18.4.14

[5] Song of Will by Jason Abdul








"Akan kuberitahu siapa yang kusukai."

William, harus melawan kesedihan setelah kepergian sahabatnya ke Swiss.

Laura, berpikir kecantikannya bisa memberi segala yang tak bisa diberikan keluarganya yang hidup sederhana.

Evan, berjuang melupakan masa lalu yang kelam saat hidup di jalanan.

Nana, belajar mengambil keputusan sulit untuk menyatukan kembali keluarganya yang berantakan.

Empat remaja yang berusaha memahami diri sendiri serta arti mencintai keluarga. 
Keempat-empatnya punya topeng yang ingin mereka lepaskan. 
Keempat-empatnya punya rahasia yang ingin mereka bagi. 

Sebab semua orang punya masa lalu. Dan mimpi


Song of Will, Jason Abdul
Moka Media


***

Ketika membaca sinopsis di belakang novel ini, saya langsung penasaran. FYI, saya juga sedang coba menyelesaikan naskah tentang empat orang sahabat (yang sudah ditagih oleh editor tapi tidak kunjung selesai karena sedang menyelesaikan skripsi... hiks). Mungkin saja novel ini bisa dijadikan referensi, hihihi. Tapi ternyata persoalan dan konfliknya beda. Apalagi ternyata ini masuk ke dalam cerita coming of age. Tapi, novel Song of Will ini bukan novel coming of age biasa yang menceritakan kisah cinta pada umumnya novel remaja Indonesia yang cenderung light dalam berkisah.

Novel ini menceritakan Will yang memiliki suara emas dan begitu tampan. Dapat dikatakan Will adalah salah satu cowok most wanted di sekolahnya. Pergejolakan batinnya dimulai ketika sahabatnya, Ben, pindah ke Swiss. Sampai akhirnya datanglah Evan aka "Evil" yang pindah ke sekolahnya dan sekelas. Evan adalah sahabat lama Will di SMP. Juga rentetan kejadian yang mengharuskan Will berkenalan dengan Nana di mana saat itu Nana "terpeleset". Serta Laura, perempuan yang begitu gemar berpetualang akan cinta.

Mau tahu serunya perjalanan mereka? Oh, you have to read by yourselves! :p

***

Baiklah, mari kita mulai me-review. Dan seperti biasa, saya selalu memulai dari bagian yang kurang saya sukai.

  1. Kekurangan dari novel ini adalah karakter yang tidak tergali. Mungkin saja ini hanya masalah selera dalam membaca. Tapi sayangnya tidak ada karakter yang likeable, hanya pada Laura saya menaruh simpati. Eksplorasi vocal group yang rasanya kurang. Sebagai penikmat musik (halah, gaya banget nih saya), harusnya bisa lebih digali. Hohoho
  2. Penulis rasanya bermain aman dengan konflik yang ada di dalam novel ini. Uh, saya memang terlalu menyukai "drama". Cukup disayangkan penulis tidak menggali lebih jauh konflik dalam diri Will, Laura, Evan, dan Nana. Eh tapi kalau konfliknya banyak, bukunya bakalan tebal dong ya.
  3. Setting. Jujur saja, saya tidak tahu di mana setting tempat novel ini. Mungkin saja saya yang skip membacanya? Tapi yang jelas saya tidak tahu di mana kota yang diambil penulis. Awalnya, saya ingin mengira ini di Jakarta. Tapi, ketika Will berbicara dengan Ben dengan "aku-kamu", rasanya tidak mungkin. Mungkin Bandung? Atau Jawa? Tapi rasanya hidup tokoh-tokohnya sudah dapat digolongkan modern
  4. Kalau yang keempat, rasanya hanya selera pribadi saya. Kenapa? Karena saya merasakan keganjilan ketika membaca novel ini. Dari halaman awal, saya merasa bahwa galau yang ditimbulkan Will terlalu "perempuan", sehingga saya tidak terkejut dengan twist yang dimaksud oleh penulis. Sebenarnya saya bingung, ini termasuk ke dalam kekurangan atau bukan ya? :D

Selesai untuk kekurangannya, sekarang kita lihat kelebihan novel ini! :)
  1. Dudeare you getting bored with light story in TeenLit? Kalau jawabannya ya, kamu bisa membaca novel ini karena jalinan cerita yang ditawarkan cukup berbeda. Mulai dari cerita anak jalanan, vocal group, permasalahan rumah tangga atau keluarga, bahkan (sial, ini spoiler kalau saya bilang... tapi saya bilang deh) orientasi seksual. Saya tidak heran, karena Jason Abdul di dalam ucapan terima kasihnya menulis sangat mengidolakan Melina Marchetta. Saya juga kok. TeenLit tulisan Melina Marchetta kan memang keren-keren! *ngajak Jason nge-fanboy*:)
  2. Novel yang semarak akan tokoh (ada empat lakon dan banyak sekali yang ikut bercerita di sini seperti keluarga tokoh-tokohnya), tidak membuat saya bingung dalam mengikuti cerita.
  3. Plot yang buat penasaran. Meski tadi saya sempat mengungkit bahwa saya tahu twist yang akan diberikan penulis, tapi saya masih belum tahu ke mana penulis akan membawa cerita, sehingga ketika membaca Song of Will, saya harus dalam sekali baca. Tidak menunda-nunda. Jadi, novel ini punya magnet.
  4. I love the cover! Beneran suka banget loh! Keren gitu. Eh ini tidak masuk dalam kelebihan novel ya? Hihihi. Tapi saya benar-benar suka! Meski sebenarnya "ide" cover novel ini sedang trend (seperti yang saya baca di Facebook-nya Jason Abdul sendiri, hehe).

Sebenarnya, saya di awal menduga bahwa Will ini penganut bromance. Tapi, makin ke halaman 45, saya rasa... Will ini 'bermasalah'. Dan, ternyata terbukti ya. 

Oh iya, saya baca review di Goodreads dan bilang kalau ini adalah naskah Jason Abdul sebelum jadi editor di TeenNoura. Jadi penasaran sekarang tulisan apalagi yang akan diberikan seorang Jason Abdul. Penasaran! :)

Terus berkarya! Suatu saat, kita ngobrol bareng yuk! Kemarin tidak sempat karena saya buru-buru pulang di JCC!


Tidak ada komentar:

Posting Komentar