4.8.14

[7] Just One Day by Gayle Forman





Seumur hidup, Allyson Healey anak baik-baik. Lalu pada hari terakhir tur ke Eropa, ia bertemu Willem. Cowok Belanda itu aktor drama berjiwa bebas, sama sekali tidak seperti Allyson. Namun, ketika Willem mengajaknya meninggalkan rombongan dan ikut ke Paris, Allyson setuju. Keputusan spontan yang tidak sesuai dengan sifat Allyson ini membuatnya mengalami hari yang penuh risiko dan romantis, kebebasan, dan kemesraan: 24 jam yang mengubah hidupnya.

“Menawarkan misteri, drama, dan kisah cinta tak berbalas, novel ini akan membuat pembaca tidak sabar menunggu kelanjutannya.”
— Publishers Weekly, starred review


Just One Day, Gayle Forman
Gramedia Pustaka Utama


***


Sudah lama saya menanti-nantikan novel Gayle Forman setelah jatuh cinta dengan novel If I Stay dan Where She Went. Apalagi, saya begitu buncah saat tahu GPU akan segera menerjemahkannya. Saya sudah masukkan ke dalam wishlist agar segera membelinya. Dan beberapa hari sebelum Idul Fitri, akhirnya saya beli juga. Apalagi tahu bahwa translator dari novel ini adalah Mbak Poppy. Hmmm... bakalan menjadi santapan baca yang menyenangkan, bukan?

 Lalu, bagaimana isi novel ini?

Novel ini menceritakan tentang Allyson, gadis baik-baik dan generally normal (tipikal mayoritas seorang gadis kebanyakan) yang sedang ikut tur bersama Melanie, sahabatnya, ke Eropa. Lalu pada malam hari, saat di Stratford-upon-Avon, Inggris, tatkala ingin menonton pertunjukkan Shakespeare, Allyson dan Melanie menonton pertunjungan jalanan Shakespeare, yang herannya membuat mereka antusias. Dan di sana, Allyson bertemu Willem yang memerankan peran pembantu dalam drama jalanan tersebut.

Just One Day. Satu Hari Saja. 

Memang, satu hari pertemuan dengan Willem membuat jungkir balik perasaan Allyson, dan mungkin juga Willem. Di mana seharusnya Allyson kembali bersama Melanie, Allyson akhirnya justru pergi bersama Willem yang jelas-jelas baru saja ditemuinya ke Paris. Willem membuat Allyson benar-benar merasa "hidup", dan Allyson bak menjelma Lulu saat bersama pemuda itu.

24 jam pertemuannya dengan Willem membuat hidup Allyson berubah. Apalagi akhir pertemuannya dengan Willem sangat tidak mengenakkan. Setelah one night stand di tempat seniman di Paris, Willem pergi. Membawa arloji mahal milik Allyson, yang membuat perempuan itu berpikir bahwa Willem telah menipunya. 

Setelah itu, hidup Allyson benar-benar celaka. Maksudnya, hidup Allyson benar-benar dibayang-bayangi oleh sosok Willem. Dalam hati, dia masih bertanya-tanya soal Willem... Meski, yeah, logikanya mengatakan bahwa Willem adalah penipu ulung, dan tentu saja player. Bagaimana selanjutnya? 

Allyson "memberontak" pada orangtuanya. Dia rasa "kecelakaan" yang diajarkan Willem ada benarnya juga. Dia tidak ingin sekolah pra-kedokteran. Dia akhirnya mengambil kelas Shakespeare, yang mana menuntunnya untuk yakin mencari Willem lagi. Bagaimana kelanjutannya? Silahkan baca sendiri! Pokoknya bakal terhanyut dengan cerita yang disuguhkan oleh Gayle Forman. Apalagi diterjemahkan dengan apik oleh Mbak Poppy... :)

Lalu, bagaimana kekurangan novel ini? Sebenarnya saya hanya menyayangkan pace cerita yang begitu pelan. Tapi herannya semuanya mengalir begitu saja. Hanya itu. Banyak bagian dari novel ini yang terasa flat.

Kelebihan novel ini? Cukup banyak. Pertama, gaya bertutur yang baik. Deskripsi tempat yang juga apik, ditambah penerjemahan yang dilakukan juga sangat blended ke bahasa Indonesia. Perubahan gejolak emosi Allyson juga terasa bagi saya pribadi yang laki-laki.

Kelebihan lainnya adalah sisipan karya-karya Shakespeare, yang sebenarnya begitu asing bagi saya sehingga menambah insight baru. Lalu filosofi soal kecelakaan dan noda juga dapat saya terima dengan baik.

Oh iya, rasanya saya makin yakin jika sekuel novel ini akan berpindah ke Willem. Yup, saya berasumsi demikian karena dwilogi If I Stay begitu.

Dan... berapa rating yang saya berikan untuk novel ini? Sejujurnya sulit. Antara suka, dan suka sekali. Maka saya berikan 3.5 bintang. Dibulatkan menjadi empat bintang. 

Begitu tidak sabar membaca terjemahan Just One Year.

Catatan kecil, terdapat sedikit typos yang saya dapatkan:
  1. 105, kuliha -> kulihat
  2. 135, puuh -> puluh
  3. 165, Terrific Trio* -> Terrific Trio (saya kira ada footnotenya, ternyata memang salah ketik)
  4. 242, suara -> suara. (Akhir kalimat)
  5. 258, shock -> syok 
  6. 310, terhada -> terhadap
  7. 372, Centaal -> Central
  8. 376, Pasris -> Paris


19.6.14

[6] Interlude by Windry Ramadhina





Hanna, listen.
Don’t cry, don’t cry.
The world is envy.
You’re too perfect
and she hates it.

Aku tahu kau menyembunyikan luka di senyummu yang retak. Kemarilah, aku akan menjagamu, asalkan kau mau mengulurkan tanganmu.

“Waktu tidak berputar ulang. Apa yang sudah hilang, tidak akan kembali. 
Dan, aku sudah hilang.” Aku ingat kata-katamu itu, masih terpatri di benakku.

Aku tidak selamanya berengsek. 
Bisakah kau memercayaiku, sekali lagi?

Kilat rasa tak percaya dalam matamu, membuatku tiba-tiba meragukan diriku sendiri. Tapi, sungguh, aku mencintaimu, merindukan manis bibirmu.

Apa lagi yang harus kulakukan agar kau percaya? 
Kenapa masih saja senyum retakmu yang kudapati?

Hanna, kau dengarkah suara itu? 
Hatiku baru saja patah….


Interlude, Windry Ramadhina
Paperback, 380 pages
Published May 2014 by Gagasmedia


*** 

Blurb yang memikat dan cover yang begitu cantik, bukan? Saya tahu nama Windry Ramadhina sejak lama. Sejak review Montase membanjiri timeline Goodreads saya. Ditambah lagi, review yang diberikan memberikan respons positif. Kepo, saya juga add Mbak Windry di Goodreads. Meski sempat kecewa dengan novel thriller-nya, saya menaruh ekspektasi yang cukup bagi karya pengarang dengan genre new adult maupun young adult.

Lalu, terbitlah Interlude. Saya yang belakangan pusing dengan tetek-bengek skripsi, akhirnya memilih untuk relaks membaca novel. Dan saya memilih untuk membeli novel ini (saya tadinya padahal mau beli novel Just One Day).

Saya pun mulai membaca kisah Hanna, Kai, Gitta, dan Jun.

Saya kira awalnya ini kisah empat orang sahabat yang akhirnya jatuh cinta. Ya semacam formula seperti demikian. Ternyata tidak, ya. Mengisahkan dua pasangan yang menjadi sorotan, Hanna dan Kai, yang keduanya memiliki memar masing-masing. Hanna yang selalu ketakutan dengan sosok pria karena masa lalu yang membekas. Kai yang memiliki keluarga yang patah, sekaligus memandang wanita sebagai sosok manipulatif. Gitta yang pernah terjerat rayuan Kai dan akhirnya jadi teman satu band (dengan genre jaz) Kai bersama Jun. Di dada mereka tersimpan ketakutan tentang cinta. Dan dalam novel ini, ada pencapaian yang mereka lakukan.

Begitu lah secara besar garis ceritanya. Lalu, bagaimana dengan kelebihan dan kekurangan novel ini (sesuai dengan asumsi pribadi dan selera pribadi saya)?

Yang pertama, plusnya dulu yuk!
  1. Mbak Windry memiliki kosakata yang cukup kaya. Saya tidak bohong. Saya suka sekali bagaimana narasi yang dibuat oleh Mbak Windry di novel ini. Kesan angst langsung menyelimuti saat mulai membaca Interlude.
  2. Plotting yang cukup rapi. Jalinan cerita begitu rapi dan apik. Sehingga pembaca seperti saya merasa harus melahap novel ini dalam sekali duduk. Tidak menunda-nundanya lagi.
  3. Karakter yang kuat. Saya suka bagaimana sikap Hanna yang lugu dan polos. Saya suka bagaimana Gitta terkesan melindungi Hanna, juga Kai. Saya suka bagaimana karakter selain Kai-Hanna, Gitta-Jun, juga hidup. 

Lalu, saya kurang sreg dengan beberapa hal... seperti...
  1. Kai yang mencintai dunia hukum dan memiliki IP 4 dalam kurun waktu enam semester di FHUI. Entah ya. Saya juga anak UI. Sedikit banyak saya tahu di FH seperti apa. Betapa sulit mendapat nilai A di sana. Apalagi di sini setelah enam semester mendapat A, Kai memilih untuk cuti. Oh, well, asumsinya semua mata kuliah lulus. Dan... mungkin saja si Kai ini sudah lulus. Iya, lulus. Karena setahu saya di FHUI itu kemungkinan lulus tiga tahun itu ada, dan 3.5 tahun itu seperti lulus 4 tahunnya fakultas lain. Di sini rasanya agak aneh aja gitu. Terkesan Mbak Windry cuma asal tempel tanpa tahu keadaan aslinya seperti apa. Kurang riset. Padahal gampang aja untuk tanya di FHUI seperti apa. Tapi ya mungkin saja memang ada yang smart-arse itu seperti Kai. Atau setting waktunya yang tidak sekarang.
  2. Saya suka gaya cerita Mbak Windry, tapi terus terang dialog yang dipakai membuat saya enggan. Terlalu kaku dengan kau-aku. Rasanya aneh membaca percakapan mahasiswa yang demikian tidak luwes. Untungnya bahasa Mbak Windry begitu apik, jadi saya asumsikan saya baca novel terjemahan. Hahaha.
  3. Banyak yang tidak terselesaikan. Pandangan mahasiswa di kampus Hanna, bagaimana Ian setelah didamprat dari band, dan juga konflik yang terlalu cepat. Mungkin akan ada sekuel? Kalau iya, saya senang sekali hahahaha.

Mungkin demikian. Secara keseluruhan, saya berikan bintang tiga! :) I liked it!




18.4.14

[5] Song of Will by Jason Abdul








"Akan kuberitahu siapa yang kusukai."

William, harus melawan kesedihan setelah kepergian sahabatnya ke Swiss.

Laura, berpikir kecantikannya bisa memberi segala yang tak bisa diberikan keluarganya yang hidup sederhana.

Evan, berjuang melupakan masa lalu yang kelam saat hidup di jalanan.

Nana, belajar mengambil keputusan sulit untuk menyatukan kembali keluarganya yang berantakan.

Empat remaja yang berusaha memahami diri sendiri serta arti mencintai keluarga. 
Keempat-empatnya punya topeng yang ingin mereka lepaskan. 
Keempat-empatnya punya rahasia yang ingin mereka bagi. 

Sebab semua orang punya masa lalu. Dan mimpi


Song of Will, Jason Abdul
Moka Media


***

Ketika membaca sinopsis di belakang novel ini, saya langsung penasaran. FYI, saya juga sedang coba menyelesaikan naskah tentang empat orang sahabat (yang sudah ditagih oleh editor tapi tidak kunjung selesai karena sedang menyelesaikan skripsi... hiks). Mungkin saja novel ini bisa dijadikan referensi, hihihi. Tapi ternyata persoalan dan konfliknya beda. Apalagi ternyata ini masuk ke dalam cerita coming of age. Tapi, novel Song of Will ini bukan novel coming of age biasa yang menceritakan kisah cinta pada umumnya novel remaja Indonesia yang cenderung light dalam berkisah.

Novel ini menceritakan Will yang memiliki suara emas dan begitu tampan. Dapat dikatakan Will adalah salah satu cowok most wanted di sekolahnya. Pergejolakan batinnya dimulai ketika sahabatnya, Ben, pindah ke Swiss. Sampai akhirnya datanglah Evan aka "Evil" yang pindah ke sekolahnya dan sekelas. Evan adalah sahabat lama Will di SMP. Juga rentetan kejadian yang mengharuskan Will berkenalan dengan Nana di mana saat itu Nana "terpeleset". Serta Laura, perempuan yang begitu gemar berpetualang akan cinta.

Mau tahu serunya perjalanan mereka? Oh, you have to read by yourselves! :p

***

Baiklah, mari kita mulai me-review. Dan seperti biasa, saya selalu memulai dari bagian yang kurang saya sukai.

  1. Kekurangan dari novel ini adalah karakter yang tidak tergali. Mungkin saja ini hanya masalah selera dalam membaca. Tapi sayangnya tidak ada karakter yang likeable, hanya pada Laura saya menaruh simpati. Eksplorasi vocal group yang rasanya kurang. Sebagai penikmat musik (halah, gaya banget nih saya), harusnya bisa lebih digali. Hohoho
  2. Penulis rasanya bermain aman dengan konflik yang ada di dalam novel ini. Uh, saya memang terlalu menyukai "drama". Cukup disayangkan penulis tidak menggali lebih jauh konflik dalam diri Will, Laura, Evan, dan Nana. Eh tapi kalau konfliknya banyak, bukunya bakalan tebal dong ya.
  3. Setting. Jujur saja, saya tidak tahu di mana setting tempat novel ini. Mungkin saja saya yang skip membacanya? Tapi yang jelas saya tidak tahu di mana kota yang diambil penulis. Awalnya, saya ingin mengira ini di Jakarta. Tapi, ketika Will berbicara dengan Ben dengan "aku-kamu", rasanya tidak mungkin. Mungkin Bandung? Atau Jawa? Tapi rasanya hidup tokoh-tokohnya sudah dapat digolongkan modern
  4. Kalau yang keempat, rasanya hanya selera pribadi saya. Kenapa? Karena saya merasakan keganjilan ketika membaca novel ini. Dari halaman awal, saya merasa bahwa galau yang ditimbulkan Will terlalu "perempuan", sehingga saya tidak terkejut dengan twist yang dimaksud oleh penulis. Sebenarnya saya bingung, ini termasuk ke dalam kekurangan atau bukan ya? :D

Selesai untuk kekurangannya, sekarang kita lihat kelebihan novel ini! :)
  1. Dudeare you getting bored with light story in TeenLit? Kalau jawabannya ya, kamu bisa membaca novel ini karena jalinan cerita yang ditawarkan cukup berbeda. Mulai dari cerita anak jalanan, vocal group, permasalahan rumah tangga atau keluarga, bahkan (sial, ini spoiler kalau saya bilang... tapi saya bilang deh) orientasi seksual. Saya tidak heran, karena Jason Abdul di dalam ucapan terima kasihnya menulis sangat mengidolakan Melina Marchetta. Saya juga kok. TeenLit tulisan Melina Marchetta kan memang keren-keren! *ngajak Jason nge-fanboy*:)
  2. Novel yang semarak akan tokoh (ada empat lakon dan banyak sekali yang ikut bercerita di sini seperti keluarga tokoh-tokohnya), tidak membuat saya bingung dalam mengikuti cerita.
  3. Plot yang buat penasaran. Meski tadi saya sempat mengungkit bahwa saya tahu twist yang akan diberikan penulis, tapi saya masih belum tahu ke mana penulis akan membawa cerita, sehingga ketika membaca Song of Will, saya harus dalam sekali baca. Tidak menunda-nunda. Jadi, novel ini punya magnet.
  4. I love the cover! Beneran suka banget loh! Keren gitu. Eh ini tidak masuk dalam kelebihan novel ya? Hihihi. Tapi saya benar-benar suka! Meski sebenarnya "ide" cover novel ini sedang trend (seperti yang saya baca di Facebook-nya Jason Abdul sendiri, hehe).

Sebenarnya, saya di awal menduga bahwa Will ini penganut bromance. Tapi, makin ke halaman 45, saya rasa... Will ini 'bermasalah'. Dan, ternyata terbukti ya. 

Oh iya, saya baca review di Goodreads dan bilang kalau ini adalah naskah Jason Abdul sebelum jadi editor di TeenNoura. Jadi penasaran sekarang tulisan apalagi yang akan diberikan seorang Jason Abdul. Penasaran! :)

Terus berkarya! Suatu saat, kita ngobrol bareng yuk! Kemarin tidak sempat karena saya buru-buru pulang di JCC!


17.4.14

[4] Rapuh by Dodi Prananda




"Ada kebohongan dan kejujuran yang senantiasa mengelilingi kita. Begitu indahnya, sehingga kita tak tahu mana lagi batasan jelasnya. Antara diterima atau ditolak, semua abu-abu.

Ada skenario di antara sandiwara. Semua yang kita lihat dengan mata kepala sendiri, justru tidak pernah mencapai realita sesungguhnya. Ada sekenario dan ada sandiwara. Skandal.

Aku rapuh untuk menyadari semuanya. Aku terlanjur masuk ke dalam permainan ini. Sekarang hanya tinggal aku, menyelamatkan diri atau menjadi aktor yang akan menyelesaikan skenario ini. Tentu, dengan lebih banyak intrik atau justru bohong yang
dipercaya.".

Rapuh, Dodi Prananda
Wahyu Media



****


Blurb yang cukup menjanjikan. Apalagi saya juga satu fakultas dengan penulis (FYI, penulis ini jurusan Komunikasi 2011) dan gedung departemen saya ada di sampingnya. Sealmamater dan sama-sama suka menulis menyenangkan, bukan?

Oke, saya mugkin tidak akan membicarakan isi novel ini. Saya akan me-review kesan setelah saya membaca novel ini.

Jujur saja, di halaman pertama saya merasa disembur oleh penulis. Kenapa demikian? Karena terlalu banyak informasi yang diberikan. Penulis terkesan memberikan banyak keterangan sehingga saya sebagai pembaca jadi pusing. Saya menyayangkan hal itu. Mungkin jika cerita ini adalah jenis cerita pendek, mungkin bisa ditolerir. Tapi, ini novel. Jadinya ya saya hanya bisa mengernyit. Rasanya begitu aneh.

Selain itu,, penuturan sang tokoh utama bagi saya tidak tepat. Ya lagi-lagi masalah selera. Saya hanya berpendapat sesuai selera saya. Okelah si tokoh ini menggumam dalam hati? Ya sudah, kan pake PoV 1 toh? Masa ada penuturan lagi? Lalu, kadang juga samar dengan PoV 2 (bukan PoV 3 ya) ketika menyebut Gesa adalah 'kamu'. Naskah ini rasanya perlu banyak editing lagi agar  bulat.

Terus, saya sudah menduga adanya 'kejutan' yang dimaksud reviewers yang ada di Goodrads. Tapi, karena alur cerita yang patah dan tergesa, rasanya amat dipaksakan Karya yang bagus bukan karena ada twist, melainkan eksekusi yang baik. 

Ada kesalahan teknis yang fatal bagi saya, di mana setelah bab lima langsung bab tujuh.

Dan yang cukup mengganggu adalah banyaknya kalimat-kalimat tidak efektif yang jadi satu paragraf. Banyak koma, sehingga terkesan kalimatnya "muter-muter".

Konflik yang ada di novel ini juga terkesan menumpuk, dan porsinya agak aneh. Tapi ini hanya masalah selera baca saya saja. Saya sendiri tidak mengerti di mana klimaks novel ini, di mana penyelesaiannya. Rasanya blurry dan tidak jelas. 

Mungkin memang novel ini bukan selera saya saja.

Omong-omong, kata-kata di tiap awal bab itu bagus sekali. Sepertinya Dodi suka membuat puisi. Dan setelah melihat-lihat, Dodi cukup produktif menulis puisi dan cerpen. Tapi rasanya ada yang tidak sesuai ketika menaruh penggalan itu di novel ini.

PS: saya review dari segi pembaca ya. Untuk soal "menulis" sendiri, saya juga harus belajar banyak. Dan semoga kita juga saling belajar :)


[3] Cinta Emang Bego by Nikma TS



"Kuberi tahu kamu soal Febri, cowok yang gantengnya bisa bikin artis Korea langsung ingin operasi plastik lagi. Aku tergila-gila padanya. Peduli setan sohibku naksir dia. Aku nggak peduli status gebetanku di sekolah, nggak peduli mamaku mencak-mencak, nggak peduli brownies buatanku hangus demi cinta. Bahkan ketika gebetanku diam-diam punya rahasia, aku juga nggak peduli.

Kamu pikir cintaku bego? Emang!

Kamu baru tahu?"

Cinta Emang Bego, Nikma. TS
Moka Media


****

Ketika membaca blurb dari novel ini, yang langsung tercetak jelas di pikiran saya adalah novel komedi. Alih-alih saya menyimpulkan dari premis yang samar terbaca. Sebenarnya, genre komedi untuk sebuah novel bukanlah favorit atau selera saya. Tapi saya pun berusaha membacanya.

Jadi, di novel perdana Nikma. TS ini, menceritakan tentang Lintang yang tergila-gila oleh sekuriti sekolahnya. Dideskripsikan kalau sekuriti sekolahnya ini begitu ganteng, bahkan beberapa perempuan di sekolahnya juga ikut terpesona dengan outer yang dimiliki oleh Febri (nama sekuritinya).

Lintang pun harus susah payah mendapatkan cinta Febri. Apalagi sahabatnya di SMA, Virna, juga naksir dengan Febri. Bukan hanya itu, sahabat yang sudah menjelma rival itu lebih "berada" dibanding Lintang. Untungnya, Lintang memiliki kesempatan untuk dekat dengan Febri dengan menawarinya ngekost di rumahnya. Jadi, Lintang pun bisa dekat-dekat dengan Febri sepulang sekolah.

Seperti cerita coming of age pada umumnya, akhirnya Lintang dan Virna musuhan karena "rebutan" Febri. Mereka berdua mulai dengan rencana bagaimana bisa "menang" dalam duel yang berkobar.

Sampai akhirnya mereka tahu siapa Febri sesungguhnya.


****


Kekurangan dari novel besutan Nikma ini adalah bagaimana penulis tidak mengeksplor lebih jauh setting yang digunakan. Padahal, bagi saya pribadi Nikma bisa menyisipkan deskripsi yang baik soal Malang. Nikma hanya membuat setting jadi sebuah tempelan. Amat disayangkan karena bisa dieksplor lebih jauh. Mungkin karena terbiasa "bercerita layaknya diary" dengan menggunakan PoV 1. Narasi yang digunakan lebih banyak hanya tentang perasaan "Lintang", sedikit sekali menggunakan panca indera yang lain untuk membangkitkan suasana.

Konflik yang digunakan pun "teraba" oleh pembaca seperti saya. Bahkan, dengan mudah menebak apa yang ingin dijadikan twist oleh penulis. Jadi, ketika membaca sampai habis, sama sekali tidak terkejut. Mungkin karena klu yang dibuat memang diarahkan seperti itu ya.

Kelebihan dari novel ini adalah gaya menulis yang lincah dan mengalir. Bahkan, saya cukup kaget ketika bisa menyelesaikan novel yang bukan biasa jadi "makanan" saya. Artinya, penulis memiliki gaya menulis yang cukup baik sehingga saya bisa menyelesaikannya dengan cepat. 

Selain itu, saya benar-benar mengkhayalkan adegan komikal ketika Lintang bertanya pada Sandra tentang trik untuk menggaet cowok. Itu lucu banget buat saya. Apalagi pemilihan kata-kata "ngocol" seperti pepatah yang diplesetkan. Benar-benar buat meringis! :D


Untuk pendapat saya pribadi, walau penulis menggunakan PoV 1 di mana sehurusnya saya bisa ikut terhanyut dengan perasaan galau, sama sekali tidak bagi saya. Mungkin karena saya tidak terlalu menyukai genre ini. Karakter yang diciptakan juga tidak likeable, lagi-lagi karena bagi saya yang sudah berumur (kepala dua), sikap mereka kekanakkan. Termasuk Faundra yang sudah kuliah. Karakter yang ada masih perlu digali lebih dalam, sehingga pembaca dapat merasakan simpati.

Terlepas dari itu semua, saya rasa Nikma bisa menjadi penulis light comedy ala coming of age seperti Sophie Kinsella atau Mia Arsjad (saya baca novelnya bisa membuat pembaca tertawa lalu terisak sedih). Menulis kan memang proses. Untuk sebuah debut, saya sangat mengapresiasinya. Nikma juga harus banyak membaca novel-novel bagus sehingga memunculkan premis-premis novel light comedy yang enak untuk dibaca agar makin terasah. 

Semangat dan semoga karir menulis Nikma terus menanjak.

PS:
Saya boleh nggak sih jadi proofreader di Moka Media. Iseng, ketika membaca saya mencatat beberapa typo yang ada di novel ini. Hitung-hitung perbaikan untuk cetak ulang nanti. Hehehe.

  1. Pos satpam 4x4 meter rasanya berlebihan. Irasional deh kayaknya :)
  2. Penggunaan kata brownies, seharusnya brownies karena belum masuk padanan KBBI.
  3. pak Taufik > Pak Taufik (hal 2)
  4. But > But (hal 8)
  5. saliva > saliva (hal 9)
  6. cowok-cowok pacarmu > pacar-pacarmu (hal 11) 
  7. dibawanya > dibawa (hal 11)
  8. kami— di > kami—di (hal 14)
  9. ke17 > ke-17 (hal 23)
  10. mas > Mas (hal 29, 57)
  11. android > Android (hal 29)
  12. sorry > sorry (hal 41)
  13. jawa > Jawa (hal 42)
  14. bondo > bondo (hal 42) | Ini istilah Jawa (kalau iya, dimiringkan, kalau nggak, ya tetep typo untuk "bodoh".
  15. Smartphone > Smartphone (hal 43)
  16. mood > mood (hal 44)
  17. Ajrit > Anjrit (hal 45, kalau dilihat pemakaian kata anjrit pada halaman sebelumnya)
  18. eskul > ekskul (hal 49)
  19. Bahasa > bahasa (hal 50)
  20. nafas > napas (hal 50)
  21. hunting > hunting (hal 51)
  22. No, thanks > No, thanks. (hal 51)
  23. Deal > Deal (hal 51)
  24. Satpam > satpam (hal 52)
  25. nggak > tidak (inkonsistensi narasi) (hal 63, 68, 78, 168)
  26. kakak > Kakak (memanggil langsung) (hal 63)
  27. dia > ia (inkonsistensi) (hal 95, 126, 150, 156)
  28. bodo > bodoh (hal 67 dan yang lain *lupa catat*)
  29. kran > keran (hal 70)
  30. jogging > jogging (hal 72)
  31. suka rela > sukarela (hal 76)
  32. Enggak > nggak (inkonsistensi) (hal 95)
  33. sapu tangan > saputangan (hal 101)
  34. tanpak > tanpa (hal 107)
  35. pop corn > popcorn (hal 118)
  36. knop > kenop (hal 120)
  37. surah > surat (hal 122)
  38. laptop > laptop (hal 129, 130)
  39. type > tipe (hal 142)
  40. Ferbri > Febri (hal 143)
  41. ha > kata "ha" dihapus (hal 150)
  42. ya" > ya," (akhir kalimat langsung) (hal 152)
  43. adiknya > adiknya." (akhir kalimat langsung) (hal 152)
  44. sungguh > Sungguh (hal 160)
  45. band > band (tergantung bahasa selingkung penerbit sih hehe) (hal 171)


16.4.14

[2] Pasung Jiwa by Okky Madasari




Apakah kehendak bebas benar-benar ada?
Apakah manusia bebas benar-benar ada?


Okky Madasari mengemukakan pertanyaan-pertanyaan besar dari manusia dan kemanusiaan dalam novel ini.


Melalui dua tokoh utama, Sasana dan Jaka Wani, dihadirkan pergulatan manusia dalam mencari kebebasan dan melepaskan diri dari segala kungkungan. Mulai dari kungkungan tubuh dan pikiran, kungkungan tradisi dan keluarga, kungkungan norma dan agama, hingga dominasi ekonomi dan belenggu kekuasaan. 

Pasung Jiwa, Okky Madasari
Gramedia Pustaka Utama


***

Ini adalah karya kedua Okky Madasari yang saya baca setelah "Maryam" yang saya berikan bintang tiga.

Jika dilihat di-review yang ada pada "Maryam", nampaknya banyak yang kecewa. Mungkin mereka sudah membaca "Entrok" dan "86", sedangkan saya belum.

Sampai saya memutuskan untuk membeli (lumayan dapat diskon 20%) dan membaca buku ini. Penasaran juga, karena sebenarnya banyak yang ngefans dengan gaya penulisan Mbak Okky.

Dari awal halaman saja, saya merasakan hanyut akan kegelisahan-kegelisahan yang diungkapkan Sasana. Bagaimana doktrin dibuat, bagaimana seorang Sasana yang pandai main piano justru jatuh cinta dengan dangdut. Entahlah, kegamangan itu rasanya sampai pada saya. 

Sampai akhirnya Sasana dikirim ke Malang dan bertemu dengan Jaka Wani (Cak Jek). Sasana menjelma menjadi Sasa sang biduan dengan Cak Jek yang ikut berdalih dalam hal tersebut.

Hal ini pun juga dipertanyakan Jaka Wani tentang ketidakadilan yang seringkali didapati oleh kaum yang terpinggirkan: buruh.

Akhir dari cerita ini pun nampaknya sengaja penulis hadirkan dengan tanpa penyelesaian konflik, mengingat isu yang diangkat adalah tentang isu sosial mengenai "kebebasan". Saya sendiri tidak mau memberikan spoiler karena biar Anda sendiri deh yang membaca bagaimana penulis ini begitu "mahir".

Cerita buku ini cukup panjang dan sedikit lebih menggambarkan potret negeri ini pula. Entahlah, sebenarnya saya tidak terlalu suka membaca sesuatu dengan topik waria atau LGBT. Tetapi di sini, penulis sangat mahir membangkitkan kegelisahan itu juga pada saya. Banyak kali pertanyaan yang membuat saya tak nyaman seperti yang saya tanyakan pada diri saya sendiri: "Bagaimana jika itu juga terjadi pada saya..."

Plot yang disajikan pun juga apik dan memiliki kesan "bulat" bagi saya. Sistematika dalam novel ini pun menyenangkan. Jujur saja, saya memang terbiasa membaca dalam kurun waktu yang singkat, tetapi jarang sekali punya hasrat "harus sekali diselesaikan".

Tapi mungkin memang review yang hadir pun tergantung selera. Dan bagi saya, novel ini sangat recommended. Iya, saya benar-benar kasih 5 bintang! 

Menyenangkan sekali membaca buku ini. Mungkin saya jadi fans berat Mbak Okky sekarang. Hmm.. tinggal mengumpulkan uang untuk beli "Entrok" dan "86"!