31.12.15

Selamat Tahun Baru 2016

Whoaaa...

Rasanya sudah lama saya tidak merensi novel. Mungkin akibat malas dengan setumpuk pekerjaan yang tenggat waktunya mepet. Lalu, tibalah sekarang di hari pertama 2016, sedang tidak melakukan apa pun. Dan rasanya aneh juga tidak mempunyai sesuatu yang harus dikerjakan. Maka, saya pun berleha-leha, mencari tumpukan novel yang belum saya baca. 

Kangen juga ya.

Ah, sudahlah. Intinya, selamat tahun baru 2016.

Saya janji akan meresensi novel-novel yang saya baca. Semoga sarang laba-laba dan debu di blog ini hilang!

Cheers,
Tsaki

21.7.15

[30] Sunset Holiday by Nina Ardianti & Mahir Pradana

Sunset Holiday
(Nina Ardianti & Mahir Pradana)



We are all strangers until we meet.”

Jatuh cinta dan bertemu denganmu tidak ada dalam rencana perjalananku. Namun, di perjalanan sejauh ini, kamulah hal terbaik yang terjadi kepadaku. Aku menebak-nebak di mana akhir senyum manismu yang menghangatkan.

Hal paling menyakitkan dari jatuh cinta adalah kehilangan setelah memilikinya. Karena itulah, aku tidak berani berharap banyak. Kita hanyalah dua orang asing di tempat asing. Akan lebih banyak risikonya jika aku memutuskan untuk jatuh cinta.

Jika aku tidak akan menjadi bagian dalam sisa perjalanan hidupmu, bisakah kamu mengingatku sebagai bagian terbaiknya? Aku tidak berani menanyakannya karena diam-diam kutahu tujuan terakhir kita ternyata tak sama.

Kita kemudian bukan lagi dua orang asing di negeri asing. Namun, mengapa sakit ketika mengingat ternyata rasa ini terasa lebih asing daripada sebelumnya?

***

Audy dan Ibi bertemu di Paris, kota yang menyimpan banyak pesona cinta. Karena impulsif, Ibi mengikuti Audy melakukan perjalanan keliling Eropa. Entah di Praha, Roma, atau Venezia, mungkin di sanalah cinta menyapa. Namun, apakah kebersamaan singkat itu berarti banyak jika sejak awal tujuan akhir mereka ternyata tak sama?

Sunset Holiday 
Nina Ardianti dan Mahir Pradana
480 halaman, Gagas Media
Cetakan Pertama, Juli 2015 
ISBN 9797808181



******


Pertama kali saya tahu novel ini bakalan terbit adalah dari salah satu teman penulis yang bilang, "Eh, Nina sama Mahir jadian lho. Terus mereka mau buat novel bareng." Saya pun tertarik. Bukan tertarik dengan kisah asmara mereka, tapi dengan novel seperti apa yang akan mereka buat. Catat, saya suka gaya witty dan ceplas-ceplos Nina Ardianti di Restart, juga suka banget dengan tulisan Mahir Pradana di Rhapsody. Mereka adalah pengarang yang kalau menulis novel, harus dibeli! By the way, novel Restart dan Rhapsody saya ditandatangani oleh mereka saat... (oke, saya lupa. Saat apa ya? Kayaknya sedang launching novel apa di TM Bookstore Depok dan yang saya ingat cuma perkataan Mbak Nina yang waktu itu menyangka saya adalah peresensi kejam di Goodreads dan dia salah orang).

Berbuah iseng menelusuri blog milik Mbak Nina, saya menemukan penggalan kisah Sunset Holiday. Langsung saya baca. Tapi saya tidak terlalu jatuh cinta karena rasanya flat. Ah, mungkin karena baru diawal. 

Dan novel ini menceritakan seorang Ibi yang merupakan jurnalis freelance yang asyiknya berada di Eropa, yang out of blue bertemu dengan Audy si impulsif yang mencoba untuk liburan sendirian. Pertemuan mereka berdua membuat saya ikut jalan-jalan di Eropa. Ah! Jadi pengin juga! Detail setting-nya menurut saya pas. Tidak berlebihan, tidak juga kurang.

Di novel ini, "rasa tulisan" dari Nina dan Mahir tidak terlalu tampak. Mungkin memang karena menyatukan dua kepala menjadi satu tulisan. Meskipun dengan PoV 1 dan masing-masing memiliki porsi, saya rasa memang tidak mudah. Saya kurang mendapat sentuhan yang "Nina banget" atau "Mahir banget", walaupun di awal ada khas gaya menulis Mahir. Eh, omong-omong, di akhir cerita, khususnya bagian Jakarta, bagi saya pribadi, kekhasan tulisan mereka muncul. Tapi disayangkan muncul di akhir saja.

Poin lebih dari novel ini, seperti yang saya utarakan sebelumnya, adalah detail yang pas. Kalau membacanya, pasti pengin ikutan Eurotrip bareng Ibi dan Audy. Dan cukup surprised dengan munculnya Syiana dan Ian! Rasanya karakter di Restart itu masih ada di kepala. Tapi ya begitu, plotnya terasa flat, tapi hal itu terobati dengan setting yang menyenangkan.

Dari segi teknis, saya tidak mau banyak omong karena tiap penerbit punya gaya selingkung yang berbeda. Tapi yang membuat saya gatal (bukan hanya di novel ini) hanya padanan kata "memicing" yang tidak tepat. Saya copy-paste dari KBBI online (artinya edisi ketiga), tapi di KBBI IV, masih sama kok artinya.


picing/pi·cing/ Mk v pejam;
berpicing/ber·pi·cing/ v memejam(kan) mata;
memicing/me·mi·cing/ v 1 memejam(kan) (mata); 2 tidur: semalam-malaman aku tidak dapat ~ mata sedikit pun;
memicingkan/me·mi·cing·kan/ v memicing;
terpicing/ter·pi·cing/ v 1 terpejam (matanya): krn lelahnya, mataku ~; 2 tertidur;
sepicing/se·pi·cing/ n terpejam sebentar; sekejap: belum tertidur ~ pun, tidak tidur sekejap pun


Secara keseluruhan, saya cukup menikmati novel ini. Segeralah menerbitkan novel solo, Mbak Nina dan Mas Mahir! :)


"Distance makes your heart grow fonder." (halaman 32)

19.7.15

[29] Above The Stars by D. Wijaya






“Kau tidak takut jatuh?” tanya Mia.

Danny menggeleng.

“Aku takut jatuh,” aku Mia dengan polos. “Kalau kau takut apa?”

Danny tidak langsung menjawab. Ia juga tidak menolakkan kaki ke tanah lagi untuk menambah kecepatan ayunan. Senyuman di wajahnya perlahan-lahan memudar. “Aku takut tidak bisa melihat selamanya.”

Menurut Danny Jameson, hidupnya tidak pernah mudah. Ia punya orangtua yang protektif, mesin tik Braille yang tidak dimiliki teman-temannya, dan semacam magnet yang menarik John Schueller untuk terus mengganggunya. Namun, yang paling buruk adalah ia punya sepasang mata biru yang tidak bisa melihat. Ketika Danny berpikir Mia Berry akan menjadi satu-satunya teman yang ia punya, Will Anderson datang dan mengubah hidupnya. Will memperlihatkan kepadanya dunia yang ingin ia lihat. Will juga membuat Danny mempertanyakan sesuatu tentang dirinya. Tapi, sebelum Danny sempat menemukan jawabannya, Will menghilang.

248 halaman
Published June 2015 by Ice Cube
ISBN: 139789799108845



***



Awal novel ini ada di Goodreads, saya penasaran. Iya, penasaran. Soalnya seri YARN bagus-bagus. Jadi, tunggu apa lagi? Lalu, beruntungnya, penulis memberikan buntelan dan saya dapat! Yeay!

Tapi dalam jangka waktu menunggu buntelan datang, saya iseng membaca resensi novel ini di Goodreads.

Iya, banyak yang bilang kalau novel ini dibilang mirip dengan film pendek berjudul The Way He Looks. Bodohnya, saya langsung cari di YouTube dan menontonnya. Dan beberapa hari kemudian, buku ini datang di rumah...

Bahkan, setelah meneliti kembali, judul asli novel ini sebelumnya The World He Looks... hem... (saya dapat dari resensi  ini) Kalau selanjutnya diedit atau dihapus, entah deh.

Nah, soal mirip-miripannya nanti dulu ya. Bahas soal novel ini dulu.

Jadi, novel ini menceritakan tentang Daniel yang tidak bisa melihat yang akhirnya bertemu dengan Will. Bagaimana Will akhirnya mengubah kehidupan Daniel yang "kalem-kalem aja" menjadi lebih "berani", in a good way.

Sampai akhirnya ada pada tiga permintaan Daniel yang berusaha wujudkan, termasuk permintaan ketiganya, yang membuat hidup mereka lebih pelik.

Yang saya suka dari novel ini adalah gaya bahasa yang digunakan penulis. Mengalir, dan memang seperti novel terjemahan. Smooth. Membacanya juga enak. 

Selain itu, karakter yang diciptakan pun kuat. Dan hal-hal itu yang membuat saya nyaman membacanya dalam sekali duduk. Eh tapi, rasanya penulis suka sekali dengan kata bokong.

Untuk minusnya sendiri, tampaknya penulis agak luput dalam melakukan riset. Soal seragam, pendidikan yang ada di setting novel ini rasanya bukan-terjemahan-banget (padahal gaya menulisnya sudah baik), ya seperti seragam. Saya belum sempat googling sih, tapi ya... begitulah.

Sedikit catatan, cerita ini bakal mudah ditebak karena pilihan lagu yang dimainkan oleh Daniel. Kenapa lagu? Cewek banget nggak sih... Eh, tapi itu pendapat pribadi saya aja. ._.

Soal typo, cukup bersih. Tapi masih ada. Tapi lupa catat. Seingat saya ada dua doang.

Sebenarnya, kalau beberapa peresensi bilang novel ini mirip dengan film pendek itu, ya memang mirip. Mesin tik, murid baru, Will yang pindahan... Tapi rasanya agak berlebihan kalau dibilang novel ini plagiat, karena dari tengah sampai akhir berbeda.

Terus, selanjutnya, saya memakai asumsi pribadi. Boleh dibantah juga. Tapi yang jelas, bagi saya agak disayangkan adalah proses "mencuri" penulis yang masih kasar. Toh memang tema dan ide itu tidak pernah baru. Dan disayangkan lagi soal perkataan Daniel pada mom-nya soal planet Pluto yang nyaris sama dengan film pendek tersebut. Saya mengatakan ini karena tahu potensi penulis *ih sotoynya mulai* Dan saya ingin menulis resensi yang jujur, D.

Dan saya agak pusing menentukan bintang yang saya harus berikan. Pada akhirnya, saya menganggap novel ini adalah novel fan fiction dari film pendek tersebut. Ya, seperti saya baca Fifty Shades of Grey yang merupakan FF dari Twilight

Semoga novel selanjutnya lebih oke lagi, D.!

12.7.15

[28] Critical Eleven by Ika Natassa


Critical Eleven
Ika Natassa
Gramedia Pustaka Utama, 344 halaman
Limited Edition, Juli 2015


Dalam dunia penerbangan, dikenal istilah critical eleven, sebelas menit paling kritis di dalam pesawat—tiga menit setelah take off dan delapan menit sebelum landing—
karena secara statistik delapan puluh persen kecelakaan pesawat umumnya 
terjadi dalam rentang waktu sebelas menit itu.
It's when the aircraft is most vulnerable to any danger.

In a way, it's kinda the same with meeting people. Tiga menit pertama kritis sifatnya karena saat itulah kesan pertama terbentuk, lalu ada delapan menit sebelum berpisah—delapan menit ketika senyum, tindak tanduk, dan ekspresi wajah orang tersebut jelas bercerita apakah itu akan jadi awal sesuatu ataukah justru menjadi perpisahan.

Ale dan Anya pertama kali bertemu dalam penerbangan Jakarta-Sydney. 
Tiga menit pertama Anya terpikat, tujuh jam berikutnya mereka duduk bersebelahan dan saling mengenal lewat percakapan serta tawa, 
dan delapan menit sebelum berpisah Ale yakin dia menginginkan Anya.

Kini, lima tahun setelah perkenalan itu, Ale dan Anya dihadapkan pada satu tragedi besar yang membuat mereka mempertanyakan pilihan-pilihan yang mereka ambil, termasuk keputusan pada sebelas menit paling penting dalam pertemuan pertama mereka.

Diceritakan bergantian dari sudut pandang Ale dan Anya, 
setiap babnya merupakan kepingan puzzle yang membuat kita jatuh cinta atau benci kepada karakter-karakternya, atau justru keduanya.



***


Mungkin resensi ini menampilkan blurb untuk menelaah kisah apa yang disajikan oleh Critical Eleven ini. Tapi, saya sendiri tidak membaca sinopsis sama sekali. Hanya berbekal ingatan akan cerita pendek berjudul sama pada Autumn Once More saja.

Awalnya, saya juga tidak terlalu berharap mendapatkan limited edition novel ini. Iseng aja, teman juga titip. Konfirmasinya juga sehari sebelum novel ini sampai di rumah. Dan sekadar peringatan, resensi ini mungkin saja berisikan spoiler.

Lalu saya pun mulai membuka halaman kisah seorang manager consultant bernama Tanya Laetitia Baskoro ini… Cantik dan cerdas. Kenapa saya bisa mengatakan Anya—panggilan Tanya—ini cerdas? Tentu dari bagaimana ia bertutur. Bagaimana cara Anya menceritakan kehidupannya, penganalogiannya… tidak bisa dimungkiri kalau Anya memang cerdas. Dan si cantik cerdas ini bertemu dengan seorang potreleum engineer bernama Aldebaran Risjad—Ale. Pertemuan sejenak di pesawat terbang yang membuahkan percakapan hangat yang berujung pada frekuensi pertemuan yang menjadi semilir bagi mereka berdua.

Hal yang saya syukuri karena tidak membaca sinopsis adalah… saya tidak berekspektasi apa-apa. Memang, saya sudah membaca novel-novel Ika Natassa sebelumnya (kecuali Twivortiare 2), dan saya memang suka. Dan di novel ini, saya bisa katakan adalah karya terbaiknya—tentu menurut selera pribadi saja. Saya diberikan hal-hal tak terduga, yang bisa dikatakan sebagai twist kecil. Menyenangkan sekali membacanya. Selain itu, novel ini juga sangat “padat”, tidak bertele-tele.

Rumah tangga. Bagaimanapun juga, pasti ada saja percikan api, kan? Ada saja kendala yang membuat sepasang suami-istri bertengkar. Mungkin alasan Anya dan Ale bertengkar bisa dibilang biasa—dalam artian biasa ditemukan dalam banyak rumah tangga.

Bahkan awalnya saya menyayangkan sikap Anya yang begitu egois. Begitu kekanakan. Tetapi pada akhirnya saya mengerti, saya paham. Bahwa kata-kata adalah pedang yang begitu tajam, yang bisa membuat luka di hati. Saya tahu bahwa bagaimanapun juga, Anya juga manusia. Yeah, yeah. Saya tahu itu.

Awalnya saya bersimpati pada Ale. Rasanya begitu besar yang ia berikan untuk Anya meskipun istinya tak pernah merespons. Tapi… saya juga menyalahkan mulut bodohnya itu. Tapi perjuangan yang dilakukannya membuat saya paham bahwa untuk membenahi suatu masalah memang haruslah dengan tindakan.

Critical Eleven adalah novel padat nan cerdas yang juga bisa membuat perasaanmu sesak dan hangat dalam waktu bersamaan. Rasanya saya mengikuti kisah Anya dan Ale saat pendekatan, saat memulai pernikahan, bagaimana Anya memanggil Ale dickhead, bagaimana mereka suka “berperang” dengan memo “nakal” di setiap sudut, dan semuanya. Meskipun sarat flashback, Ika Natassa mampu meramunya dengan sangat baik. Eksekusinya jempolan. Satu hal lagi, banyak sekali kalimat quotable di novel ini.

Selain itu, hebatnya—untuk saya pribadi—Ika Natassa bisa menampilkan sudut pandang Ale sebagai laki-laki utuh. Well, saya rasa Ale begitu maskulin meskipun menurut beberapa orang tokohnya begitu TGTBT. Tapi rasanya tidak juga. Toh ada kelemahan yang juga dimiliknya.

Lulusan teknik dan manajemen. Mungkin itu yang membuat beberapa orang bilang novel ini “menjual mimpi”. Opini saya berkata lain. Novel ini justru menceritakan bahwa di setiap kehidupan yang “tampak” bahagia, selalu ada lubang hitam. Tergantung bagaimana menampilkannya pada dunia luar.

Dan saya baru sadar bahwa tidak ada label “Metropop” di sampul novel ini. Tapi saya tetap memasukkannya sebagai kategori tersebut…


Secara keseluruhan saya suka sekali dengan novel ini. Critical Eleven deserves more than four stars. Mungkin 4.5 bintang. Tapi saya bulatkan ke atas saja. Dan dengan ini saya menanti-nantikan novel Ika Natassa selanjutnya.

5.7.15

[27] Finding Audrey by Sophie Kinsella




Audrey menderita gangguan kecemasan.
Masalah psikologis ini sampai mengganggu kehidupan sehari-hari gadis berusia 14 tahun itu. Kemajuan konsultasinya dengan Dr. Sarah pun berjalan perlahan.

Namun, ketika bertemu Linus, teman abangnya, Audrey jadi bersemangat.
Ia merasa nyambung dengan cowok itu,
bisa bercerita tentang berbagai ketakutan yang dirasakannya.

Saat persahabatan mereka semakin erat dan kesembuhannya semakin nyata, hubungan romantis yang manis terjalin di antara mereka.
Hubungan yang bukan cuma menolong Audrey tapi juga seluruh keluarganya.


Aku, Audrey (Finding Audrey), Sophie Kinsella
Juli 2015, 360 halaman


***


Seperti yang dipaparkan blurb novel ini, Audrey mengalami gangguan kecemasan yang merupakan efek bullying di sekolahnya. Alasannya selalu memakai kacamata hitam tentu bukan tanpa alasan. Audrey takut akan suatu kontak dengan seseorang.

Narasi lincah yang digunakan Sophie Kinsella membuat saya betah novel ini. Di awal cerita, dengan cepat disuguhi pertanyaan-pertanyaan yang membuat ingin lekas membalik halaman. Awalnya, saya kira penulis menggunakan PoV 1 dan bakal memfokuskan pada masalah gangguan psikologis Audrey. Tapi ternyata… di awal cerita—bahkan nyaris setengah cerita, bakal disodorkan mengenai semacam ketergantungan terhadap game yang dialami Frank, kakak laki-laki Audrey. Bagaimana Frank kecanduan game yang membuat Mum waspada.

Selanjutnya, barulah kisah Audrey dipaparkan. Di mana sebelumnya ia bertemu dengan Linus—teman main game abangnya—dan melakukan “kontak sepatu”. Dan tentu saja awal pertemuan mereka tidak semulus itu. Awalnya Audrey cemas, lari, dan bersembunyi saat bertemu Linus. Dari “kontak sepatu”, kisah mereka berujung pada romance yang cukup manis. Bagaimana Linus membantu Audrey menghadapi beberapa tantangan yang diajukan oleh Dr. Sarah. Oh, dan yang termasuk bagian favorit itu adalah tantangan Starbucks.

Yang saya suka dari novel ini, tentu saja tema yang diangkat dan bagaimana eksekusinya. Kisah keluarga, masalah psikologis, romance, dirangkum menjadi cerita yang bagus! Dan tentu saja dengan terjemahan yang enak dibaca. Salut buat penerjemah dan editornya…

Meskipun begitu, saya lebih suka kalau novel ini berfokus pada Audrey! Rasanya porsi cerita Audrey kurang, bahkan antara sub-plot “kecanduan Frank akan game yang selalu diomeli Mum” membuat plot utama novel ini agak blur. Meskipun demikian, tetap saja saya menyematkan empat bintang untuk novel ini karena memang “very liked it”. Yap, still, four solid stars.

Terus suka banget sama desain sampul novelnya. Lebih keren dari versi aslinya nggak sih? :)


By the way, suka deh GPU gerak cepat menerjemahkan novel bagus seperti ini… :D 

15.6.15

[26] Dilan by Pidi Baiq








"Milea, kamu cantik, tapi aku belum mencintaimu. Enggak tahu kalau sore. Tunggu aja" (Dilan 1990)

"Milea, jangan pernah bilang ke aku ada yang menyakitimu, nanti, besoknya, orang itu akan hilang." (Dilan 1990)

"Cinta sejati adalah kenyamanan, kepercayaan, dan dukungan. Kalau kamu tidak setuju, aku tidak peduli." (Milea 1990)


Dilan, Pidi Baiq
DAR! Mizan, 323 halaman


***


Novel ini membuat saya penasaran sejak lama. Saya selalu urung membelinya karena rasanya ingin meminjam saja. Tapi minggu lalu akhirnya saya tergoda untuk membelinya.

Apa yang membuat saya penasaran? Tentu saja review dan rating Goodreads yang mengapresiasi novel ini. Juga melihat betapa novel ini laris manis di pasaran.

Dengan setting 1990, saya dibawa ke masa SMA yang ceria. Tentang Milea yang menceritakan keunikan-keunikan Dilan. Sebenarnya tingkah Dilan ini bisa digolongkan manis, bahkan saya sempat meringis geli di awal novel. Tapi lama-kelamaan… saya tidak menemukan di mana lucunya. Yeah, masalah selera aja. Lama-kelamaan, saya terganggu dengan dialog yang terlalu banyak.

Di awal juga sempat gregetan dengan mantan pacar Milea. Juga sempat tertarik dengan keadaan Milea yang masih berstatus mantan. Lalu akhirnya… ya… begitu. Saya mungkin tidak memiliki rasa humor yang baik. Payah banget saya memang. Bahkan banyak adegan yang saya skip. Saya juga merasa banyak yang “kasar” tulisannya.


Ada yang berkomentar, katanya novel ini “Bandung” banget candaannya. Jadi, apakah itu sebabnya saya tidak bisa relate dengan novel ini, ya? Tapi bagaimanapun juga, saya tetap akan membeli novel keduanya sih. Semoga aja di novel kedua saya bisa menikmatinya ya.

14.6.15

[25] I Love You by Alvi Syahrin



Ini kisah cinta pertama.

Cinta yang polos dan meragu,
menjebakmu dalam momen katakan-tidak-katakan-tidak,
membuatmu bertanya, “Apakah rasa ini akan sepadan dengan hasilnya?”


[Daisy]
Aku telah jatuh cinta. Untuk kali pertama.
Cinta yang membuat harapku terbang ke angkasa.
Namun...
Akankah dia menyadari hadirku kala aku sendiri ingin bersembunyi, dari tubuh remaja tujuh belas tahun yang tak tumbuh sebagaimana remaja lainnya?

[Alan]
Tidak semua laki-laki sama, yakinku.
Tetapi... Mengapa...
Semakin aku mencoba, semakin jalan terasa berselisih?

[Ve]
Aku sudah tahu betapa cinta hanya bisa menyisakan luka.
Luka dan rahasia.
Rahasia yang bahkan kepada sang penulis kusampaikan,
“Tolong jangan beri tahu Alan dan Daisy. Juga pembacamu.”


Ini kisah cinta pertama...
yang membuat hati kecilmu selalu bertanya,
“Apakah cerita ini bisa membawa bahagia?”

I Love You by Alvi Syahrin
Gagas Media, 323 halaman

***


Saat Gagas Media mengungumkan akan adanya seri LOVE CYCLE, saya tidak terlalu antusias. Tapi saat itu di Goodreads, Alvi Syahrin mem-posting cuplikan bab pertamanya yang membuat saya penasaran. Gaya bercerita dengan sudut pandang orang pertama yang cukup appealing. Setelah itu, saya pun memasukkan novel tersebut di daftar buku yang harus saya baca.


Dan ternyata saya menyukai novel ini.

Daisy Yazawa memiliki kelainan pada kromosomnya, sehingga pubertas telat datang. Hal yang selalu gadis itu pertanyakan adalah payudaranya yang tidak tumbuh dan menstruasinya yang tak kunjung datang. Lalu ia jatuh cinta pada seorang mahasiswa yang begitu jauh dari jangkauan. Apa mungkin ia bisa “dilihat”? Toh ia mulai terbiasa tenggelam dalam sosialisasi. Apa yang bisa Daisy harapkan dari dirinya sendiri? Tapi akhirnya ia memutuskan untuk lebih berani…

Sementara itu, mahasiswa Teknologi Informatika bernama Alan Atmadjaya mengetahui perasaan yang selalu mengganggunya sejak lama. Perasaan itu kerap muncul tatkala melihat perempuan itu. Perempuan dengan kekurangan yang membuat Al merasa perempuan itu sempurna. Tapi bagaimana caranya Al untuk menembus dinding kokoh yang selalu membuatnya berjarak dengan perempuan itu? Sampai suatu ketika Al mengetahui apa yang perempuan itu sembunyikan.

Berbeda dengan Daisy dan Al, Violetta menyembunyikan rapat-rapat masa lalunya. Membuat jarak terhadap siapa pun laki-laki yang mendekatinya. Tapi perempuan itu tidak pernah tahu bahwa sebenarnya cinta bisa mengikis tembok pertahanan yang ia buat. Sampai ia benar-benar sadar, bahwa tidak kebanyakan laki-laki sama dengan laki-laki yang pernah menghancurkannya.

Saya cukup menikmati cerita ini. Saya tahu kecanggungan Al. Saya mengerti kenapa Daisy begitu kekanakkan. Juga paham mengapa Ve menutup diri.

Sedikit catatan, rasanya ada beberapa bagian dalam novel ini yang terasa kasar. Tapi, untunglah novel ini diramu dengan baik. Juga terdapat pertanyaan mengganjal yang tidak terjawab untuk saya pribadi.

Awalnya, saya kira ini novel yang cenderung coming of age, terlebih saat membaca cuplikan bab pertama. Tapi ternyata lebih cocok young adult karena anak kuliahan dan lebih “berat”.

Untuk Alvi Syahrin, ini pertama kali saya membaca novelnya. Rasanya penulis bisa berkembang dengan keinginan yang dipaparkannya di “Surat dari Penulis”.


Terus berkarya, Alvi.

9.6.15

[24] Fall by Carammella





Pada pertemuan pertama, ia mengoyakmu. Membuat kau hancur menjadi serpihan-serpihan kecil, hingga kau tidak dapat mengenal dirimu lagi.

Kau hancur, luluh, berantakan.

Dalam usahamu menyusun kepingan-kepingan diri yang ia serakan. Ia kembali datang. Dan sekali lagi mencoba menhancurkanmu untuk menjadikan miliknya.

Tidak diragukan lagi membunuhnya adalah keinginan terbesarmu. Tapi bagaimana jika hanya padanya, ia yang menghancurkanmu, kau merasa utuh.

__

Fall, mengisahkan kisah kehancuran terbesar yang dapat menimpa seorang perempuan. Kebencian yang dibalut hasrat. Juga keinginan memiliki yang sangat obsesif.

Dalam jalinan kisah yang dirangkai Carramella, semua perasaan tersebut ditampilkan dengan keindahan yang mengusik jiwa. Membuat kita secara terpaksa mengakui, bahwa terkadang, sebuah kehancuran pun dapat terlihat sangat indah.


Fall, Carammella
Crimson, 225 halaman

***

Well, ini adalah buntelan pertama saya dari BBI. So, excited banget dong untuk segera dibaca. Saya pun menanti-nantikan kapan novel ini dikirim ke rumah saya. Begitu sampai, saya langsung membuka novel ini.

Kesan pertama saya? Cantik! Lay out dan desainnya manis sekali. Saya suka perpaduan black and white dari novel ini. Kesannya juga luks dan berkelas. Sambil menikmati pandangan akan desain sampul yang oke, saya akhirnya lekas-lekas membaca novel ini.

Novel ini menceritakan tentang perbedaan tipis antara cinta dan benci. Premis yang digunakan novel ini juga menjanjikan, di mana tokoh utamanya, Marianka, telah direnggut kesuciannya oleh pria bernama Rem. Tapi… Marianka sendiri tidak tahu, apakah ia benar-benar membenci Rem karena ia juga mencintainya.

Premisnya menarik, bukan?

Kelebihan novel tersebut pada pada premis yang menjanjikan. Flashback pun disisipkan untuk mengetahui benang merah hubungan Marianka dan Rem sebelumnya.

Yang mengganjal adalah back story yang terlalu… kosong. Juga narasi-narasi yang tidak bulat (aduh, bahasa apaan ini? Sotoy mulai). Kalau dari panjang cerita, lebih cocok jadi novelet ketimbang novel pula.

Meskipun bagi saya pribadi tidak menyukai gaya eksekusi menulis si penulis, untuk penyuka bahasa mendayu-dayu, saya rekomendasikan novel ini.

Untuk typo, banyak banget sebenarnya. Tapi “tersamarkan”…


Omong-omong, beneran, saya suka lay out-nya! Empat jempol untuk setter dan yang desain buku ini.

20.5.15

[23] Lilith's Bible by Hendri Yulius





“Rangkaian kata-kata yang dituturkan Hendri mengaburkan batasan antara kenyataan dan cerita fiksi. Karya ini merangkum kejadian yang mungkin saja terjadi dan sudah terjadi, dan mengingatkan saya tentang ketidakadilan yang terus terulang. Sembari membaca, ada kepedihan dan kemarahan yang menjilati emosi saya, dan setiap ada darah pembalasan yang menetes, saya dirasuki rasa puas. Seakan Lilith membisiki telinga saya.”
- Sunny Soon, aktor "Cin(T)a dan "Demi Ucok"

Kitab ini membisikkan sebuah rahasia terbesar dalam sejarah manusia: Setelah menciptakan Adam, Tuhan tidak menciptakan Hawa. Melainkan seorang perempuan cantik bernama Lilith. Hanya saja, kedatangan Hawa tak lama setelah penciptaan mereka membuat Adam lebih memilih Hawa. Kemarahan Lilith membuatnya menjalin kasih dengan Lucifer—sang iblis—dan berkelana dari satu zaman ke zaman lain menuliskan dendam dan pembalasan para perempuan.

Pada tiap lembar kitab ini, ruap aroma darah dan semerbak wangi perempuan akan menyihir tiap-tiap mata yang menjelajahinya. Tiap-tiap kisahnya pun akan membawamu pada kegelapan pekat yang tak pernah kamu kunjungi sebelumnya. Apakah kamu sudah siap ditelanjangi dan disiksa oleh Lilith—ibu  kaum perempuan yang sesungguhnya?

“Lilith’s Bible tells us dark tales about women and their tabooed passions. A macabre series of feminist stories. Brilliant.”
- Amahl S. Azwar, The Jakarta Post

Lilith’s Bible, Hendri Yulius
Elex Media Komputindo, 212 halaman

***

Pertama, saya memang udah tertarik ketika buku ini seliweran di news feed Facebook. Judulnya juga menarik. Pas dilihat di Goodreads, baca sinopsisnya, makin penasaran. Akhirnya beberapa minggu yang lalu saya pun membelinya dengan ekspektasi sedemikian rupa.

Dan, saya sama sekali tidak kecewa. Pertama, mungkin saya bukan kuliah di sastra Indonesia (teman saya yang jurusan itu selalu bilang ada buku-buku wajib untuk masuk kelas feminisme, tapi mungkin saja kalau ada perubahan buku kanon, buku ini juga masuk), jadi tidak terlalu bisa mengerti letaknya bagaimana. Tapi, kesan akan pengarang buku ini terhadap feminisme cukup lekat. Saya sotoy sih. Tapi mungkin begitu.

Kedua, saya tertipu. Karena ditulis di sampul belakang kalau ini adalah novel, ternyata adalah kumpulan cerpen. Iya, kumpulan cerpen yang dibuat sedemikian rupa sehingga kita seolah menjadi Ayla yang membaca Lilith's Bible.

Ketiga, sebenarnya napas dari cerita-ceritanya sama. Menyerempet gotik, juga thriller yang buat ngilu. Mungkin juga akan membuat bosan karena terkesan "sama saja". Tapi, saya tetap suka. Dari awal saja saya sudah tersentak di cerita pertama, merasa tercekik dan tersekat! It's a good material for thriller!

Keempat, saya suka dengan pemilihan kata yang dibuat oleh pengarang. Rasanya pas. Kadang ditulis tetek, kadang payudara, mungkin untuk menyesuaikan cerita. Dan, bagi saya itu tepat. Tapi, agak bosan dengan kata "sintal". Karena mungkin tokoh-tokoh perempuan di sini dibuat sama rupanya.

Kelima, ada yang aneh di halaman 58.

"Lantas, kugunakan itu untuk mengikatkan sepasang kaki dan tanganmu dengan terali besi panjang. Usai itu, kutelanjangi tubuhnya hingga polos."

Abis diborgol, terus ditelanjangi. Kalo memang ditelanjanginya dengan ngerobek-robek, baru masuk akal sih. Hehehe.

Keenam, pemilihan judul di beberapa cerpen. Aduh, amat disayangkan, judulnya kadang justru menjadi spoiler twist apa yang digunakan oleh pengarang. Padahal kalau judulnya tidak seperti itu, pasti lebih nendang. Tapi, tergantung selera pembaca ya. Ini cuma masalah selera.

Ah, di luar itu semua... saya suka banget sama buku ini. Buku yang menutup tahun dengan apik.

Empat bintang bulat untuk "novel dewasa" ini! :)



Catatan: resensi dibuat pada 9 November 2013.

18.5.15

[22] Kota Lama & Sepotong Cerita Cinta by Herdiana Hakim








Di sebuah kota lama bernama Jepara, aku belajar makna cinta yang sesungguhnya. Juga bahwa manusia tidak sempurna, dan cinta selalu memilih jalannya.


Jika hidup mengecewakanmu, apa yang akan kau lakukan? Jenny Ayu Maharani memilih melarikan diri. Sejauh mungkin. Ternyata, semesta berkata lain. Ia tidak hanya melintasi jarak, tetapi juga waktu, ke sebuah kota lama bernama Jepara.

Kala puncak karier dan kebahagiaan sudah di depan mata, Jenny mendapati dirinya terpuruk ke lubang terdalam. Segala harapannya padam.

Di tengah kekalutan itu, ia bertemu Diana Danika, pengagum Raden Ajeng Kartini yang seolah bisa membaca pikirannya. Bersama Diana, ia melarikan diri dari realitas rumit yang membelit. Namun, entah bagaimana, alunan suara ganjil melemparkan Jenny melintasi tempat dan waktu—bertemu sang Putri Jepara.

Dua perempuan berbeda masa pun seakan ditakdirkan bertemu, berbagi kisah yang tak pernah usang, tentang hidup, cinta, dan impian. Ketika masa lalu lebih indah daripada masa kini, haruskah Jenny kembali?

Kota Lama & Sepotong Cerita Cinta, Herdiana Hakim
Gagas Media, 312 halaman

***


Pertama, sebelum meresensinya, saya mau mengatakan bahwa ini pertama kalinya saya menang giveaway di Goodreads! Yeay! Rasanya senang sekali. Terima kasih juga untuk pengarangnya, Herdiana Hakim, yang mengirimnya langsung dan saya mendapat autograph copy-nya. Thank you.

Oke, kembali ke novel ini. Novel ini menceritakan tentang Jenny yang begitu dingin. Yang merasa kalah telak karena tidak bisa menjadi kepala IT di kantornya. Lalu ia bertemu dengan Diana Danika yang mengatakan bahwa sifat Jenny keras seperti Kartini. Oh, right. Kartini yang saya maksud adalah R.A. Kartini. Diana begitu mengidolakan R.A. Kartini, dan berkata bahwa sudah sepatutnya Jenny mengetahui siapa sosok tersebut.

Sebenarnya saya cukup tersindir, karena saya hanya tahu sosok beliau—Kartini—dengan lagu yang kerap dinyanyikan di SD saat itu. Pokoknya sekadar tahu bahwa ada sosok emansipasi wanita. Dan dengan membaca novel ini, saya cukup sadar bahwa seharusnya saya tidak “Jas Merah”.

Menariknya novel ini, Jenny akhirnya mengikuti sebuah tur Kartini yang pada akhirnya berujung pada perjalanan menembus waktu dan terdampar di Jepara pada tahun di mana Kartini sedang berjuang.

Awal cerita novel ini memang cenderung membosankan, tapi mulai seru ketika Jenny melintasi waktu. Tapi meskipun saya menikmati novel ini—apalagi bahasanya cukup mengalir, saya rasa ada yang kurang sreg. Ada sesuatu yang rasanya miss. Tapi tetap saja, saya menikmati novel ini dan suka bagaimana penulis menuliskan kembali sejarah Kartini sehingga saya yang awam dan tidak begitu mengenal sosok beliau jadi cukup “tercerahkan”.


Saya juga suka unsur romance di novel ini yang tidak terlalu kental. Rasanya manis. Dan saya juga suka bagaimana tiap pertanyaan di kisah ini dijawab di ending cerita. Dan untuk novel debut, it’s good. Menantikan novel-novel Herdiana Hakim selanjutnya. Dan terima kasih banyak sudah mengirimkan saya novel ini… J

14.5.15

[21] The Lunch Reunion by Tria Barmawi







Banyak yang telah berubah. Mereka sekarang telah berkeluarga dan bekerja di tempat berlainan, tetapi Xixi, Keisha, Tia, dan Arimbi tetap menjadi sahabat setia. Sayangnya, Vinka menghilang entah ke mana.

Banyak yang tak terduga dalam kehidupan mereka. Yang paling ingin memiliki anak tak kunjung hamil, yang bertekad tidak mau hamil malah hamil. Xixi stres dengan peran barunya di rumah, Keisha stres dengan perubahan hormonnya, Tia cuek dengan penampilannya, dan Arimbi yang banyak diam akhirnya meledak juga. Lalu muncul Kasih Kinanti, membawa berita yang membuat Keisha semakin uring-uringan.

Persahabatan mereka kembali terancam. Setelah Vinka, akankah Keisha menjadi yang berikutnya yang meninggalkan sahabat-sahabatnya?

The Lunch Reunion, Tria Barmawi
Gramedia Pustaka Utama, 272 halaman


***


Ya, ini adalah novel lanjutan The Lunch Gossip. Masih menceritakan tentang persahabatan mereka. Jika novel sebelumnya begitu sarat dengan dunia karier yang penuh intrik, novel ini menyuguhkan cerita tentang perempuan-perempuan hebat yang mengalami kehidupan rumah tangga.

Well, novel ini menceritakan bagaimana mereka berperan sebagai istri. Juga peran mereka sebagai sahabat, peran mereka sebagai ibu rumah tangga, juga peran mereka sebagai ibu! Dan jangan lupa, peran mereka sebagai sahabat!

Meskipun novel ini lebih “ibu-ibu” banget dengan problematika yang dihadapinya, saya lebih suka novel ini. Mungkin karena novel ini ditulis dengan PoV 1 bergantian sehingga feel-nya lebih terasa.

Xixi dam Arven sedang menantikan kelahiran anak keduanya, bahkan Xixi sedang berpikir untuk mengorbankan sesuatu yang berharga demi menjadi ibu yang baik untuk anak-anaknya. Ada juga Tia yang menikah dengan Rimba dan sedang mengandung buah cinta mereka. Sedangkan Keisha yang meledak-ledak akhirnya menjadi istri seorang Paul yang menurutnya adalah Xixi versi cowok. Lalu Arimbi yang menikah dengan pria bernama Fariz. Bahkan, “sahabat mereka yang lama” juga turut meriahkan novel ini.

Banyak hal-hal tak terduga dalam kehidupan mereka. Yang paling ingin memiliki anak tak kunjung hamil, yang bertekad tidak mau hamil malah hamil. Intinya, titik berat konflik novel ini sebenarnya ada pada diri mereka masing-masing—yang nantinya juga bersinggungan. Novel ini juga menggambarkan bahwa menjadi seorang ibu adalah hal yang tidak mudah.

Novel yang bagus buat saya pribadi.


Jadi, kesimpulannya sama dengan novel The Lunch Gossip: saya penasaran dengan novel-novel Tria Barmawi.