17.4.14

[3] Cinta Emang Bego by Nikma TS



"Kuberi tahu kamu soal Febri, cowok yang gantengnya bisa bikin artis Korea langsung ingin operasi plastik lagi. Aku tergila-gila padanya. Peduli setan sohibku naksir dia. Aku nggak peduli status gebetanku di sekolah, nggak peduli mamaku mencak-mencak, nggak peduli brownies buatanku hangus demi cinta. Bahkan ketika gebetanku diam-diam punya rahasia, aku juga nggak peduli.

Kamu pikir cintaku bego? Emang!

Kamu baru tahu?"

Cinta Emang Bego, Nikma. TS
Moka Media


****

Ketika membaca blurb dari novel ini, yang langsung tercetak jelas di pikiran saya adalah novel komedi. Alih-alih saya menyimpulkan dari premis yang samar terbaca. Sebenarnya, genre komedi untuk sebuah novel bukanlah favorit atau selera saya. Tapi saya pun berusaha membacanya.

Jadi, di novel perdana Nikma. TS ini, menceritakan tentang Lintang yang tergila-gila oleh sekuriti sekolahnya. Dideskripsikan kalau sekuriti sekolahnya ini begitu ganteng, bahkan beberapa perempuan di sekolahnya juga ikut terpesona dengan outer yang dimiliki oleh Febri (nama sekuritinya).

Lintang pun harus susah payah mendapatkan cinta Febri. Apalagi sahabatnya di SMA, Virna, juga naksir dengan Febri. Bukan hanya itu, sahabat yang sudah menjelma rival itu lebih "berada" dibanding Lintang. Untungnya, Lintang memiliki kesempatan untuk dekat dengan Febri dengan menawarinya ngekost di rumahnya. Jadi, Lintang pun bisa dekat-dekat dengan Febri sepulang sekolah.

Seperti cerita coming of age pada umumnya, akhirnya Lintang dan Virna musuhan karena "rebutan" Febri. Mereka berdua mulai dengan rencana bagaimana bisa "menang" dalam duel yang berkobar.

Sampai akhirnya mereka tahu siapa Febri sesungguhnya.


****


Kekurangan dari novel besutan Nikma ini adalah bagaimana penulis tidak mengeksplor lebih jauh setting yang digunakan. Padahal, bagi saya pribadi Nikma bisa menyisipkan deskripsi yang baik soal Malang. Nikma hanya membuat setting jadi sebuah tempelan. Amat disayangkan karena bisa dieksplor lebih jauh. Mungkin karena terbiasa "bercerita layaknya diary" dengan menggunakan PoV 1. Narasi yang digunakan lebih banyak hanya tentang perasaan "Lintang", sedikit sekali menggunakan panca indera yang lain untuk membangkitkan suasana.

Konflik yang digunakan pun "teraba" oleh pembaca seperti saya. Bahkan, dengan mudah menebak apa yang ingin dijadikan twist oleh penulis. Jadi, ketika membaca sampai habis, sama sekali tidak terkejut. Mungkin karena klu yang dibuat memang diarahkan seperti itu ya.

Kelebihan dari novel ini adalah gaya menulis yang lincah dan mengalir. Bahkan, saya cukup kaget ketika bisa menyelesaikan novel yang bukan biasa jadi "makanan" saya. Artinya, penulis memiliki gaya menulis yang cukup baik sehingga saya bisa menyelesaikannya dengan cepat. 

Selain itu, saya benar-benar mengkhayalkan adegan komikal ketika Lintang bertanya pada Sandra tentang trik untuk menggaet cowok. Itu lucu banget buat saya. Apalagi pemilihan kata-kata "ngocol" seperti pepatah yang diplesetkan. Benar-benar buat meringis! :D


Untuk pendapat saya pribadi, walau penulis menggunakan PoV 1 di mana sehurusnya saya bisa ikut terhanyut dengan perasaan galau, sama sekali tidak bagi saya. Mungkin karena saya tidak terlalu menyukai genre ini. Karakter yang diciptakan juga tidak likeable, lagi-lagi karena bagi saya yang sudah berumur (kepala dua), sikap mereka kekanakkan. Termasuk Faundra yang sudah kuliah. Karakter yang ada masih perlu digali lebih dalam, sehingga pembaca dapat merasakan simpati.

Terlepas dari itu semua, saya rasa Nikma bisa menjadi penulis light comedy ala coming of age seperti Sophie Kinsella atau Mia Arsjad (saya baca novelnya bisa membuat pembaca tertawa lalu terisak sedih). Menulis kan memang proses. Untuk sebuah debut, saya sangat mengapresiasinya. Nikma juga harus banyak membaca novel-novel bagus sehingga memunculkan premis-premis novel light comedy yang enak untuk dibaca agar makin terasah. 

Semangat dan semoga karir menulis Nikma terus menanjak.

PS:
Saya boleh nggak sih jadi proofreader di Moka Media. Iseng, ketika membaca saya mencatat beberapa typo yang ada di novel ini. Hitung-hitung perbaikan untuk cetak ulang nanti. Hehehe.

  1. Pos satpam 4x4 meter rasanya berlebihan. Irasional deh kayaknya :)
  2. Penggunaan kata brownies, seharusnya brownies karena belum masuk padanan KBBI.
  3. pak Taufik > Pak Taufik (hal 2)
  4. But > But (hal 8)
  5. saliva > saliva (hal 9)
  6. cowok-cowok pacarmu > pacar-pacarmu (hal 11) 
  7. dibawanya > dibawa (hal 11)
  8. kami— di > kami—di (hal 14)
  9. ke17 > ke-17 (hal 23)
  10. mas > Mas (hal 29, 57)
  11. android > Android (hal 29)
  12. sorry > sorry (hal 41)
  13. jawa > Jawa (hal 42)
  14. bondo > bondo (hal 42) | Ini istilah Jawa (kalau iya, dimiringkan, kalau nggak, ya tetep typo untuk "bodoh".
  15. Smartphone > Smartphone (hal 43)
  16. mood > mood (hal 44)
  17. Ajrit > Anjrit (hal 45, kalau dilihat pemakaian kata anjrit pada halaman sebelumnya)
  18. eskul > ekskul (hal 49)
  19. Bahasa > bahasa (hal 50)
  20. nafas > napas (hal 50)
  21. hunting > hunting (hal 51)
  22. No, thanks > No, thanks. (hal 51)
  23. Deal > Deal (hal 51)
  24. Satpam > satpam (hal 52)
  25. nggak > tidak (inkonsistensi narasi) (hal 63, 68, 78, 168)
  26. kakak > Kakak (memanggil langsung) (hal 63)
  27. dia > ia (inkonsistensi) (hal 95, 126, 150, 156)
  28. bodo > bodoh (hal 67 dan yang lain *lupa catat*)
  29. kran > keran (hal 70)
  30. jogging > jogging (hal 72)
  31. suka rela > sukarela (hal 76)
  32. Enggak > nggak (inkonsistensi) (hal 95)
  33. sapu tangan > saputangan (hal 101)
  34. tanpak > tanpa (hal 107)
  35. pop corn > popcorn (hal 118)
  36. knop > kenop (hal 120)
  37. surah > surat (hal 122)
  38. laptop > laptop (hal 129, 130)
  39. type > tipe (hal 142)
  40. Ferbri > Febri (hal 143)
  41. ha > kata "ha" dihapus (hal 150)
  42. ya" > ya," (akhir kalimat langsung) (hal 152)
  43. adiknya > adiknya." (akhir kalimat langsung) (hal 152)
  44. sungguh > Sungguh (hal 160)
  45. band > band (tergantung bahasa selingkung penerbit sih hehe) (hal 171)


2 komentar: