13.3.14

[1] Pulang by Leila S. Chudori








Paris, Mei 1968. 


Ketika revolusi mahasiswa berkecamuk di Paris, Dimas Suryo seorang eksil politik Indonesia bertemu Vivienne Deveraux, seorang mahasiswa Prancis yang ikut demonstrasi melawan pemerintah Prancis. Pada saat yang sama, Dimas menerima kabar dari Jakarta: Hananto Prawiro, sahabatnya, ditangkap tentara dan dinyatakan tewas. Dimas merasa cemas dan gamang. Bersama puluhan wartawan dan seniman lain, dia tak bisa kembali ke Jakarta karena paspornya dicabut oleh pemerintah Indonesia. Sejak itu mereka mengelana tanpa status yang jelas dari Santiago ke Havana, ke Peking dan akhirnya mendarat di tanah Eropa untuk mendapatkan suaka dan menetap di sana.



Di tengah kesibukan mengelola Restoran Tanah Air di Paris bersama tiga kawannya: Nug, Tjai, dan Risjaf—mereka berempat disebut Empat Pilar Tanah Air—Dimas, terus-menerus dikejar rasa bersalah karena kawan-kawannya di Indonesia satu persatu tumbang, dikejar, ditembak, atau menghilang begitu saja dalam perburuan Peristiwa 30 September. Apalagi dia tak bisa melupakan Surti Anandari—isteri Hananto—yang bersama ketiga anaknya berbulan-bulan diinterogasi tentara.



Pulang, Leila S. Chudori




***



Bagaimana menjabarkan novel ini ya? Halaman pertama novel ini sudah mengusik saya sampai ubun-ubun. Kata-kata tentang "bibir" itu juga menyenangkan.

Ya, seperti yang diketahui, novel ini dibagi menjadi tiga bagian: Dimas Suryo, Lintang Utara, dan Segara Alam.

Pada bagian "Dimas Suryo", tentu tokoh sentralnya adalah Dimas. Dengan setting yang sebenarnya tak terlalu banyak tempelan nama-nama tempat, bagi saya Mbak Leila (sok kenal ye!) mampu menyihir otak saya. Entah. Saya seperti dimasukkan ke dalam sebuah novel perjuangan macam karya Andrea, Fuadi, atau Dhirgantoro. Meski di sini kepelikan lebih ada. Namun, komposisinya bagi saya sangat pas (emangnya makanan!)

Lalu, saya sangat menyukai bagian "Lintang Utara", dengan tokoh sentral kebanyakan tentu pada Lintang, namun kadang juga pada Vivienne, Maman-nya Lintang. Atau bahkan menjadi sudut pandang ketiga. Tentang le coup de foudre, tentang cinta tak bersyarat, tentang kisah kelam dan berdarah. Entahlah semuanya pas, tepat, dan bulat. Tetapi, di kisah ini, penulisan Mbak Leila entah mengapa mengingatkan saya pada tulisan Jodi Picoult yang banyak konflik yang buat jengkel tapi tidak membuatmu kesal dan menaruh buku. Bagaimana ya, menjabarkannya.. intinya, saya makin menyukai novel ini pada bagian ini.

Beranjak ke bagian "Segara Alam", hal ini mungkin akan banyak kepada Alam. Alam yang jatuh cinta di usia ke-33 pada Lintang. Lintang yang memulai mengerjakan tugasnya untuk menemukan kepingan-kepingan masa lalu dan masa-masa kekelaman di era ayahnya remaja. Semuanya kompleks. Tapi tidak memberatkan orang-orang yang membacanya. Saya jadi ingat Einsten yang kalau tidak salah mengatakan bahwa guru yang hebat adalah yang dapat menjabarkan sesuatu dengan mudah bagi muridnya. Dan Mbak Leila, dengan materi seberat ini, mampu membuat saya yang tak terlalu mengerti karya-karya berat mengerti apa isi novel ini.

Semua unsur di novel ini saya suka. Bahkan mungkin, ini adalah novel terfavorit saya pada tahun 2013. Susah untuk menggeser predikat tersebut pada novel "Pulang" ini. Betapa... Ah, mungkin lagi-lagi ini juga masalah selera ya. Yang jelas saya jatuh cinta dengan ramuan konflik novel ini. Cinta, persahabatan, teror, peristiwa tragis, kekejian negara, dan mungkin banyak aspek yang ter-skip oleh saya. Semuanya menyenangkan. Semuanya adiktif bagi otak dan mata saya. Setting-nya gak ada yang bisa buat overdosis atau kekurangan. Semuanya PAS. Indonesia 30 September 1965 (kay, you named it with PKI after that words), Prancis Mei 1968, dan Indonesia Mei 1998. 

Salah satu quote favorit saya di novel ini terletak di Epilog. Pada surat Dimas Suryo kepada Lintang Utara:

"...kau tak boleh menyeret-nyeret nasib dan perasaan orang hingga hati orang itu tercecer kemana-mana. Kau harus berani memilih dengan resikonya."

Ah, saya juga jatuh cinta dengan tokoh Andini. Semoga saja Mbak Leila membuat cerita khusus tentang tokoh ini. Ah, saya suka sekali novel ini!

Dengan bangganya, saya membulatkan lima dari lima bintang untuk novel ini.