina ketahui tentang sejarah keluarganya. Lina pun harus berpikir ulang. Menjadi idealis atau realistis?

A Week Long Journey, Altami N.D.
Gramedia Pustaka Utama

***

Seperti judulnya, A Week Long Journey merupakan novel yang mengisahkan perjalanan Lina—yang biasa dipanggil Ling-Ling—di Cina. Perjalanan tersebut merupakan “hadiah” orangtua Lina karena ia lolos SNMPTN Undangan Jurusan Pertenakan IPB. Namun, sebenarnya Lina tidak suka dengan jurusan itu. Ia memilihnya karena orangtua yang merupakan salah satu peternak sukses. Lina memiliki passion dalam menulis, dan ia ingin kuliah jurusan sastra!

Ah, saya menikmati kisah Lina. Dengan desain sampul yang oke banget, saya kira ini adalah label Young Adult pertama dari GPU yang benar-benar saya nikmati. Dari konflik dan gaya bahasa Altami, rasanya pas. Meskipun demikian, saya memang cukup terganggu dengan banyaknya typo, nyaris di tiap halaman! Usut punya usut, ternyata ada masalah saat “membungkus” naskah ini karena ketika tahap setter sudah diperbaiki typo-nya. Pokoknya, jika cetak ulang, harus bersih ya.

Lanjut ke novel, saya suka karakter Lina. Ya, saya jarang menyukai tokoh utama novel lokal, karena biasanya lebih menarik figurannya! Tapi tidak di novel ini. Saya suka karakter Lina yang tangguh, Lina yang berani. Juga chemistry antara Lina dan Chen Zang alias Candra. Juga karakter dynamic demon-nya.

Di novel ini, kita akan diajak Altami memahami seluk-beluk dunia peternakan, juga tempat-tempat di negeri Cina. Yang saya suka, Altami tidak terlalu mengekspos setting dengan berlebihan.

Untuk konflik utama, sebenarnya terletak pada kisah Lina dan pergolakan batinnya soal jurusan, tapi juga dibumbui oleh Dewi dan Rita yang dari awal perjalanan ke Cina justru menolak mentah-mentah eksistensi Lina. Ada apa dengan mereka? Karena sikap mereka tanpa alasan. Dan pada akhirnya Lina tahu alasan mereka berbuat demikian. Tapi meski begitu, penyelesaian konflik antara Lina-Dewi dan Rita terlalu cepat. Meski begitu, tetap saja saya menyukai alur ceritanya. Di sini juga disisipi adegan romance Lina dan Chen Zhang, walau tidak menjadi sorotan utama. Dan justru itu yang saya suka.

Banyak adegan-adegan yang mengharukan, apalagi sama papanya Lina menceritakan alasannya beternak, mengorbankan mimpinya. Juga saat Lina bertemu keluarganya di Hong Kong! J

Anyway, it’s a good Young Adult novel. Ditunggu novel selanjutnya, Altami!


3.5 of 5 stars!

19.2.15

[12] Hikikomori-Chan by Ghyna Amanda





Ia adalah raksasa yang menghancurkan dinding pelindungku.

Bedanya, raksasa ini mungkin tidak akan memorak-porandakan isinya lagi.

Aku tidak tahu, aku hanya berfirasat.

Setidaknya ini mungkin yang kuharapkan sejak pertama kali mengurung diri di dalam dinding itu.

Aku ingin dibebaskan.

Sejak ibunya meninggal empat tahun lalu, Raisa memutuskan untuk menjadi seorang Hikikomori—orang yang menarik diri dari kehidupan sosial. Ia mengurung diri di dalam kamar dan menolak berinteraksi dengan siapa pun, termasuk kakak-kakaknya: Kana, Takumi, dan Tetsuya. Ketika kakak-kakaknya memutuskan untuk pindah ke kota lain, Raisa tetap bertahan di dalam kamar. Suatu hari, pria setengah baya yang tidak diundang bernama Vincent Muffon masuk ke rumahnya dan mulai mengurus segala kebutuhan Raisa. Siapa sebenarnya pria asing ini? Kenapa kehadirannya membuat Raisa justru merasa lega dan mulai berharap untuk dibebaskan?

Hikikomori-Chan, Ghyna Amanda
Ice Cube Publisher

***

Akhirnya saya menyelesaikan tiga novel YARN, dan Hikikomori-Chan adalah yang terakhir yeay! Saya sih tetap menantikan sepuluh besar lainnya, dan semoga desain sampulnya tidak pucat seperti ketiga seniornya! :D

Saya sebenarnya cukup skeptis dengan setting Jepang! Ugh, dua pemenangnya mengambil latar itu. Tapi saya tentu yakin ada “sesuatu” dalam naskah ini. Sesuatu yang membuatnya unggul menjadi pemenang YARN.
Saya kira hikikomori sekadar istilah remaja tentang hal yang cukup cheesy. Ternyata tidak. Kalau mau tahu apa itu hikikomori, silakan baca novelnya ya, hehe.
Tokoh utama novel ini, Raisa, hanya memiliki ketakutan akan dikecewakan. Ia memilih untuk mengurung dirinya di kamar. Sampai seseorang yang disebutnya Kyoujin—iya, kyoujin yang di manga itu!—datang dan mengaku sebagai seorang ayah.
Bagi Raisa, VincentMuffon—nama asli si Kyoujin—tidak lebih dari sekadar orang asing. Tapi sikapnya sehari-hari di rumahnya membuat tebing yang dibuat Raisa mulai luruh juga. Raisa mulai berani untuk keluar dari kamarnya.
Cerita yang disajikan oleh Ghyna Amanda ini tergolong unik. Saya kira ini cukup orisinil. Mungkin orang Jepang sudah membahasnya, tapi saya sendiri punya pengetahuan baru soal ini. Dan rasanya, dari seluruh cerita YARN yang saya baca, kisah Hikikomori-Chan ini yang paling tidak terlalu drama.
Omong-omong, kenapa namanya Raisa ya? Apakah Raisa  itu nama Jepang? Saya malah ingatnya penyanyi Pemeran Utama itu! Hahaha. Dan lagi, meskipun ceritanya saya akui begitu rapi ditulis oleh Ghyna—yang produktif sekali dan tulisannya ada di banyak penerbit, saya masih tidak dapat membayangkan bagaimana Raisa kesehariannya, bagaimana Kyoujin, bagaimana sepupunya… bagaimana… yeah, karakternya tidak tergambar di benak saya.
Sekali lagi, yang saya suka dari novel ini adalah kesan yang tidak drama. Semuanya berjalan apa adanya. Dan membaca review sebelumnya, memaparkan bahwa hikikomari adalah fenomena di Jepang yang meresahkan. Mungkin itu adalah salah satu poin mengapa novel ini dipilih sebagai pemenangnya.
Untuk teknis, tak perlu dikatakan lagi apa, karena sama seperti Haru no Sora dan Remedy, soal sampul, soal bahasa selingkung. Oh yeah, tapi jelas ada typo entah di halaman berapa yang menyebutkan “terlanjur”, di mana seharusnya “telanjur”.
I liked it!

17.2.15

[11] Haru no Sora by Laili Muttaminah




“Aku berharap musim dingin dapat membekukan rasa sakitku,” ujarku lirih.

“Begitu?” tanya laki-laki itu, asap putih yang hangat keluar dari mulutnya. “Kau pikir, ketika rasa sakit itu membeku, kau tidak akan merasakan sakit lagi?”

“Mungkin begitu.”

“Kurasa kau tidak akan bisa membekukan rasa sakitmu.”

“Kenapa?”

“Karena rasa sakitmu akan mencair ketika musim semi tiba.”

Tiap tahun, Miyazaki Sora selalu menantikan kedatangan musim dingin. Titik-titik putih yang jatuh dari langit berarti tiba waktunya untuk bermain di halaman bersama sang ayah, sementara si ibu akan menyiapkan hidangan lezat di meja makan. Di balik gunungan salju yang menumpuk di halaman, Sora menemukan kehangatan kasih sayang kedua orangtuanya. Namun itu dulu. Sebelum suatu rahasia yang terbongkar di musim dingin tiga tahun lalu merenggut nyawa ibunya. Sebelum judi dan alkohol menjerat perhatian ayahnya. Sebelum Sora memilih melanjutkan hidupnya dengan menapaki jalan yang salah.

Haru no Sora, Laili Muttamimah
Ice Cube Publishers

***

Kisah tentang Sora yang harus menanggung kehidupan keluarganya—kehidupan dirinya sendiri dan ayahnya—dengan menjadi wanita penghibur. Sora masih duduk di bangku SMA, tapi beban di pundaknya tidak seringan teman-temannya yang hanya terpaku dengan ujian dan roman. Ia harus tetap bekerja, tanpa ada yang tahu pekerjaannya.

Sora memiliki dua sahabat yang selalu ada di sisinya. Tapi, bukan berarti dua sahabatnya itu tahu bagaimana Sora ketika tidak di sekolah. Mereka hanya tahu Sora adalah gadis tujuh belas tahun yang cantik yang gemar mengganggu Ai—teman sekelasnya yang gemuk.


Sampai akhirnya Sora bertemu dengan Haru, dan membuatnya sadar bahwa hidupnya berharga. Dan bahwa sebenarnya ia adalah remaja SMA yang bisa jatuh cinta.


Sora, bagaimanapun ia membenci ayahnya, ia hanya kesepian. Mungkin bisa saja Sora meninggalkan ayahnya yang hanya mabuk-mabukan dan membawa perempuan ke rumahnya… tapi Sora selalu berharap bahwa sosok ayahnya akan kembali seperti dulu yang selalu disayanginya.

Pertama kalinya membaca novel Laili Muttamimah, dan saya cukup suka dengan gayanya bercerita. Meskipun demikian, saya selalu tahu arah twist dari cerita ini… mungkin karena saya bercita-cita menjadi cenayang—nggak nyambung sih. Saya juga sebenarnya skeptis dengan novel penulis lokal yang mengambil setting Jepang. Well, untung jalan cerita dan gaya menulisnya menarik.

Karakter yang ada di novel Haru no Sora ini kuat dan masing-masing memiliki peran dalam pergerakan cerita, tidak mubazir. Omong-omong, saya paling suka karakter Ai—jadi ingat novel The Princess in Me karya Donna Rosamayna yang saya baca bertahun-tahun yang lalu deh!

Ceritanya juga fleksibel, lincah, dan asyik diikuti. Meski terus terang, saya banyak skip saat Haru dan Sora kencan. Saya suka dengan konflik yang disajikan dalam novel ini. Banyak pula pesan moralnya—bukan sekadar novel remaja cinta-cintaan yang FTV-ish!

Untuk setting, tidak perlu dijelaskan terlalu detail karena saya tidak terlalu paham dengan Jepang. Tapi saya bisa memvisualisasikannya dengan baik lewat tulisan Laili. Good job.

Untuk teknisnya sendiri, sebenarnya saya—lagi-lagi—menyayangkan cover-nya yang begitu pucat (yang ada di blog ini versi pink mentereng, anyway). Padahal ini cerita baik, kenapa harus dengan sampul buku yang tidak menarik seperti itu? Soal typo, saya rasanya kurang yakin menyebutnya typo, karena gaya penggunaan angka—saya pernah membahasnya di novel Remedy—oleh Ice Cube Publisher. Saya juga menemukan saputangan ditulis terpisah: “sapu tangan”. Dan yang paling cukup mengganggu sebenarnya adalah kata “kali lain”, “kali kedua”, “kali pertama”, dan seterusnya. Oh, itu kali yang keberapa? Kali yang mana? Kali Ciliwung? (oke, saya mulai ngaco).


Secara keseluruhan, saya menyukai novel ini. Yeah, saya rasa novel ini berada di atas Remedy, kalau boleh jujur. Oh iya, Haru no Sora ternyata juga judul sebuah manga dan anime.



3.5 bintang—antara I liked it dan very liked it!

15.2.15

[10] 28 Detik by Ifa Inziati




Nyebelin, tapi bikin penasaran.
Cantik, tapi belagu.
Ngeselin, tapi pengin dijadiin pacar.

Sebenarnya, kamu ini terbuat dari apa, sih?

Kamu membuatku membangun harapan sekaligus meruntuhkannya. Seluruh impian yang sudah kubangun seumur hidup buyar seketika.

Hanya butuh waktu 28 detik untuk secangkir kopi yang nikmat. Tapi, untuk meraih hatimu? Berapa lama lagi harus kukorbankan egoku?


28 Detik, Bentang Pustaka
Ifa Inziati


***



Jujur saja, blurb-nya membuat saya kecewa. Well, saya tidak terlalu suka sinopsis novel yang seperti demikian. Saya lebih suka sinopsis yang langsung pada inti cerita novel. Dan saya mengeluhkan size dari novel ini yang terlalu besar, jadi nggak terlalu nyaman ketika dibaca.

Tapi… saya sempat membaca lomba novel dari Bentang Pustaka, mengenai passion show. Dalam hati, berjanji akan membaca naskah para pemenangnya. Dan secara kebetulan, ternyata pemenang pertamanya adalah Ifa Inziati, yang saya kenal di Goodreads dengan bacaan yang begitu kaya. Jadi, saya pun akhirnya memutuskan untuk membeli dan percaya tidak bakal kecewa.

Seperti pada sampul novelnya, dengan gambar coffee grinder. Ini soal passion para tokohnya di KopiKasep. Dan eksekusi yang dilakukan Ifa juga cukup unik, karena dari sudut pandang Simoncelli—si coffee grinder.

Karakter
Oh, karakter yang digambarkan oleh Simoncelli membuat saya meringis geli. Saya jadi ingat kedekatan saya dan teman-teman di kampus. Kehangatan yang diselingi dengan canda tawa, ah sungguh menguarkan nostalgi buat saya. Tapi sayangnya saya tidak bisa berimajinasi bagaimana rupa tokoh-tokohnya. Saya tidak tahu bagaimana rupa Candu—meski memang dideskripsikan tapi rasanya kurang—dan teman-temannya. Omong-omong, saya suka Winona. Yeah, sebenarnya Rohan juga appealing sih… tapi saya lebih suka karakter perempuan seperti Winona.

Plot dan Isi Cerita
Novel ini menceritakan Candu yang bakal mengikuti kompetisi barista di mana salah satu syaratnya adalah dengan membuat signature style. Sayang, semuanya pupus karena orang yang diam-diam mencintainya, juga dicintai Candu. Plot ceritanya yang renyah. Tipikal, tapi nggak cheesy. Karena memang mengedepankan passion. Dan jujur saja, saya jadi galau soal pekerjaan saya yang sekarang karenanya. Ah, Candu. Bagaimana caranya punya semangat sepertimu untuk sebuah passion?

Setting
Bagaimana caranya jika sebuah benda yang ada di sebuah kedai kopi bercerita dari banyak tempat? Dari awal saya sudah mengernyit bingung bagaimana eksekusi penulis. Dan ternyata benar, setting cerita nyaris seratus persen berkutat pada KopiKasep. Yang bagi saya sendiri menjadi kelebihan sekaligus kekurangan. Kelebihannya, saya dengan mudah mengimajinasikan bagaimana kedai kopi tersebut, tapi jalan cerita hanya pada rahasia-rahasia yang tokoh lakukan di kedai kopi tersebut.

Another points?
Saya suka bagaimana penulis mengemas novel ini dengan berbagai istilah dunia kopi. Dari judul bab yang juga berkaitan, pembaca akan dibawa larut dalam candunya segelas kopi. Selain itu, yang gamang akan passion, galau pilih universitas atau jurusan. Saya sarankan membaca novel ini.


Well, secara keseluruhan saya menyukai novel ini. Saya tunggu novel berikutnya ya, Ifa… J

[9] Will Grayson, Will Grayson by John Green and David Levithan





Pada suatu malam dingin, di sudut kota Chicago paling tak disangka, dua orang yang tidak saling mengenal bertemu. Dua remaja bernama sama, dengan teman-teman sangat berbeda, mendadak mengalami perubahan hidup luar biasa, yang berujung pada perubahan hati yang heroik dan pertunjukan musikal paling epik di SMA.

Will Grayson, Will Grayson (Gramedia Pustaka Utama)
John Green dan David Levithan



***



Awalnya, saya ragu untuk membaca novel terjemahan ini karena tampaknya tulisan John Green bukan selera baca saya—setelah membaca Looking For Alaska. Tapi saya salah. Saya begitu menikmati cerita Will Grayson dan will grayson.

Dua orang bernama sama, Will Grayson. Masing-masing memiliki kepribadian yang berbeda, orientasi seksual yang berbeda, dan tentu saja teman-teman yang berbeda.

Saya cukup terkejut dengan tema dan premis cerita novel ini. Tidak biasa untuk novel remaja, karena mengusung tema homoseksualitas. Will Grayson adalah pria straight yang memiliki sahabat bernama Tiny Cooper—dengan tubuh besar yang ternyata adalah gay, dan will grayson adalah gay yang tadinya menyembunyikan orientasi seksualnya tapi tergila-gila dengan isaac—temannya di dunia maya.

Lalu pada suatu momen, Will Grayson dan teman-temannya pergi mengunjungi konser. Sayangnya, persiapan Will Grayson tidak berbuah mulus—meskipun dia sudah berusaha memalsukan kartu identitasnya. Jadi dia terdampar di sebuah toko porno. Di lain pihak, will grayson sedang melakukan perjanjian bersama isaac di toko porno. Dan akhirnya, dua orang ini pun bertemu.

Saya suka bagaimana interaksi tokoh-tokohnya. Mengenai persahabatan dan pencarian jati diri. Meskipun tema yang diangkat mengenai LGBT, saya tidak terlalu mengernyit karena lebih menonjolkan sisi pencarian jati dirinya. Plus, saya suka cerita persahabatan yang dipaparkan oleh dua penulis ini.

Tokoh Will Grayson milik John Green tidak menyukai drama, tapi menurut saya… dia sangat drama! Yeah, si jalang-pemekik ini sebenarnya bukan tokoh favorit saya. Sedangkan will grayson milik David Levithan begitu pesimis. Tapi perpaduan keduanya membuat cerita begitu menyenangkan dan enak dibaca. Meskipun harus saya akui, adanya koneksi di antara kedua orang bernama sama ini adalah dari Tiny Cooper si gay bertubuh besar. Tapi jika saya boleh memilih, saya lebih suka gaya menulis David Levithan ketimbang John Green di novel ini.

Well done! Good writing from John Green and David Levithan!

9.2.15

[8] Remedy by Biondy Alfian



Lo yang nemuin dompet gue, kan?" tanya Navin.


"Ya," jawabku.
"Berarti lo sudah lihat semua isinya?"
"Ya," jawabku lagi.
"Berarti lo sudah-"
"Melihat kedua KTP-mu?" tanyaku. "Sudah."
Navin menarik napas panjang. Kedua matanya melotot padaku. Rahangnya tampak mengeras.


Ada yang aneh dalam diri Navin, si anak baru itu. Tania tidak sengaja menemukan dompetnya di tangga sekolah dan melihat di dalamnya ada dua KTP dengan data-data yang sama, hanya berbeda nama. Satunya tertera nama Navin Naftali, satunya lagi tertera nama Budi Sanjaya. Selain itu, ternyata Navin sudah berumur 20 tahun. Apa yang dilakukan seorang pria berumur 20 tahun di SMA? Sebagai seorang murid pula. Tania memutuskan untuk mencari tahu kebenaran tentang identitas ganda Navin. Sementara itu, Navin juga penasaran dengan sosok Tania yang kini mengetahui rahasianya. Karena sepertinya gadis itu punya rahasia yang lebih besar darinya.


Remedy, Biondy Alfian
Ice Cube Publisher



*****



Blurb yang disajikan menceritakan isinya. Seperti novel-novel Kompas Gramedia lainnya, novel ini pun tidak menjual novel dengan blurb yang tidak berhubungan dengan isi yang mana hanya menjual kata-kata puitis. Blurb novel ini benar-benar bisa merayu pembaca untuk segera membelinya karena menjual isi yang ada di dalam novel.

Saya begitu tertarik ketika pemenang YARN (Young Adult Realistic Novel) dari Ice Cube Publisher diumumkan. Wah, bakal jadi santapan menyenangkan. Apalagi dua di antara tiga besarnya, sering lalu-lalang di Goodreads. Maka, saya berencana untuk mengoleksinya (well, setidaknya untuk tiga besarnya). Beruntung, lagi ada sale di Grazera,  tapi sayang… hanya buku yang juara satu dan dua, buku juara tiga slash REMEDY ini tidak didiskon. Maka, pulang kantor, saya mampir di showroom, dan buku ini masih bertengger cantik dan tanpa ragu saya pun membelinya.

Novel ini menceritakan dua tokoh protagonis. Yang pertama adalah Tania yang memiliki kebiasaan melukai dirinya dengan cutter agar rasa kehilangan dan sakit di hatinya teralihkan meski hanya barang sejenak. Yang kedua adalah Navin, laki-laki yang memiliki masa lalu kelam sehingga dirinya harus berganti nama demi kehidupannya yang baru. Dan karena peristiwa dompet Navin yang jatuh itulah mereka berdua akhirnya dipertemukan, saling mengawasi, dan akhirnya saling memercayai. Awalnya saya kira novel ini memiliki "tokoh antagonis" berupa keadaan, tetapi ternyata ada yang bertokoh antagonis di sini, dan jujur saja, saya cukup surprised.

Dari segi konten, prolog yang disajikan Biondy dalam REMEDY cukup menjanjikan. Tidak berlebihan. Lalu gaya bercerita dibuat dengan dua sudut pandang. Sudut pandang Tania dengan PoV 1, dan sudut pandang Navin dengan PoV 3. Saya agak bertanya mengapa dibuat demikian. Kenapa tidak PoV 3 sekalian semuanya? Entahlah, mungkin pengarangnya dapat menjawab dan memang ada alasan khusus—yang sayangnya tidak saya temukan—saat membaca novel ini.

Alur novel ini pun dibuat cepat. Ibarat kalau sedang berlari, pace-nya bisa empat atau lima menit per kilometer. Cepat. Alurnya pun fleksibel. Karakter yang saya sukai di novel ini adalah Vikki. Mengapa? Karena ia lebih real ketimbang Tania dan Navin, hehehe. Di sini, Vikki sebagai support character untuk Tania maupun Navin. Meskipun di awal, terkesan bakal menjadi perempuan egois yang bakal mendekap Navin dalam pelukannya… tapi ternyata ia memiliki segala kelebihan. Makeup yang sering dipupurnya pun adalah sebuah proses pembelajaran yang ia lakukan. If I can request a new novel from Biondy, saya bakal memintanya menulis kisah tentang Vikki. Dan entah mengapa saya menganggap Navin terlalu klemar-klemer, apalagi ternyata konfliknya hanya segitu. “Segitu” maksud saya, tidak terlalu berat seperti Tania. Oh, saya pun cukup kaget ternyata tidak begitu saja konflik di Tania.

Untuk kelebihan novel ini, tentu saja dengan penyajian tema yang tidak biasa. Dengan penegasan “realistic”, novel ini memang tidak menjanjikan cerita berbunga dengan kata-kata gulali yang berlebihan. Gaya penceritaannya juga dinamis, cocok untuk remaja. Setting-nya juga sudah diperbarui dengan tidak lagi menyebutkan “IPA” atau “IPS”—dan saya baru tahu! Hahaha. Memang, saya tak lagi muda. Saya pun salut dengan riset (meskipun terkesan kecil), tapi membuatnya lebih real

Kekurangan novel ini bagi saya hanyalah ending yang terlalu cepat. Rasanya penyelesaian konfliknya hanya segitu saja, meskipun epilognya membuat saya tersenyum karena begitu manis. Ada beberapa alasan yang sebenarnya buat dahi saya mengernyit. Tapi, sudahlah. Tidak perlu diperdebatkan.

Satu pertanyaan lagi, kenapa gambar sampul novel YARN semuanya pucat? Apakah untuk menunjukkan bahwa tidak semua kehidupan remaja berwarna-warni? Seperti novel-novel ini? :)



Overall, 3 bintang untuk novel Biondy ini…